Archive for March, 2008

Wahana Apotek

Sebuah pusat rekreasi berkonsep edutainment, Kidzania, pada tanggal 24 Maret 2008 yang lalu telah membuka wahana apotek. Di wahana ini anak anak diberi kesempatan untuk mengenal peran dan fungsi profesi apoteker.

Kidzania yang berlokasi di kawasan SCBD Sudirman Jakarta, dibangun khusus menyerupai replika sebuah kota yang sesungguhnya, namun dalam ukuran anak-anak, lengkap dengan jalan raya, bangunan, ritel juga berbagai kendaran yang berjalan di sekeliling kota. Di kota ini, anak-anak memainkan peran orang dewasa sambil mempelajari berbagai profesi. Selain apoteker ada juga profesi dokter, pilot, pekerja konstruksi, detektif swasta, arkeolog, pembalap F1 dan lebih dari 100 jenis profesi dan pekerjaan orang dewasa lainnya. Di Kidzania juga terdapat bangunan-bangunan yang umumnya terdapat di sebuah kota, seperti Rumah Sakit, Supermarket, Salon, Teater, Kawasan Industri, dan banyak lagi.

Wahana apotek di sponsori oleh PT Dexa Medica, sebuah perusahaan obat papan atas dari Palembang. Saya kira inilah salah satu contoh bentuk kreatifitas perusahaan dalam mengiklankan diriniya. Banyak dimensi yang dapat direngkuh melalui cara seperti ini. Dari sisi bisnis sangat jelas maknanya. Pengalaman anak anak yang berkunjung ke wahana apotek akan membekas sampai mereka dewasa. Brand Dexa Medica pasti akan masuk dalam memori mereka. Bagi orang tua yang mengantarkan juga akan berdampak. Apalagi di wahana tersebut pasti banyak dipamerkan produk produk OTC untuk anak anak produksi Dexa Medica.

Dan yang pasti, bagi para apoteker, pembukaan wahana apotek yang di sponsori oleh Dexa Medica juga merupakan bentuk apresiasi. Pengenalan profesi melalui anak anak jauh lebih efektif sehingga dalam jangka panjang masyarakat akan lebih mengenal apoteker.

Terimakasih kepada Dexa Medica, khususnya kepada senior kita Drs Rudy Soetikno Apt sebagai founding father Dexa Medica.

Possibly Related Posts:


Even If you have nothing, you can get anything…

Saya menerima email dari seorang teman yang berisi cerita tentang seorang ayah dari seorang pemuda yang ingin menjodohkannya dengan anak gadis Bill Gates. Cerita tersebut lengkapnya sebagai berikut :

Father : “I want you to marry a girl of my choice”.

Son : “I will choose my own bride!”

Father : ” But the girl is Bill Gate’s daughter”

Son : ” Well, in this case .. ok”. Next, father approach Bill Gates

Father : “I have a husband for your daughter”

Bill Gates : “But my daughter is too young to marry”

Father : “But this young man is a vice president of the World Bank”

Bill Gates : “Well, in that case.. ok”.

Finally father goes to The President of The World Bank.

Father : “I have young man to be recommended as a vice president”.

President : “But I already have more vice president than I need!”

Father : “But this young man is Bill Gate’s son in law”.

President :”Ah, in that case…ok”.

This is how business is done!!

Cerita tersebut jelas fiktif tapi inspiratif. Sengaja saya mengangkat cerita tersebut dalam portal ini agar bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya bagi sejawat yang memiliki cita cita memiliki apotek sendiri. Bahkan ketika kita tidak punya apapun, kita bisa mendapatkan segalanya. Itulah moral cerita diatas.

Nah kalau sejawat ingin mempunyai apotek sendiri, berlakukah seperti ayah si pemuda. Mudah bukan ?

Possibly Related Posts:


Krisis Ekonomi Jilid 2

Kali ini saya ingin mengulas topik yang agak meleceng dari biasanya, yaitu ihwal krisis ekonomi. Menurut saya hal ini bisa menjadi tambahan informasi khususnya bagi sejawat yang berpraktek di apotek.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, tepatnya pertengahan tahun 1997, Indonesia terkena krisis ekonomi. Hal yang sangat mudah dirasakan adalah merosotnya nilai tukar Rupiah, melambungnya harga-harga, tingginya laju inflasi, meningkatnya pengangguran, menurunnya daya beli dan seterusnya. Bahkan akibat krisis tersebut negara kita akhirnya mengalami komplikasi. Terjadi krisis multidimensi yang sifatnya berkepanjangan karena sampai dengan saat inipun dampaknya masih saja terasa.

Belum lagi krisis ekonomi jilid 1 usai, sudah terdengar kabar akan terbitnya krisis ekonomi jilid 2. Ini bisa terjadi karena negara kita tidak bisa terlepas dari pengaruh dunia. Saat sekarang kondisi pasar keuangan global sedang labil.  Indikasinya adalah melambungnya harga komoditas utama dunia dan melemahnya mata uang US. Kedua faktor tersebut telah menciptakan suatu potensi kuat untuk terjadinya krisis keuangan global secara sistemik.

Di dalam negeri, ada tiga faktor utama yang dapat dijadikan patokan sederhana dalam melihat potensi krisis kali ini yaitu kondisi pasar modal, tingkat suku bunga BI dan nilai tukar Rupiah. Banyak analis mengatakan bahwa pertumbuhan pasar modal Indonesia lebih didominasi oleh masuknya dana asing ke dalam bursa. Mengapa demikian ? Indeks akan sangat mudah berfluktuasi bila dana asingnya keluar.

Kebijakan BI untuk mempertahankan suku bunga SBI pada tingkat 8% ditafsirkan oleh analis sebagai upaya untuk mempertahankan dana asing agar lebih betah tinggal di Indonesia. Tentu saja biayanya mahal karena  suku bunga pinjaman menjadi tetap tinggi.

Mempertahankan nilai tukar rupaih pada kisaran Rp 9000 per USD juga dinilai tidak tepat. Tindakan ini hanya cukup untuk menjaga wibawa otoritas keuangan Indonesia. Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya tanpa menciptakan manfaat yang jelas. Kegiatan ini juga terlihat hanya untuk menciptakan situasi yang menyenangkan bagi deposan besar dari pihak asing. Kembali lagi, terlihat seperti berharap dapat memikat dana asing untuk tetap parkir di Indonesia. Sewajarnya Rupiah mengalami penurunan yang alami seiring meningkatnya harga komoditi utama di pasaran dunia.

Dari ketiga faktor tersebut, semuanya memiliki keterikatan dengan kondisi perekonomian global. Dan kita perlu waspada karena krisis besar di tingkat global akan secara langsung mengganggu perekonomian Indonesia.

Nah dari uraian dan analisis diatas, apa yang perlu kita persiapkan agar apotek tempat kita berpraktek bisa bertahan ?

Possibly Related Posts:


$4 Prescription, Menghemat $1 Miliar

Luar biasa.

Program Wal-Mart’s yang mereka namakan $4 Prescription mampu menghemat belanja komsumen senilai $ 1 miliar atau kurang lebih Rp. 9,2 trilyun selama tahun 2007 ! Program tersebut, pertama kali diluncurkan pada bulan September 2007 yang lalu, menawarkan  diskon untuk 361 resep dari berbagai formula yang berbeda untuk 157 macam obat generik. Hampir semuanya berharga $ 4 untuk 30 hari pemakaian dan $ 9 untuk beberapa macam obat KB.

Cara mereka mendapatkan penghematan adalah dengan menekan kompetitor untuk menurunkan harga resep yang memakai obat generik di satu sisi dan di sisi yang lain mengungkit daya beli untuk menekan agar harga turun. Manajemen Wal-Mart menghitung penghematan dengan membandingkan rata rata pengobatan dengan program ini sebelum dan sesudah mereka memulainya.  

Beginilah contoh kongkrit bila apoteker boleh mengganti merek dagang obat yang di resepkan oleh dokter.

Masak iya sih masih ragu ? 

(sumber tulisan diambil dari sini)

Possibly Related Posts:


Paradigma Baru Apotek

Tidak bisa dipungkiri bahwa kegiatan utama di apotek adalah transaksi dagang baik yang bersumber dari obat-obat bebas atau consumer good dan penjualan obat ethical dari resep dokter yang masuk. Meski pada akhirnya untuk mengukur kinerja apotek adalah total penjualan, namun pertumbuhan penjualan dari resep dokter tetap merupakan tolok ukur yang dominan untuk melihat keberhasilan apotek.

Tidak ada yang keliru dengan cara pandang diatas. Fakta bahwa kegiatan dagang lebih dominan tidak perlu dibantah. Jumlah resep yang masuk per hari atau per bulan yang  sering dijadikan alat untuk melihat kinerja apotek juga relevan karena logikanya di apotek kontribusi pendapatan dari resep harus lebih tinggi dari lainnya. Ujung ujungnya kalau total penjualan menjadi patokan keberhasilan sebuah apotek juga sah sah saja.

Namun kalau hanya kedua hal diatas yang dijadikan alat ukur kesuksesan sebuah apotek maka akan semakin memperkuat positioning apotek sebagai usaha dagang. Padahal, apotek adalah tempat pengabdian profesi apoteker. Jadi seharusnya unsur jasa lebih dominan. Keputusan konsumen membeli obat di apotek semestinya diambil setelah melalui proses konsultasi. Anologinya bisa dibandingkan dengan orang yang akan membeli handphone.  Sebelum membeli handphone biasanya konsumen mengumpulkan informasi dulu tentang merek, fitur dan harga handphone yang akan kita beli. Pada saat datang ke toko handphone konsumen akan bertanya kembali tentang handphone pilihannya. Seringkali  petugas yang ada di toko handphone memberikan alternatif dengan berbagai pertimbangan. Bukan tidak mungkin pilihan dijatuhkan sesuai dengan saran petugas.

Mengelola usaha dagang berbeda dengan mengelola jasa. Karena sifatnya, apotek memang merupakan kombinasi antara usaha dagang dan jasa, tetapi unsur jasa lebih mestinya lebih dominan.

Untuk mengubah kondisi demikian, perlu dirumuskan kembali paradigma  tentang apotek. Dalam paradigma baru tersebut ukuran keberhasilan apotek harus lebih didasarkan pada perbaikan kondisi  pasien karena pelayanan apotek. Dengan demikian menjadi jelas positioningnya. Pasien datang ke apotek tidak hanya mendapatkan obat tetapi juga informasi yang memadai tentang khasiat, efek samping, interaksi maupun dosis obat yang didapatkan. Bahkan kalau perlu apotek memberikan pelayanan purna jual. Beberapa waktu setelah pasien mendapatkan obat, apoteker menelpon pasien untuk mengetahui kondisinya.

Dengan paradigma baru ini konsumen akan memperlakukan apotek bukan hanya tempat membeli obat, tapi lebih kepada mencari solusi atas masalah kesehatan yang dihadapi. Bahwa kalau pada akhirnya konsumen membeli obat, itu karena efek samping.

Menarik bukan ?

Possibly Related Posts: