Apotek sebagai sebuah industri berkembang pesat di negara kita. Ciri khasnya berujud jaringan. Pada umumnya mereka masuk dalam industri ini dengan dukungan sistem yang mapan, kekuatan finansial dan teknologi informasi. Tiga hal ini memang key success factors bagi apotek.
Ada dua macam apotek jaringan yaitu yang berasal dari luar negeri dan yang lokal. Apotek jaringan yang berasal dari luar negeri biasanya memiliki competitive advantage sedangkan yang lokal memiliki comparative advantage. Keduanya sudah hadir di halaman kita. Cara mereka berkembang biak beragam. Ada yang ekslusif dan ada pula yang inklusif.
Salah satu keunggulan apotek jaringan adalah posisi tawarnya terhadap distributor maupun pabrik obat. Karena skala ekonomis yang dimilikinya, apotek jaringan memiliki posisi tawar yang lebih kuat sehingga mereka mendapatkan perlakuan khusus. Hal ini secara bermakna berpengaruh terhadap kelengkapan maupun harga jual obat yang disediakan.
Karena kita menganut sistem ekonomi terbuka (yang mungkin cenderung liberal), kehadiran apotek jaringan sudah tidak mungkin dibendung lagi. Bahkan kehadirannya sudah tidak terbatas pada kota kota besar saja, tetapi mulai melebarkan wilayah operasionalnya sepanjang layak secara ekonomis.
Lalu bagaimana seharusnya apotek independen (non jaringan) menghadapi peta persaingan yang demikian ?
Apotek independen akan sulit bersaing head to head dalam hal harga jual dengan apotek jaringan karena posisi tawar yang dimilikinya memungkinkan mereka bisa mendapatkan harga beli yang lebih rendah. Maka dari itu cara yang paling efektif untuk menghadapinya adalah mengalokasikan waktu lebih banyak untuk menyediakan pelayanan kepada pasien, berkomunikasi dan memberikan jasa konsultasi dengan mereka. Ketiga hal tersebut adalah sebuah proses yang harus dijalankan langsung oleh apoteker dengan landasan asuhan kefarmasian.
Pendekatan personal seperti itu dengan sendirinya akan menggeser persaingan dari masalah harga ke masalah pelayanan. Memang apotek jaringan juga pasti memiliki standar pelayanan yang baku dan berdimensi kepuasan pelanggan. Tetapi mereka mempunyai outlet yang banyak sehingga tidak mudah mengelolanya. Apalagi di era keterbukaan seperti sekarang. Konsumen yang merasa dikecewakan bisa dengan mudah bersuara melalui media. Ibarat pepatah karena nila setitik rusak susu sebelangga.
Pergeseran orientasi tersebut dalam jangka panjang bisa mengubah citra apoteker dan apotek. Bila selama ini pasien/konsumen datang untuk membeli obat maka kedepan pasien datang ke apotek untuk berkonsultasi tentang obat. Bahwa mereka pada akhirnya membeli obat juga, itu bisa dianggap efek samping. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin pasien akan meminta rekomendasi apoteker untuk kebutuhan obat (bebas) yang mereka butuhkan. Kalau ini bisa berjalan dengan baik, lambat laun posisi tawar apotek(er) akan meningkat baik terhadap pasien maupun industri farmasi.
Bagaimana sejawat? Silahkan direungkan dan dicoba…
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
[...] Dengan fenomena begitu, apa yang harus dilakukan oleh apotek independen ? Silahkan baca lagi tulisan saya disini. [...]
Assalamualykum..
Pak saya adalah mahasiswa farmasi UGM angktan 2006 yang kebetulan sedang akan menyusun skripsi. saya menbaca-baca tulisan bapak dan jadi ketagihan. sebenarnya saya tertarik sekali dengan fenomena “jaringan apotek”. Padahal kita sebagai apoteker mesti mengedepankan Pharmacetical Care sebagai unsur pelayanan terhadap masyarakat, pasien dengan bnyak penyampaian informasi, konsultasi dsb.. tidak hanya berbasis bisnis.
yang ingin saya tanyakan, ibarat mengkolaborasikan keduanya, Adakah apotik jaringan yang bebrbasis PC yang seperti itu saat ini? mungkinkah dibentuk apotik jaringan yang berbasis Pharmaceutical Care? Apa kendalanya bila ingin merintis apotek seperti itu?
terimakasih sebelumnya…
Coba hubungi Pak Nunut Robbyanto, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia DIY..
Kayaknya harus segera dilakukan perubahan besar-besaran. IAI harus mengadakan program2 pelatihan untuk anggotanya agar bisa mengelola apotek independen. Demikian juga hrs ada program kompetensi ini di PT, agar lulusannya dapat segera bekerja (mungkin juga program2 kompetensi lain yg bukan apotek). Mendesain program2 tsb pastilah merupakan kerja keras dan mungkin makan waktu ….. uaduhh ….. ini tantangan ….. jadi ….. harus bisa kan !
maaf TS, tidak semua apotek jaringan bekerja dengan jejaring (contohnya K24) .. mereka cuma jualan merk, 1 dan lain apotek dikelola masing2 (tidak berjaringan) .. apotek independen juga bisa membentuk jaringan asal masing2 anggotanya gak tertutup dan ingin menyendiri (perlu perubahan paradigma dan pola bepikir!!!) dan jaringan yg benar tuh bukan sebatas promosi bersama tapi saling menghabiskan stok obat anggotanya (makin cepat habis makin baik, sehingga stok selalu baru dan modal berputar kencang) dan mau saling berbagi + beli bersama (… hal inilah yang memberikan nilai tawar yang kuat terhadap distributor/pabrik untuk mendapatkan benefit/diskon extra, bahkan secara politis dapat dgunakan untuk ‘menstop dokter dispensing’ .. Insya Allah!!)
salam …..