Meski mengaku belum membaca tulisan saya yang berjudul Apotek, Apoteker dan Jamu (lihat disini), teman saya yang kebetulan salah seorang fungsionaris GP Jamu menghubungi saya tentang kemungkinan dibentuknya kerjasama antara GP Jamu dengan ISFI agar jamu bisa masuk apotek.
Saya tertegun. Wah, kok bisa nyambung juga ya..
Saking antusiasnya saya langsung membuat thread baru di forum ISFI tentang hal itu. Saya penasaran dan ingin tahu respon sejawat. Biar cepat saya juga mengulasnya disini.
Meski terus berusaha untuk tidak gede rasa tapi perasaan saya mengatakan bahwa beginilah cara Tuhan mengatur skenario. Kita mengatakan kebetulan, padahal Tuhan telah merancang jalannya cerita seperti itu.
Maka saya sangat berharap mudah-mudahan berbagai upaya yang telah, sedang dan akan kita jalankan memang bagian dari upaya membangun citra profesi Apoteker Indonesia. Kalau ada sejawat yang mengatakan sekarang kita memasuki era kebangkitan apoteker memang tidak salah.
Nah sejawat sekalian, silahkan berkomentar baik disini maupun di ISFI Online.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Selamat Tinggal ISFI…
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Dear Sejawat
Opini saya pribadi tak perlulah,MOU atau semacamnya. Bila jamu ber TR atau QD tersebut bermutu, pastilah banyak dokter atau pasien akan menggunakannya. Ditingkat pengecer jamu, obat spesialite bisa “duduk bersanding mesra” sepanjang dbutuhkan. Lebih baik pasarlah yang menentukan.
Mungkin untuk Apotek “papan” atas yang mempersulit diri sendiri, sehingga jamu ditolak. Padahal beberapa jamu dengan nomor registrasi TR/QD/TI/TL/QL sudah banyak ditemui di sarana kesehatan resmi. tolong dicek dululah di lapangan.
wass.sejawat di Surabaya