Masih mengenai obat generik. Kali ini Menkes mengeluhkan bahwa sebagian besar apotek tidak menyediakan obat generik. Tulisan lengkapnya silahkan klik disini. Saya yakin pernyataan Menkes tidak salah. Kalaupun mau diperhalus barangkali pernyataannya menjadi sebagian besar apotek tidak menyediakan obat generik secara lengkap.
Permasalahan mengenai ketersediaan obat generik di apotek sebenarnya bukan hal baru. Pada awal diluncurkannya obat generik, sekitar akhir tahun 80 an, pembuat kebijakan sudah memprediksi hal ini. Mereka memperhitungkan agar obat generik yang berharga murah menarik secara bisnis, maka apotek sebagai salah satu channel distribusi perlu mendapatkan insentif. Caranya, harga eceran tertinggi obat generik yang ditetapkan Pemerintah memungkinkan apotek mendapatkan margin keutungan (dalam persentase) yang lebih tinggi dibanding obat bermerek.
Kalau hampir 20 tahun kemudian obat generik distribusinya belum merata apanya yang salah ? Hukum supply and demand dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut. Produksi jelas akan menyesuaikan konsumsi. Bahwa apotek banyak yang tidak menyediakan obat generik apa berarti produksinya yang kurang ? Maybe. Mengapa ? Bisa jadi karena kelangkaan bahan baku. Mengapa ? Bisa karena tidak ada yang produksi atau ada tetapi harga bahan bakunya tinggi. Kita tahu bahwa harga obat generik ditetapkan oleh Pemerintah, dan 3 tahun terakhir ini harganya bukan naik malah turun.
Kalau produksi cukup mengapa distribusinya tidak sampai ke apotek ? Kemungkinan terbesar adalah permintaannya yang kurang. Mengapa ? Jelas karena sedikit sekali dokter yang meresepkan. Mengapa ? Katanya karena sosialisainya (baca pemasarannya) yang kurang. Mengapa ? Katanya kalau produsen harus mensosialisasikan sendiri tidak mampu karena dalam struktur harga obat generik, biaya promosinya kecil sekali. Produsen mengharap Pemerintah yang seharusnya gencar mensosialisasikan.
Jadi, bagaimana solusinya ? Kalau kita berpikir sederhana akan mudah menyelesaikannya. Permasalahan menjadi komplek karena apoteker tidak boleh mengganti merek obat yang diresepkan oleh dokter. Karena alasan itu, apotek harus menyediakan stok yang lengkap. Resiko yang ditanggung apotek adalah rendahnya perputaran persediaan kalau dokter beralih merek. Nah kalau apoteker boleh mengganti merek obat maka persediaan obat generik di apotek pasti akan lengkap.
Possibly Related Posts:
- Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep
- Produk Baru, Manfaat atau Masalah Baru ?
- GPP dan Penanggulangan Obat Palsu
- Polemik Puyer Menegaskan Pentingnya No Pharmacist No Service
- Siapa Menikmati Polemik Puyer?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Leave a comment