Sewaktu menulis kata obat generik di mesin pencari  Google untuk kategori pencarian  blog, saya menemukan kalimat Kiat Hemat Biaya Obat. Saat saya klik ternyata masuk ke alamat ngecap.multiply.com. Karena penasaran saya baca lebih lanjut. Ternyata lagi, tulisan itu dikutip dari situsnya Johan Romadhon. Jadi penulisnya adalah Johan Romadhon.

Di blog beliau ada seri tulisan lain tentang menjadi konsumen kesehatan yang cerdas. Saya berasumsi Pak Johan bukan seorang apoteker. Beliau menulis topik tersebut karena pengalaman dan kepeduliannya terhadap sesama. Bisa dibayangkan berapa cepat informasi itu menyebar, belum lagi kalau ada situs atau blog lain yang ikut menyebarluaskan.

Contoh diatas merupakan bukti kongkrit bahwa konsumen kita makin kritis. Penyebabnya disamping karena pasokan informasi yang melimpah juga disebabkan karena tekanan ekonomi. Mahalnya harga obat karena sistem asuransi kesehatan belum menyentuh mayoritas penduduk, sehingga konsumen harus menanggung sendiri biaya obat yang di konsumsi.

Fenomena semakin kritisnya konsumen perlu disikapi dengan serius oleh profesi kita. Membiarkan mereka kreatif tanpa pengawasan sangat berbahaya. Tengok saja saran Pak Johan sebagai berikut :

Nah, yang terakhir. Kalau memang anda harus mengkonsumsi obat-obatan khusus secara teratur (asma, misalnya), ada kiat tambahan. Tanya ke Apotek atau Toko Obat langganan anda, apa punya Obat yang sama persis tapi buatan pabrik dari Luar Negeri. Lho, kok bisa? Bisa aja. Meskipun ini selundupan, tapi kita butuh, gimana lagi? Sebagai keluarga asma, pengeluaran obat Asma keluarga saya lumayan besar. Kiat ini saya jalankan betul untuk menghemat. Biasanya kami pakai Ventolin, obat Asma Spray buatan GlaxoSmith. Terakhir beli, harga Made In Indonesia Rp 70.000/tabung. Made In Australia Rp 40.000. Made In Pakistan hanya Rp 25.000. Hanya saja yang made in luar negeri ini gak selalu ada, jadi agak susah nyarinya

Banyak pertanyaan yang harus dijawab dari saran beliau, meskipun beliau sendiri mengakui kalau obat itu obat selundupan.

Kesimpulannya, sebagai apoteker kita harus mendampingi Pak Johan dan Pak Johan-Pak Johan yang lain dalam mengambil keputusan. Perubahan orientasi profesi apoteker dari produk ke pasien wujud kongkritnya adalah memberikan asupan tentang obat dan seluk beluknya kepada pasien melalui asuhan kefarmasian.

Oleh karena itu tidak ada cara lain kecuali kita selalu berada di apotek saat apotek buka.

Possibly Related Posts: