Di kota kota besar seperti Jakarta misalnya, keberadaan sebuah apotek di mal (pusat perbelanjaan) sudah merupakan hal yang biasa. Biasanya apotek yang masuk ke mal adalah apotek jaringan. Jarang sekali ditemui apotek yang bukan jaringan ada disana. Kalaupun ada jumlahnya masih sangat sedikit.
Awalnya saya mempertanyakan apakah mungkin apotek yang beroperasi di mal bisa breakeven bahkan untung ? Wajar saja karena sewa atau harga ruang di mal tergolong mahal dan kemudian orang yang berkunjung di mal biasanya untuk berbelanja (bukan obat) dan rekreasi. Berapa omzet yang bisa didapat setiap harinya?
Tapi lama kelamaan saya jadi ragu sendiri. Soalnya hampir disetiap mal baru yang berdiri selalu ada apotek (jaringan) disitu. Rasanya tidak mungkin sebuah apotek dibuka kalau tidak ada prospeknya. Meski saya tidak memiliki data yang valid, ijinkan saya mencoba menganalisis fenomena tersebut.
Mayoritas pengunjung mal adalah orang yang membutuhkan barang yang dibutuhkan sehari hari. Selain berbelanja mereka juga berekreasi. Mereka yang bertujuan untuk belanja pastinya sudah merencanakannya dari rumah. Rata rata mereka akan belanja kebutuhan rumah tangga, baju atau barang elektronik. Mungkin sedikit sekali yang sengaja akan menebus resep dokter di mal. Berdasarkan asumsi tersebut saya berkesimpulan bahwa penjualan apotek di mal lebih didominasi oleh penjualan non resep.
Oke, kemudian dari pengunjung mal yang belanja obat di apotek mungkin bisa digolongkan pada 2 kelompok. Pertama adalah mereka yang memang berniat membeli obat dari rumah dan yang kedua adalah mereka yang membeli obat tanpa rencana. Bisa jadi kelompok yang kedua lebih banyak dibandingkan kelompok yang pertama. Dan menurut pengalaman saya belanja tanpa rencana terkadang bisa menghabiskan dana yang cukup besar. Belanja tanpa rencana biasanya juga tidak terlalu sensitif terhadap harga. Karena itu tidak heran kalau ada banyak sales promotion girl yang bertugas di apotek tersebut. Tugas mereka apalagi kalau bukan melayani pengunjung dan merayunya untuk belanja.
Keberadaan apotek di mal juga bisa dianalogikan dengan apotek yang juga menjual minuman ringan atau majalah. Apotek tersebut berupaya untuk menyediakan kebutuhan lain bagi konsumen. Sambil menunggu obat, konsumen bisa membeli minuman atau majalah untuk mengatasi rasa jenuh. Mal juga demikian. Mereka mencoba menghadirkan konsep one stop service kepada pengunjungnya.
Dengan analisa sederhana tersebut terbayang bahwa apotek di mal mungkin lebih profiatble. Hanya saja investasi yang dibutuhkan relatif besar. Bagi kita, apoteker, keberadaan apotek di mal merupakan sarana yang tepat untuk menunjukkan eksistensi profesi kita. Kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat terbuka luas. Apalagi kalau kita memakai tanda khusus (seperti jas putih) agar mudah dikenali.
Bagaimana pendapat anda, sejawat ?
Possibly Related Posts:
- Praktek Bersama (Apoteker & Dokter)
- Apotek “Pasti Pas”
- Apoteker Memang Harus Narsis
- SPA Berbasis Web, Apa Itu ?
- Produk Baru, Manfaat atau Masalah Baru ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Leave a comment