Orientasi apotek dalam paradigma baru adalah pharmaceutical care bukan produk. Apotek harus mengedepankan proses komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) bagi pasien dalam aktifitasnya.  Perubahan orientasi ini merupakan proses transformasi untuk memperkokoh citra apotek sebagai tempat pengabdian profesi bagi apoteker. 

Konsekuensi logis dari perubahan orientasi tersebut meningkatkan aktifitas konsultasi. Proses konsultasi harus ditangani langsung oleh apoteker. Dengan pola pemikiran yang demikian maka kita lebih mudah memahami konsep TATAP (Tiada Apoteker Tiada Pelayanan).

Pada saat ini belum banyak apotek yang menerapkan pharmaceutical care. Wajar saja karena transformasi baru dimulai dan membutuhkan waktu dalam prosesnya. Karena itu tidak heran kalau persaingan antar apotek lebih didominasi oleh harga dan hal hal yang terkait langsung dengan trik dagang.

Dalam tulisan sebelumnya saya mengulas tentang pentingnya blue ocean strategy bagi apotek. Penerapan blue ocean strategy yang tepat akan membuat apotek memiliki keunggulan kompetitif dan terhindar dari persaingan dagang. Dalam konteks ini maka pharmaceutical care adalah sarana untuk menciptakan blue ocean strategy.

Meskipun terdapat acuan baku tentang pharmaceutical care tetapi penerapannya dilapangan sangat tergantung pada kompetensi apoteker dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien. Masing masing apoteker memiliki karakteristik yang unik. Bisa saja hal ini di standarisasi, tetapi dominasi kepribadian individu apoteker tetap akan terlihat dalam prakteknya.

Nah.., setujukah sejawat dengan pendapat saya?

Possibly Related Posts: