Di harian Kompas edisi Sabtu 15 Maret 2008 muncul lagi sebuah iklan apotek jaringan. Dalam iklan tersebut digambarkan ular yang melingkar di gelas (logo apotek pada umumnya) bergerak meninggalkan gelasnya menuju ke Apotek C*****y. Maunya jelas, tapi pesannya kabur. Masak yang menuju ke apotek kok ularnya ? Jadi, nggak salah kalau ditafsirkan apotek tersebut adalah apotek pilihan apotek (seperti jeruk makan jeruk …).

Salah satu dampak industrialisasi apotek adalah persaingan antar apotek yang makin keras. Untuk menghadapinya, mereka yang sudah termasuk dalam jaringan biasanya menggunakan iklan untuk berpromosi. Meski secara etika iklan tidak diperbolehkan, tapi apa boleh dikata banyak juga yang melanggar. Sebabnya, karena pelanggaran etika hanya memiliki sangsi moral.

Bila terpaksa harus beriklan, sebenarnya ada cara lain yang lebih elegan. Orang jawa bilang ngono yo ngono ning ojo ngono. Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Dalam dunia periklanan ada istilah public service advertising atau iklan layanan masyarakat. Nah, kalau apotek mau beriklan sangat tepat kalau memakai media ini. Misalnya, iklan tentang kiat membeli obat dengan cerdas. Isinya tentu saja edukasi kepada konsumen agar tidak membeli obat kecuali di apotek. Ujung-ujungnya tetap menyebutkan nama apotek yang beriklan.

Untuk apotek yang ada di komplek perumahan lebih mudah. Karena jangkauannya sebatas area komplek maka apotek tersebut bisa membuat brosur iklan layanan masyarakat yang berisi cara pencegahan demam berdarah misalnya. Penyebarannya  bisa dititipkan lewat loper koran. Cara ini sangat efektif untuk membangun citra apotek.

Ada banyak lagi cara beriklan yang bersifat layanan masyarakat. Tinggal bagaimana kita menggali kreatifitas kita.

Mau mencoba ?

Possibly Related Posts: