Pagi ini, seperti biasa, saya membuka beberapa situs berita sekedar untuk meng update informasi. Salah satu berita yang menarik perhatian saya adalah kelangkaan obat generik di Kendari. Dikatakan dalam situs tersebut bahwa amoksisilin adalah salah satu obat yang langka.
Kabar mengenai kelangkaan obat generik tertentu di pasar sebenarnya sudah lama terdengar, terutama sejak Pemerintah menurunkan harga secara bermakna pada pertengahan tahun 2006 yang lalu. Kita tahu bahwa harga jual obat generik ditentukan oleh Pemerintah. Sejak era Pemerintahan sekarang, Departemen Kesehatan memang rajin membuat kebijakan yang pro rakyat, seperti penurunan harga tadi.
Mengapa obat generik tertentu sampai langka di pasar? Penyebabnya sederhana saja. Harga bahan baku mengalami kenaikan tapi harga jual produk jadi tetap. Saya yakin selagi masih ada keuntungan, pabrikan pasti akan tetap memproduksi. Bagi pabrikan tidak alasan untuk berhenti berproduksi selagi kapasitas masih tersedia. Bahkan kalau perlu maklon ke pabrik lain bila kekurangan kapasitas.
Khusus untuk kelangkaan amoksisilin mungkin bisa dijelaskan sebagai berikut. Pada saat terakhir Pemerintah menurunkan harga, bahan baku amoksisilin masih berharga 26 USD per kg atau kalau di rupiahkan jatuhnya sekitar Rp. 280.000. Untuk memproduksi amoksisilin 500 mg dibutuhkan bahan baku aktif sekitar 580 mg yang kalau dinilai harganya sama dengan Rp 162,4 per kaplet. Bahan baku lain, kemasan, ongkos produksi dan keuntungan pabrik sekitar Rp. 70 sehingga harga pokoknya sama dengan Rp 232,4. Bila harga netto apotek amoksisilin seperti sekarang, Rp. 30.000 per box @ 100 kaplet termasuk Ppn maka harga perhitungan diatas masih oke.
Tetapi harga bahan baku amoksisilin ternyata mengalami fluktuasi. Sejak kwartal terakhir 2006 harga mengalami kenaikan terus, bahkan pada tahun 2007 harga pernah mencapai 60 USD. Terakhir pada februari sekitar 38 USD. Itupun masih belum stabil. Dengan patokan harga jual sekarang, pabrik masih akan berproduksi bila harga bahan bakunya paling tinggi 36 USD.
Selain karena faktor harga bahan baku, kelangkaan produk jadi juga bisa disebabkan karena kelangkaan bahan baku akibat minimnya jumlah produsen. Seperti misalnya ekstrak beladon. Untuk kasus yang seperti ini kita tidak bisa berbuat apa apa karena seluruh bahan baku obat masih harus di impor.
Kelangkaan beberapa jenis obat generik yang kasusnya seperti amoksisilin akan dicoba diatasi oleh Pemerintah dengan cara mengimpor produk jadi. Cara ini efektif untuk jangka pendek tapi merugikan untuk jangka panjang. Produsen dari Cina maupun India akan sangat tertarik untuk menjadi pemasok mengingat Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi mereka. Bahkan kalau perlu dumping agar harganya sesuai dengan standar Pemerintah. Kalau ini terjadi bukan tidak mungkin produsen lokal akan gulung tikar, dan pada saatnya kelak kita akan tergantung penuh pada produk impor.
Jadi, kalau permasalahannya karena harga yang fluktuatif, saya kira tindakan impor bukan penyelesaian yang tepat. Cara yang paling efektif adalah mengoreksi kembali harga jual. Tidak populer memang, tapi apa boleh buat ?
Possibly Related Posts:
- Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep
- Produk Baru, Manfaat atau Masalah Baru ?
- GPP dan Penanggulangan Obat Palsu
- Polemik Puyer Menegaskan Pentingnya No Pharmacist No Service
- Siapa Menikmati Polemik Puyer?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Leave a comment