Kali ini saya ingin mengulas topik yang agak meleceng dari biasanya, yaitu ihwal krisis ekonomi. Menurut saya hal ini bisa menjadi tambahan informasi khususnya bagi sejawat yang berpraktek di apotek.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, tepatnya pertengahan tahun 1997, Indonesia terkena krisis ekonomi. Hal yang sangat mudah dirasakan adalah merosotnya nilai tukar Rupiah, melambungnya harga-harga, tingginya laju inflasi, meningkatnya pengangguran, menurunnya daya beli dan seterusnya. Bahkan akibat krisis tersebut negara kita akhirnya mengalami komplikasi. Terjadi krisis multidimensi yang sifatnya berkepanjangan karena sampai dengan saat inipun dampaknya masih saja terasa.

Belum lagi krisis ekonomi jilid 1 usai, sudah terdengar kabar akan terbitnya krisis ekonomi jilid 2. Ini bisa terjadi karena negara kita tidak bisa terlepas dari pengaruh dunia. Saat sekarang kondisi pasar keuangan global sedang labil.  Indikasinya adalah melambungnya harga komoditas utama dunia dan melemahnya mata uang US. Kedua faktor tersebut telah menciptakan suatu potensi kuat untuk terjadinya krisis keuangan global secara sistemik.

Di dalam negeri, ada tiga faktor utama yang dapat dijadikan patokan sederhana dalam melihat potensi krisis kali ini yaitu kondisi pasar modal, tingkat suku bunga BI dan nilai tukar Rupiah. Banyak analis mengatakan bahwa pertumbuhan pasar modal Indonesia lebih didominasi oleh masuknya dana asing ke dalam bursa. Mengapa demikian ? Indeks akan sangat mudah berfluktuasi bila dana asingnya keluar.

Kebijakan BI untuk mempertahankan suku bunga SBI pada tingkat 8% ditafsirkan oleh analis sebagai upaya untuk mempertahankan dana asing agar lebih betah tinggal di Indonesia. Tentu saja biayanya mahal karena  suku bunga pinjaman menjadi tetap tinggi.

Mempertahankan nilai tukar rupaih pada kisaran Rp 9000 per USD juga dinilai tidak tepat. Tindakan ini hanya cukup untuk menjaga wibawa otoritas keuangan Indonesia. Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya tanpa menciptakan manfaat yang jelas. Kegiatan ini juga terlihat hanya untuk menciptakan situasi yang menyenangkan bagi deposan besar dari pihak asing. Kembali lagi, terlihat seperti berharap dapat memikat dana asing untuk tetap parkir di Indonesia. Sewajarnya Rupiah mengalami penurunan yang alami seiring meningkatnya harga komoditi utama di pasaran dunia.

Dari ketiga faktor tersebut, semuanya memiliki keterikatan dengan kondisi perekonomian global. Dan kita perlu waspada karena krisis besar di tingkat global akan secara langsung mengganggu perekonomian Indonesia.

Nah dari uraian dan analisis diatas, apa yang perlu kita persiapkan agar apotek tempat kita berpraktek bisa bertahan ?

Possibly Related Posts: