Praktek apoteker di apotek memang masih jauh panggang dari api. Eksistensi apoteker belum terlihat secara eksplisit. Pada umumnya kegiatan apotek yang menonjol adalah kegiatan jual beli. Tidak berbeda dengan toko obat. Malangnya, karena longgarnya pengawasan, sebagian konsumen lebih memilih membeli obat (dengan resep dokter) di toko obat daripada apotek dengan alasan klasik, harganya lebih murah.
Membandingkan apotek dengan toko obat memang tidak relevan. Toko obat semestinya hanya menjual obat bebas dan obat bebas terbatas saja. Tapi itulah Indonesia. Banyak toko obat yang menyediakan obat lebih lengkap dibanding apotek. Seolah peraturan dibuat untuk dilanggar. Meski jelas jelas terjadi penyimpangan tetap saja bisa berjalan dengan khidmat.
Toko obat, sesuai predikatnya, memang usaha dagang. Perputaran persediaan menjadi key succes factor. Bahkan untuk kepentingan persaingan margin laba kalau perlu ditekan asal perputarannya cepat. Toko obat bisa menekan biaya karena tenaga kerjanya tidak perlu kualifikasi khusus. Maka dari itu kalau apotek harus berkompetisi dengan toko obat jelas berat.
Menghadapi situasi seperti itu kita harus mempunyai strategi. Menganggap toko obat sebagai pesaing jelas keliru. Apotek adalah tempat pengabdian profesi. Bahwa ada proses jual beli memang tidak bisa dipungkiri. Namun kalau kita mengedepankan proses jual beli pasti akan head to head dengan toko obat.
Cara efektif untuk menghindarinya adalah dengan menciptakan value. Menurut difinisi value adalah nilai yang didapat dari biaya yang dikeluarkan. Value merupakan kombinasi dari merek, pelayanan dan proses.
Merek apotek sama dengan nama apotek. Untuk membangun merek yang kuat dibutuhkan pelayanan yang prima dan ini dapat tercapai bila prosesnya telah dibakukan. Bentuk pelayanan di apotek yang paling esensial adalah pemberian informasi yang memadai tentang obat yang dibeli. Disinilah bedanya toko obat dengan apotek. Toko obat biasanya selalu ditunggui oleh pemiliknya. Peran pemilik untuk mengarahkan konsumen sangat kentara. Konsumen bisa beralih merek atau jenis obat yang akan dibeli karena pengaruhnya.
Saya yakin di apotek yang apotekernya berperan aktif bentuk pelayanannya pasti berbeda dengan yang apotekernya pasif. Interaksi antara konsumen dengan apoteker akan terwujud bila apotekernya selalu berada di apotek. Keberhasilan menciptakan value merupakan perwujudan merubah transaksi jual beli barang menjadi jual beli jasa. Konsumen datang ke apotek bukan hanya membeli obat saja tetapi membeli informasi dan obat.
Jadi mudah difahami kalau program tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP) memang sudah saatnya diterapkan bukan ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
[...] Pemberian asuhan kefarmasian adalah kompetensi khas seorang apoteker. Pekerjaan ini tidak bisa didelegasikan kepada siapapun kecuali kepada sesama apoteker. Dengan begitu maka no pharmacist no service adalah suatu hal yang mutlak. Dari prespektif persaingan, hal tersebut merupakan value driven strategy. [...]
[...] Pola pikir cost reduction harus dilawan dengan pola pikir value creation. Apoteker memiliki bekal yang sangat memadai untuk menciptakan nilai. Melalui penerapan no pharmacist no service terbuka kesempatan bagi apoteker untuk menciptakan nilai. [...]
[...] Melihat pola yang demikian maka kita harus mampu menciptakan competitive differentiator. Salah satunya, dan mungkin yang paling dominan, adalah dengan menciptakan nilai melalui content. Dalam kaitannya dengan hal tersebut maka, pilihannya tidak lain adalah penerapan no pharmacist no service dengan mengedapankan asuhan kefarmasian seperti yang pernah saya uraikan di artikel yang bertajuk TATAP = Value Driven Strategy. [...]