Saya menerima sms dari salah seorang sejawat apoteker tentang no pharmacist no service atau tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP). Kata dia kalau semua apotek milik apoteker, bisa saja program itu dijalankan. Kalau ndak, gaji apoteker harus dinaikkan dulu biar cucuk.

Menurut saya, keluhan tersebut wajar wajar saja. Bila jam kerja apotek 14 jam per hari dan apoteker harus berada di apotek dengan gaji standar UMR, mana tahan?

Setelah membaca sms tadi timbul ide dalam benak saya. Mengapa para apoteker tidak membuka praktek apoteker bersama? Seperti halnya pengacara. Pertanyaannya, apakah mungkin bagi apotek menampung lebih dari satu apoteker? Wong menggaji satu apoteker saja sudah kebanyakan.

Mengapa tidak ? Tengok saja beberapa apotek jaringan berskala besar. Selama apotek buka selalu ada apoteker yang standby. Dengan demikian paling tidak ada 2 apoteker jika jam kerja apotek antara jam 07.00 s/d 21.00. Hanya saja karena nama apotek tidak identik dengan nama apotekernya maka masyarakat tidak semuanya tahu dan karenanya kurang mengapresiasi.

Saya mencoba membuat kalkulasi sederhana. Apabila sebuah apotek sudah bisa memperoleh omzet rata-rata Rp. 5 juta perhari, atau Rp. 125 juta perbulan dengan margin keuntungan kotor 25% mestinya sudah mampu menjalankan no pharmacist no service.

Bayangan saya biaya tetap apotek tersebut tidak lebih dari Rp. 5 juta dan biaya variabel dengan 1 apoteker berkisar Rp. 12,5 juta. Jadi bila apotekernya bertambah 1 orang maka biaya variabel akan bertambah maksimal Rp. 2,5 juta.

Awalnya penambahan biaya pasti akan mengurangi keuntungan bersih. Tapi dengan adanya tambahan pelayanan saya yakin omzet akan bertambah juga. Sehingga keuntungan bersih juga bertambah. Jadi secara ekonomis sangat dimungkinkan bukan ?

Masalah klasik yang kemudian muncul adalah banyak apotek yang PSA nya bukan apoteker sehingga tidak memiliki idealisme seperti kita. Alih alih menambah apoteker, kalau bisa omzet bertambah tanpa harus menambah pegawai.

Namun saya yakin banyak sejawat yang juga PSA dan berhasil pula. Artinya kepada merekalah kita berharap untuk bisa menjadi pioner. Tambahlah satu atau dua apoteker. Pasanglah papan nama yang mencantumkan nama-nama para apoteker dan jam kerjanya. Pilihlah tempat yang eye catching untuk memajang papan nama tersebut. Lambat laun pasti masyarakat akan tahu dan memanfaatkannya. Nah, dengan begitu apa omzet tidak meningkat ?

Possibly Related Posts: