Sejawat, ijinkanlah saya curhat tentang ketidakmampuan saya bersikap…
Saya sangat terkesan membaca cerita sukses sejawat Apoteker Muda dalam blognya yang beralamat disini. Dengan modal dan pengalaman yang minim tetapi diimbangi tekad dan keuletan yang tinggi akhirnya sejawat Apoteker Muda tersebut berhasil membangun apotek milik sendiri. Sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Selanjutnya, keberhasilan sejawat Apoteker Muda tadi menggugah yang bersangkutan untuk membuka apotek lagi di lain tempat atau melakukan diversifikasi usaha. Meminjam istilah dalam perkawinan, sejawat Apoteker Muda tadi berniat akan berpologami.
Saya tidak dalam posisi menentang, tapi juga belum bisa mendukung. Mengapa?
Dalam dunia bisnis, pertumbuhan usaha adalah salah satu naluri alamiah yang lazim dimiliki oleh pengusaha. Faktor pendukung pertumbuhan bisa bermacam macam. Dalam dunia perapotekan faktor yang bisa membuat apotek tumbuh diantaranya adalah penjualan. Elemen penjualan kalau dibreakdown terdiri dari penjualan resep dan obat bebas atau barang dagangan lainnya. Untuk meningkatkan penjualan resep ada berbagai cara seperti menyediakan tempat untuk praktek dokter didekat lokasi apotek, bekerjasama dengan instansi atau melayani resep askes. Untuk meningkatkan penjualan obat bebas dan barang dagangan lainnya diantaranya dengan melengkapi persediaan dan menetapkan harga yang kompetitif.
Ukuran pertumbuhan secara mudah dihitung berdasarkan akumulasi angka inflasi dan rata-rata kenaikan harga obat. Jadi misalnya tahun 2007 inflasi 8% dan rata-rata kenaikan harga 6% maka pertumbuhan penjualan apotek tahun 2008 harus diatas 14%. Bila pertumbuhan penjualan hanya tumbuh 14% berarti pangsa pasar apotek tidak bertambah. Bila dibawah 14% berarti pangsa pasarnya digrogoti oleh yang lain (bisa apotek lain atau dokter dispensing).
Selagi pasar belum jenuh upaya meningkatkan pertumbuhan penjualan masih dimungkinkan. Tetapi jika jumlah penduduk, pola penyakit dan angka kesakitan tidak berubah maka untuk mendapatkan angka pertumbuhan diatas angka inflasi dan rata-rata kenaikan harga tidak mudah. Pada kondisi ini cara yang bisa dilakukan adalah mengambil pangsa pasar apotek lain atau dokter dispensing atau membuka apotek lagi.
Kalau keputusan untuk membuka apotek diambil maka secara tidak langsung kita telah masuk dalam industri apotek. Apa maksudnya? Dalam dunia usaha ada kesepakatan bahwa kumpulan bidang usaha yang sama dinamakan industri. Selagi kita masih memiliki satu apotek kita bisa mengklaim bahwa apotek kita adalah tempat kita berpraktek. Tapi begitu apotek kita beranak maka kita harus memperluas cakrawala. Kita bukan lagi hanya sebagai apoteker tetapi juga berprofesi sebagai pengusaha. Layaknya dokter mendirikan rumahsakit. Kita harus memiliki sistem yang mampu mengendalikan aktifitas seluruh apotek. Kita harus pula memiliki SDM yang kompeten. Tidak hanya apoteker, kitapun harus memiliki orang yang piawai mengelola pembukuan dan kuangan.
Penambahan satu apotek bila berhasil akan memotivasi untuk menambah apotek lagi. Begitu seterusnya. Bahkan bukan tidak mungkin akhirnya akan menjadi apotek jaringan atau franchise seperti yang sedang latah dikembangkan saat ini. Nah kalau sudah demikian apa kita masih punya waktu untuk menjalankan asuhan kefarmasian di apotek kita? Atau malah kita memutuskan untuk pindah kuadran, dari apoteker ke pengusaha.
Sejawat.., dalam prespektif bisnis fenomena diatas adalah hal yang wajar. Apotek jaringan baik lokal maupun impor sudah tumbuh berkembang di Indonesia. Kalau kita punya kemampuan dan kesempatan mengapa kita tidak melakukannya. Kesuksesan katanya adalah pertemuan antara kemampuan dan kesempatan.
Tapi sekali lagi maafkan saya sejawat.., karena saya masih belum bisa menentukan sikap.
Bagaimana dengan sejawat?
Possibly Related Posts:
- Harga Obat Sebaiknya Dikendalikan
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Leave a comment