Salah satu cara cepat untuk meningkatkan omzet apotek adalah menjadikan apotek sebagai miniatur PBF. Selain melayani pasien atau konsumen (end user), apotek juga melayani dokter atau poliklinik. Seperti kita tahu dokter di lokasi-lokasi yang terpencil dan jauh dari apotek dimungkinkan untuk dispensing. Karena itu apotek tersebut harus memiliki persediaan dalam jumlah yang lebih besar dan lengkap. Dalam batasan tertentu hal ini diperbolehkan oleh undang undang.
Rupanya aturan ini juga merupakan celah bagi industri farmasi untuk melebarkan sayapnya. Problem klasik yang dialami industri farmasi adalah utilisasi kapasitas produksi yang belum optimal. Bisa dimaklumi karenahampir seluruh industri farmasi memiliki fasilitas produksi yang sama yaitu tablet, kapsul dan sirup. Dengan jumlah pemain yang mencapai 200 lebih dan dengan total pasar yang hanya sekitar Rp. 26 trilyun, tidak heran jika banyak industri yang belum bisa mencapai utilitas kapasitas produksi optimum.
Untuk meningkatkannya, beberapa cara yang biasanya dilakukan adalah penambahan produk baru, ekstensifikasi dan intensifikasi pemasaran. Dari ketiganya yang relatif cepat menuai hasil adalah ekstensifikasi pemasaran. Salah satunya melalui dokter dispensing.
Sebenarnya tidak ada yang keliru jika aturan ditegakkan secara konsekuen. Yang sekarang marak terjadi justru sebaliknya. Bahkan karena termasuk kategori ilegal kalangan dokter sedang berupaya untuk melegalkannya. Akibatnya banyak apotek tidak bisa bertahan karena disekitarnya banyak dokter dispensing.
Lebih disayangkan lagi adalah apotek yang melayani dokter dispensing. Kalangan industri biasa menyebut mereka dengan istilah apotek panel. Dalam prakteknya banyak apotek panel yang hanya dipakai namanya saja. Seluruh aktifitas dilakukan oleh industri yang bersangkutan bekerjasama dengan distributor.
Memang menggiurkan. Hanya dengan meminjamkan namanya, apotek yang bersangkutan bisa mendapatkan fee minimal 2,5% dari total transaksi. Jadi bila dalam sebulan transaksinya mencapai Rp 200 juta berarti fee yang didapat Rp 5 juta. Angka yang cukup bermakna.
Tapi sadarkah mereka bahwa akibat perbuatannya jumlah dokter dispensing semakin bertambah dan banyak apotek lain yang menjadi korban?
Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang…
Possibly Related Posts:
- Praktek Bersama (Apoteker & Dokter)
- Apotek “Pasti Pas”
- Apoteker Memang Harus Narsis
- SPA Berbasis Web, Apa Itu ?
- Produk Baru, Manfaat atau Masalah Baru ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
sebagai apoteker seharusnya berhati-hati berbicara mengenai Apotek Panel. seharusnya apoteker itu mengharamkan apotek panel. menurut saya saat ini lebih penting untuk membangun image bahwa Apotek is Apoteker yaitu dengan beberapa cara a.l:
1. ISFI harus tegas bahwa APA tidak boleh merangkap sbg pns, peg industri farmasi, kecuali kalo sbg apoteker pendamping. karena saat ini produk apoteker sudah berlimpah
2. syarat perijinan apotek hrus direvisi, tidak boleh mencantumkan PSA, Asisten. karena SIA itu diberikan ke Apoteker bukan pemodal atau AA
3. Sejawat yg di Dinkes, BPOM tau Depkes, apabila ada permasalahan dg apotek tidak boleh melibatkan PSA, tapi yang dipanggil dan hrs mempertanggung jawabkan hrs Apoteker yg tercantum di SIA
Suatu hal yg klasik sebenarnya, tapi inilah salah satu penyebab mengapa apoteker banyak “dilecehkan”. seperti munculnya apotek rakyat, menurut saya itu pelecehan thd apoteker.
aduh, pak. setuju banget. Karena kadang-kadang PNS menurunkan kebijakan tapi melanggar sendiri. contohnya Apoteker harus standby di apotek tapi prakteknya mereka jarang ke apotek, dan ironisnya lagi mereka memegang Instalasi Farmasi suatu RS yang nota bene peredaran obat sangatlah “fast moving”. Bagaimana kontrol obat sampai ke pasien rawat inap kalau dia ada di tempat lain?
Bung Agus dan Mbak Ratih, mumpung dunia lagi kacau, seperti kondisi di perempatan lampu pengatur lalulintas padam, siapa yang terjebak? siapa yang selamat? Mereka yg lolos itulah orang yang Calak (si Calak ini tidak pinter, tidak sekolah farmasi, dll. tapi merekalah yang atur tu namanya apoteker, tuh yang namanya fabrik, tuh yang namanya toko obat, dll.)
Silakan anda terus berteori ria soal disiplin, etika, aturan2 (yg kenyataannya ada tapi tiada) sementara anda sibuk berdiskusi Si Calak tadi terus saja berlari dan pas tanggalnya dia bayar anda atas jasa dipakai namanya, he he he…. spt Brazil di piala dunia, bagus, cantik, anggun, indah, dll, tapi nggak ngegolin dan di ‘alam’ nyatanya kalah he he he…. pilihan terserah anda! Maaf.
Rodes.
saya setuju sekali.. apalagi dikampung saya tuh, ada 5 apotek tapi boro2 bisa nemui apotekernya… dari informasi yang saya dapet dari pemilik, apotekernya datang 1 bulan sekali dengan gaji 1 jt dan dia pegang 3 apotek disekitar itu.. wou bukankah menggiurkan..? itulah mengapa teman2 saya yang dokter mencap apoteker hanya pekerjaan orang malas, walau ndak semua tapi kebanyakan demikian…
saya selaku calon apoteker ya.. tersinggung… tapi apa mau dikata, ndak bis mbuktiken manfaat apoteker di apotek..
permisi, boleh urun rembuk d sini?
idealnya memang begini begini tapi kenyataannya begini begitu, masalahnya seperti lingkaran setan, sebab akibat, jadi mari qta awali dari diri qta sendiri sebagai apoteker untuk menjadi lebih baik, terima kasih banyak rekan sejawatku, maju terus, merdeka
Masalah apotek dari waktu ke waktu semakin banyak, sejalan dengan banyaknya apotek yang berdiri. Tantangan ke depan adalah nantinya apotek bukan satu-satunya dispensering obat, dokter praktek, bidan dan perawat sudah diberi hak untuk dispensering obat ke pasien walau terbatas. Saat inilah Apoteker harus menunjukan keberadaannya dan manfaatnya di masyarakat.
Saya sebagai apoteker yang mengelola apotek juga melakukan praktek melayani pasien secara langsung, memberikan informasi , konsultasi bahkan menerika konsultasi obat dan kesehatan lewat SMS. Saya siap melayani kapan saja pasien membutuhkan. Saya kira profesi apoteker harus ditampilkan lewat apoteker-apoteker yang ada di apotek. Sebuah Apotek akan menjadi pilihan masyarakat/pasien bila apoteker memperhatikan hal-hal : kelengkapan obat, memberikan solusi ke pasien bila obat tak ada, keramahan, kecepatan layanan, dan kenyamanan di waktu pasien menunggu. Pengalaman kecil ada pasien konsultasi, bahwa anaknya sakit gigi dan diberi obat amoxsan dan analgesik, ternyata sakitnya tidak hilang, konsul lagi ke dokter, diberi lagi obat amocomb ( amoxiclav ) dan analgesik, ternyata habis separo resep masih belum ada perubahan. Berdasarkan pengalaman saya sakit gigi ini disebabkan bakteri anaerob saya sarankan minum obat clinium ( clindamisin) dan ternyata sembuh. Y.. terserah orang bilang apa , atau sejawat bilang apalah. Diluar negeri AS, katanya Pharmacist membantu pasien dalam pengobatan sendiri dengan rentang obat yang luar hampir 75 % macam obat. Informasi ini saya dapatkan waktu aku dinas di Bali dan ketemu dokter amerika. Di Amerika Pharmasist merupakan profesi yang dihargai, coba anda sebutkan jati diri anda bila ketemu dg bule dia akan respect. Karena pertama kali yang dicari waktu sakit ( sakit ringan- ringan sedang ) yang dia cari adalah apoteker. Ini terjadi karena perjuangan pada sejawat Pharmasict AS untuk hadir dihadapan pasien.
Ingat bahwa Apotek akan hidup apabila dikelola dg baik oleh apotekernya, Apoteker terjun langsung di apotek.
selamat berjuang,
akhmad yani, apt
terimakasih pak akhmad yani, jadi semangat lagi untuk terjun di apotek
Berdasar pengamatan pribadi yg terjadi di masrakat kita;
Banyak faktor yg harus diperbaiki dalam dunia penyediaan & distribusi obat. Faktor yg paling penting adalah “kolusi” antara dokter dan perusahaan farmasi. Kita sdh tahu bahwa besar sekali dana dari pihak industri farmasi yg dikucurkan ke arah tsb. Coba tengok saja, hampir semua acara ilmiahtahunan, hiburan bersama, pertemun organisasi profesi setiap sub keahlian,kadang liburan keluarga para dokter dibiayai oleh industri farmasi. Kondisi ini sangat mencolok, yg akhirnya obat yg digunakan dokter bisa menjadi tdk rasional. Akhirnya kasian masyarakat krn memikul beban terakhir sehingga harga obat tinggi. Nah yg terjadi dimasyarakat, “biasanya” dokter-dokter yg “ingin lebih” krn didorong byk faktor, maka mereka melakukan “dispensing”. Kondisi apotek panel bagaimana, nah ini hanya merupakan faktor pendukung dari “kebobrokan” mekanisme pangaturan distribusi obat dan “mental” orang2 yg terlibat dalam penyediaan obat ke masyarakat. Kita bisa ambil byk contoh apotek panel yg lbh “halus”, seorang dokter bikin apotek, disamping prakteknya / bahkan didalam tempat prakteknya, tdk lain hampir 75 sd 95% hanya untuk memenuhi kebutuhan obat dokter tsb.
seharusnya dokter tuh dikasih uu yang jelas n pasti, soalnya mereka(dokter) tuh kaya raja pengen apapun semuanya nurut. di indonesia yang kita cinta ini dokter masih merupakan profesi yang paling tinggi tuh! padahal di negara2 maju seorang dokter untuk memberikan obat harus berkonsultasi dengan apoteker bukannya seenaknya mereka memberi obat sendiri tanpa melalui apotek> Makanya sejawat apoteker harus berani menegur dokter yang ngawur, saya sering sekali menemui dokter yang dispensing ngasih obat buanyak tanpa melihat interaksi obat yang diberikan
Bagi yang tau emailnya rodes,ak boleh minta ya..
ato buat rodes sendiri,minta emailnya ya..kayaknya bisa blajar banyak dari rodes..
tq b4.
Ass.W.W. Mbak atiq said, salam kenal. maaf saya nggak begitu ahli apa-apa serba tanggung, barangkali akibat pendidikan saya juga yang serba tanggung, pendidikan saya itu jebolannya di kasih gelar apoteker. itulah saya…..
Dari semasa kuliah dulu sampai kini saya tetep bingung ambil posisi (alhamdulillah gak minder). akibatnya tu tadi, karena politikus dokter lebih banyak dari apoteker maka waktu ngubah UU kita kalah melulu… Nah akhirnya tetep aja kita nggak boleh ngganti obat yg ditulis dokter di resep tanpa ijin mereka… Profesi apa nih… Malu nggak kalu cuma gitu aja nggak boleh.
Burung punuk merindukan bulaannn… aduh kasian.. kasian….
Contoh susah lainnya neh.. katanya kita ahli nya obat (CUMA KATANYA ) karena ternyata AHLI-nya adalah mereka yang tergabung dalam organisasi (liat dan perhatikan namanya, pandaii bukan…) PAFI= Persatuan AHLI FARMASI Indonesia… kita kenal sbg AA… Nah lho!)… kena lagi
Namun demikian tuk silaturahim bolehlah ke rodeskf@yahoo.com
Sejawat semua terimakasih yaa, maaf jangan merah kupingnya….
itu cambuk kok…..
Salam hangat…
assalamualaikum wr. wb.,,
minta kerjaan buat asisten apteker donk…
lagi butuh banget nich gak kuat nganggur terus.
saya lulusan smk farmasi tahun 2008.
kalo ada hubungi saya di 085223383744.,
thanx..,
wassalam.,
dedens last blog post..
rekan sejawat tercinta ..
maafkan saya, mohon bantu kuatkan saya.
Saya sedang tergoda untuk meminjamkan ijasah saya untuk mendapat share bulanan sebesar 2.5jt per bulan (is it a pasive income.. ??) .
Sedang dalam proses.
Boleh di-forward ke saya UU yang mencantumkan semua keberatan saudara-saudari semuanya yang menyebabkan hal ini diharamkan?
Semua masukan akan memberi ulang rambu-rambu life value kepada saya.
Terima kasih banyak rekan-rekanku tercinta.
salam
Brina
“the gate of mindset can only be openned from the inside”
[...] ini saya harapkan dapat menjawab pertanyaan sejawat Brina disini. Maafkan sejawat, kalau saya tidak dapat menjawabnya secara to the [...]
ngomong2 ttg apoteker yg hrs standby, saya mengalami jg masalah yg bikin saya ksl tp kadang jg ketawa atau tersenyum masam. apotek saya full dg apoteker & apen dll, karena wkt bk pertama ktnya syaratnya harus begitu, klo tidak ya SIA tidak bisa keluar. eh malah tanpa sengaja saya baru tahu kalau yang mengeluarkan aturan itu, orang2 atas sana ternyata yang nglanggar sendiri, gimana dong…?minta keadilan kemana ya…?harus ikut yang mana ya…?
apotek
profesi kita apoteker dari kata apotek + ker
bahan perenungan
bila ada uji statistik yang falit
seberapa persen apotek yang dimiliki oleh apoteker itu sendiri
and why…….