Walmart, sebuah jaringan hypermarket di Amerika menawarkan paket obat dengan harga $4 untuk pemakaian selama sebulan. Jenis penyakit yang di cover ada berbagai macam. Dan obat yang dipakai adalah obat generik. Mereka menamakan program ini dengan sebutan $4 prescription.
Apakah ini sebuah strategi marketing yang inovatif? Tunggu dulu.
Di Indonesia praktek demikian juga dilakukan oleh sejawat dokter yang juga berdagang obat (dispensing). Para dokter yang melakukan dispensing biasanya mematok tarif tertentu untuk jenis penyakit tertentu. Saya pernah punya pengalaman. Sewaktu asisten (pembantu) rumah tangga saya terkena demam dia pergi ke praktek dokter 24 jam. Dia didiagnosa terkena infeksi dan mendapatkan antibiotik (amoksisilin) dan analgesik (metampiron). Tarif yang dikenakan Rp. 100.000 (termasuk jasa dokter) dengan obat branded generik produksi perusahaan farmasi papan bawah. Istri saya juga pernah punya pengalaman. Sewaktu membersihkan karang gigi dia diberi paket obat branded generik yang terdiri dari metronidazole dan asam mefenamat produksi perusahaan farmasi papan bawah. Harga obatnya Rp. 150.000 (diluar jasa dokter).
Mahal ya?
Kedua contoh diatas semestinya bisa menjadi inspirasi bagi sejawat yang berpraktek di apotek. Mengapa tidak menjadikan cara Walmart dan cara dokter berdagang obat sebagai benchmark di apotek sejawat ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Leave a comment