Di sebuah blog milik seorang dokter ada tulisan berjudul Pemberian Obat Langsung Langgar Ethica Profesi Kedokteran (monggo, kalau mau dilihat silahkan klik disini). Ramai juga komentarnya. Minimal sampai hari ini (8/7/08) sudah ada 22 komentar termasuk dari pengasuhnya. Isinya bisa ditebak. Silang pendapat tentang dispensing. Dari sejawat dokter pastinya pada posisi yang memihak, sementara dari sejawat apoteker menolak.
Nah, diantara sekian banyak komentar ada satu komentar dari seorang dokter yang menarik, yaitu :
boleh dokter tidak dispensing, asal apotik juga tidak melayani penjualan obat tanpa resep, apalagi pasien beli dengan copy resep yang jelas merugikan dokter, saya praktek di apotik, sy ngliat kalau ada orang yang mau beli obat antibiotik di apotik itu, di depan saya pun dilayani, jd sm aja kan? apoteker juga merangkap jadi dokter….. so kalau mau bikin aturan yang imbang dong….
Rupanya sejawat dokter yang berkomentar seperti diatas cemburu juga terhadap apoteker.
Saya melihat peraturan yang ada sudah sangat memadai. Tujuan tidak diperbolehkannya dokter melakukan praktek dispensing adalah agar tercipta mekanisme kontrol. Dalam ilmu manajemen, pengawasan merupakan salah satu elemen yang mutlak ada agar pengelolaan bisa optimal.
Sebagai contoh misalnya kegiatan produksi di pabrik obat. Manager produksi di haram kan merangkap sebagai manager pengawasan mutu karena bisa timbul konflik kepentingan. Apa jadinya seandainya dalam proses produksi captopril 12,5 mg, ternyata setelah di cek ulang mengandung 15 mg bukan 12,5 mg ? Demi efesiensi proses mungkin saja produk tersebut akan di release meski kelebihan kadar, toh perbedaan harganya tidak bermakna. Hal ini bisa terjadi bila manager produksi merangkap manager pengawasan mutu. Dalam kasus dokter dispensing analogi seperti contoh tersebut sangat mungkin terjadi.
Esensi pemisahan tugas antara dokter dan apoteker pada akhirnya memang bertujuan untuk mewujudkan pemastian mutu proses pengobatan. Kalau ada ekses bukan berarti aturannya yang harus diubah, tapi oknumnya yang ditertibkan.
Upaya melegalkan praktek dokter dispensing masih saja terus dilakukan. Tidak terkecuali melalui salah satu pasal dalam Rancangan PP tentang Tenaga Kefarmasian. Kalau ini sampai goal, bukan tidak mungkin akan marak fenomena apotek tanpa resep. Terus, mau jadi apa Indonesia kita tercinta?
Mari kita sama-sama mawas diri.
Possibly Related Posts:
- Harga Obat Sebaiknya Dikendalikan
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Mana ada sih aturan di bidang kesehatan yang sifatnya mengatur untuk kepentingan bersama? Hampir semuanya untuk kepentingan golongannya sendiri.
Yang perlu dirombak adalah sistem kesehatan di Indonesia bukan golongan per golongan. Selama sistem masih amburadul, sampai mampus pun mengatur orang atau golongan tidak akan ada gunanya.
Saya pernah membaca artikel di salah satu surat kabar internasional, yang mengatakan bahwasannya di Amerika wewenang dokter hanya mendiagnosa penyakit, selanjutnya untuk terapi diserahkan kepada Farmasis. Ini masuk akal, mengapa saya katakan demikian? Obat tidak hanya benda mati yang bisa kita makan tanpa aturan yang jelas, bukankah farmakokinetiknya, farmakodinamiknya perlu kita perhitungkan? Dan pengetahuan ini hanya dimiliki oleh apoteker. Coba lihat kurikulum fakultas kedokteran, apakah ada 2 mata kuliah tersebut? Tidak ada! Bukan bermaksud merendahkan para dokter ataupun bermaksud untuk membandingkan, hanya saja fenomena di atas dapat menjadi acuan bahwasannya dengan sistem kesehatan yang baik dapat diperoleh hasil terapi yang maksimal. Semoga rekan sejawat dokter dapat mengerti dan tidak menjadikan apoteker sebagai RIVAL melainkan sebagai teman sejawat yang akan bahu membahu dalam menciptakan masyarakat yang sehat
the right man on the right place adalan sesuatu yang harus diwujudkan dalam aturan yang diberlakukan,
yups….dokter & apoteker tu rekan sejawat. seharusnya saling membantu, bukan menang-menangan kayak gini.. jgn mengambil hak-hak orang lain atau mencoba melegalkan aturan yg memperbolehkan mengambil hak profesi lain. itu kan tidak menghargai..
jadi orang ya jgn busuk busuk amat lah, memuakkan
Yth.
Portal Apoteker
Dengan hormat,
Perkenalkan nama saya Pramono Seno Aji dan berdomisili di Solo. Saat ini saya ingin membuka usaha Apotik dan sekaligus dipadukan dengan ruang praktik dokter.
Saya masih mengalami kesulitan untuk membuat draft kontrak kerja sama dengan Dokternya. Bagaimana ttg pembagian hasil, Fee, Obat dll.
Sekiranya tidak keberatan, mohon bantuan Bapak untuk bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi saya.
Demikian harapan saya, terima kasih atas bantuan Bapak Yacobus.
Hormat saya,
Pramono Seno Aji
Pak Pramono Yth
Sejatinya apotek adalah tempat pengabdian apoteker, seperti halnya kantor akuntan publik tempat pengabdian akuntan atau law firm tempat pengabdian pengacara.
Dengan cara pandang seperti ini apotek berfungsi sebagai pelindung pasien/konsumen yang membutuhkan obat,karena dengan semakin berkembangnya industri farmasi jumlah obat beredar semakin banyak dan kecenderungan pasien mengalami fenomena pengobatan tidak rasional juga semakin tinggi. Belum lagi masalah yang timbul yang berhubungan dengan pemakaian obat (drug related problem).
Namun tidak bisa dipungkiri kalau apotek juga memiliki daya tarik bisnis sehingga menarik investor. Karena itu seringkali terjadi kepentingan bisnis lebih dominan. Dari sinilah terjadi konflik kepentingan. Kalau kepentingan bisnis diutamakan pasti kepentingan pasien/konsumen dikorbankan.
Mengintegrasikan apotek dengan tempat praktek dokter adalah salah satu strategi untuk mengembangkan apotek. Dan ini sah sah saja secara bisnis. Tetapi perlu diingat bahwa potensi konflik kepentingannya sangat tinggi. Bila kerjasama apotek dengan dokter berjalan harmonis, bisa terjadi turn over persediaan apotek sangat cepat dan apotek terhindar dari resiko dead stock. Tetapi masih harus dipertanyakan apakah dokternya bisa tetap objektif dalam meresepkan obat ? Apakah apotek tetap memperhatikan kerasionalan obat yang diresepkan oleh dokter ? Apakah apotek peduli dengan drug related problem ? Jangan-jangan pasien mendapatkan obat yang sebenarnya tidak diperlukan demi mengejar target.
Jadi untuk menjawab pertanyaan Pak Pramono mengenai draft kontrak kerjasama dengan dokter, pembagian hasil, fee, obat dan sebagainya terusterang saya tidak punya ide Pak.. Karena sebagai apoteker saya melihat konflik kepentingannya tinggi sekali. Hampir dapat dipastikan sekali kontrak ditandatangani, selanjutnya nasib pasien/konsumen dikorbankan. Untuk bisa menghayatinya, cobalah Pak Pramono menempatkan diri pada posisi pasien.
Sekali lagi saya mohon maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Pramono. Omong-omong apa tidak ada peluang lain selain apotek Pak ? Mengapa tidak buka minimarket dengan sistem franchise saja ? Mungkin lebih menguntungkan dan yang pasti tidak menimbulkan konflik kepentingan.
O, iya Pak.. nama saya bukan Yacobus.
Terimakasih.
[...] ini terinspirasi atas pertanyaan Pak Pramono disini, artikelnya Pak Tom disini dan artikel berjudul In Pursuit of Happiness disini ) Popularity: [...]
Nimbrung soal sengketa Dokter-Apoteker, pemecahan yang dianjurkan rekan-rekan terdahulu sudah baik.
Sebenarnya kita kembali saja pada obyektiv pengobatan pasien tanpa masuknya interest masing-masing kelompok medis ini.
Rasanya di Puskesmas yang notabene di dominasi OBAT GENERIK hal seperti itu gak banyak terjadi. Untuk itu ada baiknya kita mohon agar pihak lain yaitu Pabrikan/Produsen dari Obat Ber-Merek dagang yang pengaruhnya cukup dominan di situ ikut mencari solusi agar hal ini berakhir.
Maaf. Terimakasih.
berantem lagi…cape deh…
, wis toh yo..wis ene rejekine masing-masing.. mbok masing-masing interopeksi diri, baik dokter maupun apoteker tersebut pasti punya alasan tersendiri mengapa mereka melakukan hal tersebut..dan jangan lupa tanggung jawab atas apa yang dilakukan, beres toh..
Menurut saya, apoteker dengan dokter harus saling waspada, dan kedua-duanya beda-beda tipis, saya sebagai seorang apoteker harus juga menguasai ilmu kedokteran, karena mau tidak mau ilmu kedokteran adalah satu kesatuan dengan ilmu farmasi, jadi sah-sah saja seorang apoteker memberikan obat tanpa resep dokter dan demikian sebaliknya dokter melakukan dispensing, itu bagaikan lingkaran setan, Jadi kita sebagai seorang apoteker harus lebih menguasai ilmu kedokteran sebagai nilai plus, karena bagaimana pun
1.Pasien selalu menganggap apoteker di apotek tau segalanya
2.apoteker harus mampu memecahkan masalah di apotek jika ada resep dokter yang salah, tidak selamanya dokter itu ‘benar’jadi kita harus mampu meluruskan resep yang salah tanpa lebih dahulu bertanya kepada dokter, karena tidak akan ada satu dokterpun mengaku kesalahnnya
3.Sebagai Pengelola apotek sudah selayaknya seorang apoteker mampu menguasai ilmu kedokteran walaupun tanpa diperintah, karena banyak masalah-masalah pasien yang dihadapi dilapangan
4.sebenarnya ilmu kedokteran tidak sesulit yang kita pikirkan, kecuali ilmu spesialis, sebenarnya ilmu kedokteran umum masih bisa kita belajar sendiri tanpa harus kuliah umum
5.Jadi apoteker harus mampu bertindak sebagai seorang dokter,suster apung saja bisa apalagi kita apoteker!
Mau bisnis apotek http://www.bisnis-apotek.blogspot.com
saya sudah praktekkan sendiri apotek tanpa praktek dokter dan saya sendiri yang memberikan pengobatan kepada pasien, karena saya belajar mendiagnosa penyakit dan penggunaan obat secara tepat,sehingga saya memperoleh profit yang lumayan
[...] Ferdi (mohon dimaafkan kalau namanya keliru) berkomentar 2 kali pada tulisan saya yang berjudul Apotek Tanpa Resep, 2 kali pada Sistem Jaringan Bagi Apotek Independen dan sekali pada Gerakan Jangan Masuk Farmasi. [...]
Sebenarnya..kalianlah para apoteker yg cemburu melihat kesuksesan seorang profesi dokter yg bisa merauf duit dan dpt pula komisi dari pihak medrep. Sampai hari ini, tidak ada dokter yg iri apalagi cemburu dg apoteker, yg ada faktanya malah sebaliknya dan sebenarnya itu dipicu dari kompetisi sesama apoteker yg berebut apotik..shg kompensasinya ‘menyalahkan profesi dokter’….
Dan fakta di lapangan, kita tidak pernah memberikan obat berdasarkan pertimbangan farmakokinetik/farmakodinamik, yg benar adalah pertimbangan evidence based medicine ..karena obat bukan segala2nya…misalnya saja..pasien dengan faringitis akut…tentu EBM-nya karena infeksi gram positif maka kita berikan antibiotika yg kuat gram positif jadi tidak semua antibiotika yg bisa kita berikan, lalu kita timbang lagi..bila pasien ada riwayat alergi obat, gangguan fungsi hati dan ginjal..semua kita anamnesis..nah disini letak bedanya…jadi kalau ada apoteker yg memberikan obat antibiotika tanpa tahu kondisi kliniknya…maka apoteker itu sudah melakukan praktek kedokteran dan ini malpraktek serta bisa diajukan tuntutan ke pengadilan buat ganti rugi.
Dokter dg praktek dispensing itu masih perlu dan saya setuju,karena pada saat ini,siapa yang betul2 taat dengan regulasi atau sistem atau peraturan…? Mari kita lihat..apotik saja saat ini hampir kurang dari 10 meter dapat kita jumpai, beda pada saat 15 thn lalu dimana jarak apotik yang satu dengan yang lain katanya 100 meter, dan lalu satu apoteker yg notabene status PNS memegang lebih dari satu apotik,kapan sang apoteker nya mengawasi administrasi obat ? lalu apoteker tidak pernah ada di tempat…Karena banyaknya apotik dalam area kurang dari 10 meter maka pasti ada persaingan harga yang sudah barang tentu akan mempengaruhi kualitas obat. Ditambah lagi dengan adanya karyawan apotik yang suka nakal alias suka ganti obat yang ditulis dokter padahal dalam kertas resep dokter sudah jelas melarangnya. Jadi semua faktor diatas menghasilkan harga obat yang mahal dan tidak bisa dijangkau pasien, sehingga adanya dokter dispensing menurut saya masih diperlukan dan bisa membantu meringankan beban keuangan pasien yang saat ini pas2an.
Contoh kasus:
Bila seorang pasien dewasa Tonsilitis (amandel) disertai panas lalu misalnya mendapatkan obat:
Ospamox 500 mg sebanyak 12 biji: 12×700= Rp 8.400,-
Alphamol 600 mg sebanyak 12 biji: 12×300= Rp 3.600,-
Jumlah obat Rp 12.000,-
Bila jasa dokter antara Rp 10.000,- sampai Rp20.000,-, maka pasien tersebut membayar Rp22.000,- sampai 32.000,-
Bila anak 5 tahun berat 18 kg dengan kasus yang sama misalnya mendapat obat seperti dibawah:
Sirup Topcillin Forte sekitar Rp 10.000,-
Sirup penurun panas sekitar Rp4.000,-
Jumlah obat: Rp14.000,-
Maka total biaya untuk anak tersebut antara Rp24.000,- sampai Rp34.000,-
bdan ila menggunakan obat generik akan menghemat sekitar 4 ribu sampai 8 ribu.
Keuntungan:
• Pasien tidak repot lagi wira-wiri ke apotik
• Harga cenderung lebih murah dibanding harus ke apotik yang rata-rata gak jelas harganya (oya jelas ding, jelas mahal sampai ratusan ribu).
• Si dokter bisa berdialog langsung tentang tatacara minum obat, kegunaan, mana yang harus habis mana yang boleh disimpan dan sebagainya.
• Biasanya dokter ambil sedikit keuntungan harga obat dari harga beli (kecuali yang ndableg)
• Dokter bisa memberi label obat dan klip plastik (tapi masih banyak yang nulis misalnya 3×1 di blister obat, yang ini maaf: “gak mutu”)
Kerugian: Hanya merugikan pengusaha apotik dan menyakiti hati sang apoteker karena dengan adanya dokter dispensing,membuat apoteker merasa tidak dihargai profesinya.
salam
praktek dokter dispensing sebenarnya berefek negatif terhadap bisnis apotik, tapi dengan adanya dispensing maka akan dapat menekan biaya berobat masyarakat dimana kadang2 ada dokter yang hanya mengambil biaya jasa medis kosultasi tanpa mengambil untung lagi dari harga obat2an yang diberikannya. jadi jangan praktek dispensing itu hanya dipandang … Read Moreburuk dari sisi dokternya, banyak juga para apoteker “nakal” yang berlagak seperti seorang dokter yang dengan sok pinternya menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi obat berlabel merah tanpa resep dari dokter untuk penyakit tertentu, jadi saya bingung sebenernya mereka itu mau jadi apoteker atau mantri suntik, atau mempunyai obsesi seorang dokter yang gak kesampaian. belum lagi beberapa oknum apoteker nakal yang dengan enaknya mengganti obat dikertas resep dokter tanpa sepengetahuan dokter yang meresepkan dengan alasan yang diberikan ke pasien “obatnya sama saja?”. saya sangat setuju dengan dilegalkannya praktek dispensing oleh dokter karena bukankah kita para dokter diberikan kompetensi mengenai ilmu farmasi sewaktu kuliah dulu? selain itu dokter itu juga terikat oleh sumpah jabatan dan
etika profesi yang dapat mengontrol mereka baik secara etika-moral maupun hukum dalam menjalankan praktek kefarmasian.
ada komentar ringan beberapa tahun yg lalu dari seorang Assoc. Professor Doctor di Malaysia; “Kalau di Indonesia, kita pergi berobat ke doktor (dokter) cuma dapat kertas”. Dan aku cuma senyum krn tidak tau alasan rasional kenapa kalau berobat cuma dapat “kertas”
Pengalaman berobat saya pribadi berobat di klinik di Malaysia ketika kita… berobat langsung mendapat obat utk sakit yg saya alami. Dan pengalaman dari mengantar saudara/kerabat yg berobat dirumah sakit Mahkota (Malaka) juga demikian. Kelihatan lebih simple dan memudahkan sipenderita. Komentar anda diatas justru jadi nambah wawasan kita bahwa selain aspek sosial suatu profesi juga ada aspek kecemburuan profesi apoteker yang menyebabkan kalau kita berobat ke dokter cuma dapat “kertas”. Thank’s for your info.
Mas Dodi, Dokter dodi, atau siapapun dikau…Saya kagum dengan begitu narsisnya dikau ini, Sebelumnya saya mau tanya dahulu, dikau ini dokter apa nak? Kalau saya gak level dengan dokter yang hanya berbicara antibiotik, sepertinya kau ini tidak mengerti kalau apoteker juga punya otak dan bisa belajar segala pengetahuan dokter, apalah arti ijazah dokter. Memang manusia zaman dahulu bisa menemukan sesuatu harus pakai izajah?
Btw..Saya rasa kamu itu dokter yang masih kacangan, baru tahu obat sedikit sudah belagu,
Dari Peresepanmu diatas saya yakin 95 %, pasiennya tidak akan sembuh, mau tahu ngak? Itulah begitu bodohnya dikau…
Kalau Sudah Tonsil langsung Kau kasi Ospamox 500 dan Alphamol 600 ml (tapi sebelumnya kau dibayar sama medrep gak untuk meresepkan obat yang dua itu?)
Kalau ngomong di level sejawat jangan kau pikir seperti kau bodohnya yang disini..
Ah, saya gak level sih nanggapin dokter macam begini, saya sering konsultasi sama dokter Spesialis, mereka juga harus belajar dari seorang apoteker..
Kau tau gak Dodi, manajemen apotek itu begitu rumitnya? Dokter juga manusia, banyak kesalahan, bahkan bisa salah tulis, AKU MAU TUNJUKKAN SAMA KAU RESEP DOKTER YANG KACAU BALAU, dasar bodoh kau bah..Makanya Dokter jangan egois, SUDAH TULISANNYA TIDAK TERBACA..
Kerugian Jika Adanya Dokter Dispensing :
1.Akan Banyak Resep Yang tidak Rasional, karena Dokter juga sudah tidak Rasional (Jangan Lupakan permainan dengan Medrep)
2.Malah akan menyuburkan kepentingan dokter untuk mendapatkan keuntungan dari peresepan :
Contoh : Saya pernah lihat Dokter dispensing ditulis di resep berbagai macam obat, tetapi didalam racikannya tidak seperti itu…
Jadi malah Merugikan pasien kalau Dokter melakukan dispensing
3.Kalau Resep ke Apotek maka akan terbuka segala kelemahan dan ke bobrokan dokter, dan kita akan mengetahui, resep mana yang tidak sembuh, jika dispensing maka pasien tidak mengetahui obat apa yang diberikan..
4.Tidak akan ada yang dapat memberikan nasehat terhadap kesalahan dan ketidak rasionalan peresepan dokter
5.dan banyak
Jadi Pak Dodi, Dokter Dodi, atau siapapun kau, hormatilah rekan sejawat…Ingat..Dokter juga manusia..sama dengan Apoteker sama2 punya otak…
[...] saya tentang Apotek Tanpa Resep yang termuat di portal ini 9 bulan yang lalu rupanya masih menarik dibaca. Dua komentator [...]
Selama ini tanpa apoteker, gak ada masalah koq…biasa aja…anda sbg apoteker jangan2 mengalami psikosis ya…merasa paling berperan dan punya otak..padahal…masuknya susu yg bermelamin itu menandakan buruknya otak apoteker yg mana susu bermelamin itu malah paling banyak dijual di apotik…itu bukti pertama…bhw dampaknya ke penyakit tidak disadari para apoteker sejagat indonesia ini…masih berkilah juga…? apa ada bukti selama ini masyarakat komplen dg adanya dokter dispensing..? selama saya buka praktek dispensing…100% masyarakat senang dan puas…dan malah mencaci apotik yg obatnya sangat mahal…?? Dan terakhir..anda sbg apoteker-lah yg memulai meremehkan profesi kami sbg dokter…sdgkan selama ini kami para dokter sekalian tidak pernah mengusik para apoteker…jadi anda para apoteker sebaiknya kerja aja sesuai dg tugas masing2……gak usah ngurusi profesi dokter kalau masalah obat saja kalian masih gak becus..!!!
Nampaknya komentar yang akhir-akhir ini masuk cenderung tidak konstruktif dan saling menjatuhkan. Oleh karena itu mohon maaf bila untuk yang berikutnya saya akan menyeleksi kepantasannya.
Sebelumnya saya minta maaf kepada Pak Dani atas komentar yang pedas, terhadap Pak Dani mungkin anda masuk pada kamar yang salah, mungkin bapak sebaiknya berkomentar di blog dokter saja..
Saya sudah komentari masalah harga obat yang dikatakan Pak Dodi, Primadex 10 tablet dan Lopamid 10 tablet, Jika Dokter yang kasih bisa mendapat untung sampai 470 %,jadi tidak ada dsarnya apotek membuat mahal, sekarang apotek sudah bersaing ketat, margin sudah tipis, sekarang pasien sudah dimanjakan dengan harga yang bersaing.
Trus diluar perdebatan diatas, saya mau tanya dulu alasan Dokter DODI memakai Alphamol 500 dan Ospamox 500 untuk amandel, saya geli membacanya, saya yakin radangnya makin parah dan penyakitnya akan semakin parah…Tolong dijelaskan Dok…
Saya Punya banyak teman dokter, dan saat ini sedang memberikan Konsultasi Pendirian Apotek Kepada seorang Dokter Umum dan seorang Dokter Sp Mata (saya adalah Konsultan pendirian apotek), karena mereka masih bingung untuk mendirikan apoteknya, Apotek saya juga menjadi apotek Panel beberapa Klinik didaerah saya..
Susu bermelamin itu tidak sepenuhnya kesalahan apoteker, dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja..
Dokter DODI, kami menghargai Dokter, saya sudah katakan Apotek tanpa Resep hanya 5 % dari Omset
dan tidak berpengaruh, tetapi kalau DISPENSING itu sudah memperkosa pekerjaan Apoteker, Dokter sudah cappek mikirin penyakit, giliran kita yang meracik, biar gak salah dok, lagian pikiran dokter gak bercabang2, jangan SERAKAH dok, nanti kualat, seperti DOKTER ABORSI..
Apoteker di apotek juga membantu kerja dokter, mana tau ada yang salah didalam peresepan, dan Tidak Rasional kita saling mengisi DOK..
Terima kasih…
Maaf salah tulis, maksud saya pada tulisan pembuka diatas Pak Dodi salah masuk blog,..
Sekali lagi, tolong dijawab pertanyaan saya mengenai Resep Ospamox dan Alphamol untuk amandel, mungkin ada alasan yang bagus dari dokter…
tuan ferdi yg sok pintar dan terobsesi menjadi dokter :
coba simak pernyataanmu diatas : “Dari Peresepanmu diatas saya yakin 95 %, pasiennya tidak akan sembuh, mau tahu ngak? Itulah begitu bodohnya dikau…
Kalau Sudah Tonsil langsung Kau kasi Ospamox 500 dan Alphamol 600 ml (tapi sebelumnya kau dibayar sama medrep gak untuk meresepkan obat yang dua itu?) ”
Itukah isi otakmu..cuma segitu ilmu apoteker mu dan apakah segitu pengetahuan kedokteranmu..??
Terapi diatas sudah sangat sesuai dengan EBM bahwa ospamox kuat dg gram positif yg sesuai dg kondisi klinik tonsilitis dimn dari EBM paling banyak gram positif…nah terapi antubiotika ospmaox sesuai…lalu anda bilang 95% pasien tidak sembuh..? Mana data hasil kultur dan resistensi tes ab thd pola kuman menurut otak mu itu…??? Anda sbg apoteker yg tampak sekali ilmu kecapnya dan disini jelas anda yg paranoid thd dokter shg tidak bisa meluruskan contoh kasus diatas menurut otak anda sbg apoteker yg 95 % ada di dengkul…!!!!
Komennya dodi yang nomor 13 ini kok kaya pernah saya baca dimana ya…
Oh ya di sini
http://masmoki.blogspot.com/2006/12/razia-dokter-dispensing.html
Oalah.. sudahlah komennya kurang elegan, copy paste pula…
Ck ck ck (sambil geleng-geleng kepala)
NB : Kecuali kalau memang Dodi ini yang punya blog yang bersangkutan.
Terima Kasih Buat Pak..Eh…Bung..Eh..Dokter Dodi (yang mana pun anda, karena secara gamblang Pak..Eh…Bung..Eh..Dokter Dodi tidak bilang siapa dirinya bahkan inisialnya aja Dodi saja, bisa saja ngaku2 dokter, inipun harus ditanya dulu, dokter hewan apa dokter umum, atau spesialis)
Sebelum saya jawab sanggahan Pak..Eh..Bung…Eh…Dokter Dodi(yang mana sih..), saya mengajak anda kalau membicarakan suatu terapi dengan obat harus mengatakan kondisi pasien, jangan tiba-tiba sudah keluar Resep Alphamol 500 mg dan Ospamox 500 mg untuk Tonsil, ketahuan banget nih dokter klinik, biasa make obat yang begitulah….
Pak Dodi (lebih pantes kayaknya ya..) anda klo ngomong di forum sejawat jangan pake istilah nama obat dengan nama Paten, karena tidak semua tahu Ospamox dan Alphamol apa isinya, sebaiknya kamu sebutkan langsung nama zat aktifnya, Amoxicillin 500 mg atau Paracetamol 500 mg, kecuali anda membicarakan perbandingkan harga atau menyebutkan bentuk sediaan dipasaran dari zat aktif ttt saja.
Bung Dodi, kenapa saya bilang 95 % tidak sembuh, nah…kalau saya pasiennya dokter pasti sudah tidak sembuh, karena saya alergi (Hipersensitiv) dengan Amoxillin 500 mg, saya adalah penderita tonsilitis, yang 5 % lagi karena kamu pake Alphamol 500 mg (Paracetamol 500 mg) jadi mungkin bisa terasa baik dikit itupun belum tentu, jika radangnya sudah parah…harus pakai analgesic yang lebih kuat (makanya biasakan bicara kondisi pasien), TETAPI KARENA KAMU SUDAH KASIH OSPAMOX 500 MG, pasti efek alphamolnya sudah KACAU SEMUA, habis…muka saya sudah bentol-bentol..
Saran saya, sebaiknya Pak Dodi, memakai Antibiotik yang aman bagi orang seperti saya…tau gak?? (ntar aku ajarin memilih antibiotic) Trus kalau Memberikan Obat bagi Penderita Tonsilitis harus lihat tingkat keparahan penderita, Radangnya bagaimana, Kalau sudah parah…waduh kayaknya Alphamol 500 sudah payah…, harus analgesic yang lebih kuat dan aman…karena ada beberapa analgesic saya alergi juga…nah..kerjaanmu sebagai dokter untuk mencari tahu…
Jadi Bung Dodi, kalau kasih obat sama pasien Tanya dulu, Umurnya berapa, alergi gak sama antibiotic ttt, dll…..Jangan langsung kasih Ospamox 500 dan Alphamol 500…
Alphamolnya mungkin sembuh 5 % lah, tapi Ospamox nya bentol-bentollah jadi 95 % tidak sembuh…BENAR GAK HITUNG2ANKU?
Demi Tuhan Pak Dodi aku tak pernah bercita-cita Jadi Dokter, karena dari kecil aku dibesarkan di bisnis obat-obatan (apotek) aku sering lihat dokter gak ada pasien dikampung, bahkan minta-minta setoran ke apotek saya, demi Tuhan lho..Pak Dodi…sementara punya apotek banyak duit, apalagi aku dengar kemarin hampir
50 % Dokter di INDONESIA tidak KOMPETEN, katanya ada dokter yang tidak bisa make tensi meter dan pengetahuan obatnya cetek…Bahkan ada dokter tidak bisa membedakan antibiotic dan anti virus, langsung tancap saja antibiotiki jika anak infeksi atau merasa demam….Jadi kau jangan memvonis aku terobsesi jadi Dokter, AKU TEROBSESI menjadi APOTEKER SEJATI
Lagian GAK MALU Copy Paste dari blog lain, dan obatnya itu2 saja, kamu gak malu atau itu aja pengetahuanmu tentang obat…
Dokter DODY saya bukannya mengancam, kamu jangan cari gara2, saya bisa buka kebobrokan dokter di Indonesia, Kamu urusin Profesi Kamu saja..
Barusan Saya dapat keluhan daari seorang pasien ada Resep dari Dr. H S, setahu saya dia dokter dispensing..
Pasien saya mengeluh karena periksa dan obatnya mencapai Rp.350.000, tetapi setelah saya lihat semua obatnya hanya Ciflon 10 tablet dan Laxatab 10 tablet…di apotek saya hampir setengahnya, jadi mana YANG MURAH..
lain waktu akan saya berikan berbagai keluhan pasien yang mendapat tebusan resep yang mahal dari Klinik dan RS dan Dokter dispensing, PADAHAL KALAU BELI DI APOTEK JAUH LEBIH MURAH…mana yang benar????
Kalau didaerah saya rata-rata dokter dispensing, biaya periksa dan obat Rp.60.000 – 80.000, ada satu dokter kasih banting harga Periksa dan Obat 30.000 – 35.000, yaitu tadi obatnya ospamox dan alpamol CS, kayak DOKTER DODI INI
salam
sebaiknya kt kembali ke kewenanagn kita masing2
deh…………
biar aman dan damai’
Ass. Waduh pusinkk aq baca perdebatan ini.. Memang perlu ada job discription yg jelas biar ga saling menuduh g2 dunk.. Qt ini harusx damai aja… Apoteker n Dokter i2 saling membuthx koq.. Simbiosis mutualisme.. Jd hrs saling menghargai… Piss.. V