Secara bebas kita bisa mendefinisikan supermarket sebagai tempat belanja aneka macam barang kebutuhan. Ada semacam kesepakatan dikalangan awam, kalau skala usahanya sangat besar diberi istilah hypermarket, yang menengah supermarket dan yang kecil dinamakan minimarket. Ketiganya kini tumbuh demikian cepat di negara kita.
Dari macam maupun jenis barang yang disediakan jelas bahwa tujuan pendiri supermarket adalah memberikan pelayanan one stop shopping bagi pelanggannya. Oleh karenanya kelengkapan barang dagangan merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan.
Ditilik dari sudutpandang diatas ada kemiripan antara apotek dan supermarket. Untuk meningkatkan dan menjaga pelayanan, apotek berusaha agar memiliki persediaan barang yang lengkap. Tidak heran bila apotek yang demikian biasanya menjadi rujukan baik bagi pasien maupun apotek lainnya.
Menjadikan apotek seperti supermarket obat sah-sah saja sepanjang memiliki dukungan modal yang cukup. Namun semuanya tetap harus memperhitungkan tingkat profitabilitasnya. Maka dari itu kecepatan perputaran persediaan tidak boleh diabaikan. Disinilah, konon, seni dan tantangannya.
Sebenarnya untuk membaca permintaan pasar relatif mudah asalkan kita tahu pola penyakit, demografi penduduk dan gaya hidup mereka. Tetapi membaca selera dokter bukan perkara yang sederhana. Permintaan pasar yang tercermin dalam nama generik bisa terprediksi, tapi meramal merek yang akan diresepkan dokter tidak gampang (kecuali ada informasi dari pabrik obat).
Obat dengan nama generik yang sama biasanya memiliki merek lebih dari satu bahkan banyak yang lebih. Bila apotek kita mencoba untuk memiliki persediaan yang lengkap maka kita harus menyediakan merek merek yang ada. Sekali dokter beralih merek, mati kutulah kita.
Bila hal itu terjadi, upaya yang bisa kita lakukan adalah minta tolong dokter untuk meresepkan (tapi kolusi bukan ya?). Atau kita tukar menukar persediaan dengan apotek lain (kalau mereka mau dan butuh). Yang lebih celaka lagi kita tidak bisa melakukan program sale untuk obat-obat daftar G yang masuk kategori slow moving. Akhirnya bisa kedaluarsa kalau tidak terpecahkan.
Pertanyaan yang saya ajukan sebagai judul diatas merupakan gugatan terhadap kondisi yang ada. Karena meski banyak keluhan tetapi belum ada yang berbuat. Sejauh ini apotek (seolah-olah) tetap harus diposisikan sebagai supermarket atau minimal minimarket obat. Ketidaklengkapan persediaan beresiko menurunkan tingkat pelayanan. Padahal biaya modal tidak murah. Jangan jangan (atau malah sudah?) nasib apotek bermodal kecil bisa seperti toko kelontong yang mati pelan pelan karena hadirnya minimarket.
Bagaimana sejawat? Apa yang harus kita perbuat untuk mengubah keadaan?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Saya ingat dulu di perpus kampus pernah membaca Managing Drug Supply (yang tebelnya luar biasa itu…). Di situ (idealnya) persediaan obat yang baik malah seramping mungkin…
Kondisi ideal memang demikian, tapi hal itu baru bisa dilaksanakan kalau ada standarisasi (seperti di rumah sakit atau asuransi) atau apoteker boleh mengganti merek obat…
Ganti obat bermerek ke generik boleh kan?
Jadi selama apotek menyediakan stok memadai untuk obat generik, harusnya tidak ada masalah bukan?
Tapi ya itu terlalu idealis kayanya sih…
Komentar Tuk MDP.
Maaf mau ngomentari bahwa …atau apoteker boleh mengganti merek obat… Maaf mungkin sejawat kurang ngikuti perkembangan bisnis obat di lapangan. Sejawat, Apoteker tu boleh ngganti merek obat, apalagi dengan OGB, nggak percaya ta?
Komentar tuk Bung Fajar
Soal rampingnya persediaan obat di apotek, oh itu sih so pasti sobat! Buku yg di baca gak salah!, makanya ganti-ganti aja merek obat sesuai yang ada di apotek, ente khan apoteker, kalo gak brani mempertanggungjawabkan secara ‘apapun’ atau dengan ‘apapun’yg sejawat punya, waduuuh, kerdil amat yaaa yang namanya profesi apoteker itu…. apus aja dari diri kita gelar profesi itu kalo cuma tukang nyariin obat di rak yang sesuai resep, pantaslah (maaf) manyak yg gak sekolah di farmasi bahkan ada PRT ikut layani obat di apotek. Shg Apoteker bisa aja di ‘delete’ dari apotek kalo gitu mah. Ayolaah bangkitt, Thukul bilang You ander estimet… hee Thukul aja brani mosok kita ora he he he. Maaf yaaa….
[...] pernah mempertanyakan haruskah apotek sama dengan supermarket obat? Saya juga pernah melontarkan ide apotek plus, yang kemudian diingatkan resikonya oleh sejawat [...]
[...] Dengan medan permainan yang demikian, bisa dibayangkan berapa modal kerja yang dibutuhkan apotek kalau ingin menyediakan obat dalam jumlah yang “lengkap”. Karena alasan itulah saya pernah mempersoalkan haruskah apotek = supermarket obat ? [...]
saya adalah salah seorang apoteker yang bangga dengan profesi saya, menurut saya apoteker adalah pihak yang paling tau tentang obat dibandingkan dokter, jadi kita bisa mengatur perputaran obat, seberapa banyaknya stok obat dan item obat di apotik kita bukan penentu jalannya apotek, tapi bagaimana kita memaksimalkan obat yang ada pada kita sesuai dengan resep yang ada, dan kita harus mampu membaca permainan resep dokter, kapan saatnya kita sediakan obat tertentu, kita juga harus membaca trend obat tersebut, itu bisa kita baca dari profil perusahaannya, apakah kompeten di bidang obat yang sedang di resepkan, atau hanya….sesaat saja, jadi dengan demikian kita tidak akan rugi, kita berhak mengganti resep yang ada dengan stok yang ada yang sejenis dengan menjelaskan kepada pasien tentunya. Dari pengalaman saya hampir 90 % pasien mau diganti resepnya dengan obat yang ada pada kita, tetapi dengan strategi khusus tentunya, kalau anda berminat, saya bisa membagi ilmu saya kepada anda semua, dengan syarat anda adalah apoteker sejati seperti saya, buka juga blog saya……
[...] untuk menyiasati hal tersebut. Komentar-komentar yang masuk dalam tulisan saya yang berjudul Haruskah Apotek = Supermarket Obat merupakan sedikit diantara contoh yang sudah diterapkan di lapangan. Alternatif lain yang cukup [...]