Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tenaga Kefarmasian dalam penerapannya nanti di apotek, menurut saya memiliki dua dimensi pokok yang menarik untuk dikaji. Dimensi pertama dan yang terutama adalah perubahan orientasi produk ke asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) dan yang kedua adalah perubahan kebiasaan apoteker dan pasien.
Perubahan orientasi membawa konsekuensi, pertama, tiada apoteker tiada pelayanan, yang oleh ISFI dipopulerkan dengan TATAP. Kedua, apoteker harus memelihara kompetensinya sehingga mumpuni dalam menjalankan peran. Perubahan ini sangat mendasar karena pasien/konsumen akan mendapatkan nilai tambah atas kedatangannya ke apotek dan apoteker dipaksa selalu belajar untuk bisa mendeliver nilai tambah tersebut. Maka bisa dibayangkan peran apoteker akan lebih kongkrit dan dinamis.
Perubahan orientasi apotek tanpa diiukti perubahan kebiasaan pasien dan apoteker tidak akan memberi manfaat optimal. Dalam dimensi ini apoteker harus menjadi agen perubahan, merekalah yang harus memulainya. Apoteker harus tampil beda dalam memerankan profesinya. Apoteker harus proaktif. Diminta atau tidak, apoteker harus memberikan penjelasan yang memadai tentang obat yang dibeli oleh pasien. Pola ini sangat efektif untuk mengubah citra apoteker dimata pasien. Kalau pendekatan seperti ini dilakukan secara berkesinambungan lambat laun pasien akan merasakan manfaatnya yang pada akhirnya bisa menjadi kebutuhan.
Bagi apoteker kedua dimensi tersebut sebenarnya bisa diartikan sebagai program back to basic. Akibat kemajuan teknologi formulasi dan manufaktur obat, peran apotek yang tadinya tempat untuk melakukan kegiatan penyimpanan, peracikan dan penyaluran obat (dalam kalimat lain bisa disebut juga tempat pengabdian profesi apoteker) bergeser menjadi tempat berjualan obat dan barang dagangan lain. Unsur perdagangan produk menjadi lebih dominan dibanding jasa. Kesalahkaprahan ini berlangsung dengan sukses karena kelalaian apoteker juga.
Atas perubahan-perubahan diatas didalam rancangannya, PP mengapresiasi apoteker dengan memberikan kesempatan untuk memungut jasa kepada pasien. Jasa yang diperoleh apoteker diantaranya adalah untuk diinvestasikan kembali dalam bentuk pendidikan berkelanjutan agar kompetensinya tetap terpelihara.
Melalui pemahaman yang demikian, saya melihat program back to basic bagi apoteker di apotek merupakan momentum yang sangat tepat untuk merumuskan kembali hubungan kerjasama antara apoteker dengan pemilik sarana apotek. Jasa profesional apoteker bukan merupakan bagian dari omset apotek, seperti halnya praktek dokter di rumah sakit. Sehingga dengan pola kerjasama yang baru nanti selain mendapatkan gaji, apoteker juga akan memperoleh jasa profesional.
Kalau demikian halnya, pendapatan minimal apoteker sebesar Rp 5.000.000 per bulan (seperti yang saya tulis disini) bukan hal sulit untuk diraih bukan ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Selamat Tinggal ISFI…
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
[...] apoteker. Pada saat ini terjadi maka akan terjadi juga peningkatan pendapatan. Masih ingat tentang jasa profesional apoteker (2) kan ? Tags: CPD, Pharmaceutical [...]
Ass.W.W.
Sejawat tercinta,
Maaf, saya sampaikan usulan:
1. Harus mulai berani menjalankan sistem remunerasi/penggajian dengan cara bagi hasil. Bisa atas omzet, laba, atau semacamnya, ini akan lebih fair dan menantang). Jadi mau 5 juta, 10 juta, 20 juta silakaan majukan tuh bisnis.
2, Sama kita sadari bahwa Apoteker yang baru pertama bekerja di Apotek apabila dia terjun langsung di garis depan, dapat dipastikan keluar keringat dingin karena ketakutan (seolah belum bisa apa-apa), jauh lebih pintar mereka yg terbiasa melayani di counter, entah itu AA atau karyawan biasa.
Yang berkeringat dingin ini kalo tidak bermental baja, akan mundur teratur. 4 langkah ke belakang, balik kanaaaaann, Jalan!….. lariiii…
Yang bermental baja dan terus tertantang maju, maka ini adalah salah satu sosok atau model Apoteker yang kita harapkan.
Nah kepada sejawat tipe terakhir tadi, ada baiknya melalui portal ini berbagi pengalaman (basa alus tuk nimbrung nulis): ‘Apa saja sih yang harus di lakukan si Apoteker sejak start awal kerja di apotek (tmsk buku apa yg minimal diperlukan) sampai akhirnya muncul sebagai sosok apoteker yang ‘mengasyikkan dan sering lupa pulang, bahkan ada yang di cari pasien krn sdh menyatu dengan harapan kesembuhannya/sugestif.
Tentunya masing-masing Sejawat punya pengalaman sendiri-sendiri, yang mana bisa dijadikan contoh model oleh Sejawat yang ingin serius jadi Apoteker di Apotek, termasuk mengkombinasinya sehingga bisa di buat desain baru sebelum terjun.
Di masa saya dahulu ada kesempatan PKL, Magang yang cukup memberikan wawasan dan keberanian. Jujur di Fakultas saat itu belum dapat.
Mudah-mudahan keringat dinginnya bisa di minimalisir.
Kalo banyak Sejawat yang bisa tampil PD seperti ini, Insya Allah secara otomatis Nama Apoteker kembali Harum dan disegani seperti masa masih sedikitnya Apoteker (Apoteker Belanda Lagi).
Maaf kalo kurang berkenan… Terimakasih…. Wass.
Asslm.w.w
Rodes termasuk salah satu dari sekian banyak sejawat bermental baja kan?..
Jadi, ayo bagi pengalamannya soal “apa saja sih yang harus dilakukan si Apoteker sejak start awal kerja di apotek (termasuk buku apa yang minimal diperlukan) sampai akhirnya muncul sebagai sosok apoteker yang ‘mengasikkan dan sering lupa pulang, bahkan ada yang dicari pasien krn sdh menyatu dengan harapan kesembuhannya/sugestif” dong..okey..
Pas banget momennya buat belajar soal hal diatas, soalnya sebentar lagi Insya Allah saya akan krja di apotek.
makasih..
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya tertarik sekali dg artikel ini. Kebetulan saya seorang PSA dan baru beberapa bulan ini buka apotek. Apoteker saya baru lulus tentu saja blm punya SP dan langsung bekerja di apotek saya sebagai pengelola.Apotek saya di jawa tengah, cilacap tepatnya, segala persyaratan saya penuhi mulai dari jarak dengan apotek lain, jumlah karyawan, sampai prof.fee apoteker dan gaji apen. Bisa anda bayangkan kita masih apotek baru tapi hrs mengeluarkan uang untuk gaji karyawan sebesar itu. Tetapi di tempat kami kalau tidak seperti itu SIA tidak bisa keluar dari dinkes. Saya penuhi aturan itu dengan harapan apoteker juga bisa mempertanggungjawabkan keprofesionalannya. Bagi saya apabila apoteker mmg profesional saya tidak akan keberatan memberikan prof.fee sebesar itu. Tetapi yg saya hadapi sekarang adalah kekecewaan. Prof.fee yang saya keluarkan tidak sesuai dg kinerja dari apoteker. Apalagi masih baru lulus. Contohnya saja obat2an ga hapal, ada pasien beli obat bingung, pasien mengeluh ini itu bingung, ada obatnya bilangnya g ada karena belum hapal, kartu stok aja yang bikin PSA. Tentu saja pasien pada lari. Kalau seperti ini sesuai tidak prof.fee yg saya berikan dg kinerjanya? Sebaiknya ISFI mempertimbangkan kembali aturan prof.fee sebesar itu berlaku untuk siapa,apoteker yg sudah berpengalaman atau yang baru lulus.Supaya kita sebagai PSA juga tidak dirugikan. Apotek mmg sebagai tempat pelayanan bukan murni bisnis, tapi kl seperti yang saya hadapi ini bisa bangkrut saya, pasien lari semua.
Terima kasih, itu masalah yang sedang saya hadpi. Sebernarnya sudah saya konsultasikan ke dinkes tapi masih belum puas karena solusinya selalu PSA yang harus maklum. Saya berharap ada solusi lain.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Saya akan berikan sedikit saran kepada bapak,diatas bapak mengatakan soerang apoteker yang baru lulus, saya sendiri sewaktu baru lulus, gak ngerti apa-apa, bahkan membedakan antitusiv dengan expectoran aja gak bisa, saya punya saudara dokter yang masih baru lulus, boro-boro mau ngobatin ngerti obat juga ngak, jadi sebenarnya kalau bapak mau buka apotek, jangan harap yang fresh graduate bisa memecahkan semua masalah, dan saya mau bertanya lagi, bapak mau buka apotek sudah ada persiapan ngak? Bapak harus persiapkan dahulu minimal apa itu apotek, perangkatnya, obat-obatnya, estimasi pengeluaran minimal 6 bulan dan buat target, strategi, dan berkoordinasi dengan apoteker dan asisten apoteker mengenai langkah apa yang akan dilakukan setelah apotek buka. Jadi apotek itu sangat kompleks dan butuh manajemen yang baik, persiapan yang matang, faktor-faktor nonteknis yang akan kita hadapi dilapangan cukup rumit, persaingan.
Jadi bapak salah besar hanya membebankan seluruh masalah kepada ‘apoteker fresh’, saya jamin bapak dan apoteker bapak adalah dua orang buta yang berjalan beriringan.
Jadi saran saya bapak sebagai seorang PSA harus mengajak Apoteker berdiskusi tentang strategy dan manajemen apotek, pengetahuan obat (mencakup : jenis,kegunaan,penentuan harga,dsb), niscaya apotek bapak akan maju dan berkembang.
Jika bapak mau, saya bisa memberikan bimbingan kepada bapak, saya yakin apotek bapak akan maju dan berkembang pesat.
[...] judul tulisan diatas, saya ingin menggarisbawahi beberapa komentar dari Ibu Dewie, seorang PSA, disini, disini, dan disini. Sangat mungkin suara Ibu Dewie mewakili suara mayoritas [...]
Kemarin saya mengikuti seminar yang dilakukan oleh depkes, disana kepala BPOM mengatakan sebenarnya ada peluang bagi kita apoteker untuk lebih leluasa untuk menyerahkan obat diluar obat wajib apotek, dan yang paling ekstrim, dengan pertimbangan yang matang dan rasional, kita sebagai apoteker boleh saja memberikan obat-obat psikotropik dan narkotik, karena menurut pembicara apotek adalah satu-satunya yang diberikan izin ‘mengedarkan narkoba’. Jadi begitu besarnya peran apoteker, dibutuhkan kemampuan kita yang lebih. Mungkin rekan-rekan akan sangat tidak setuju dengan pendapat saya tetapi saya akan berikan satu analogi, kenapa seorang yang berlatar belakang pendidikan Teknik, Pertanian yang bukan ekonom malah bisa berkembang dibidang ekonomi yaitu menjadi bankir, dan yang paling ekstrim, banyak sekali pengobatan-pengobatan alternatif yang hanya berpendidikan SD bahkan tidak tamat SD berani memberikan pengobatan (pakai resep segala!!!!!), apa tidak gila. Saya pernah menerima resep seorang pengobatan alternatif, begitu beraninya dia mengeluarkan resep obat-obat ethical.
DISINI SAYA HANYA MENGAJAK TEMAN SEJAWAT, BAGAIMANA MUNGKIN KITA YANG MEMANG AHLI DI OBAT TIDAK BERANI MENGOBATI, tetapi disini saya menggarisbawahi bahwa kita harus lebih meningkatkan pengetahuan kita tentang obat dan diagnosis penyakit, seperti tadi yang saya katakan bagaimana seorang teknik dan pertanian bisa menjadi ekonom, kita yang sudah punya dasar ilmu medis seharusnya lebih mudah untuk belajar tentang dignosis penyakit dan pengobatannya.
Sebenarnya untuk belajar diagnosis penyakit tidaklah begitu sulit, dan jenis-jenis obat juga tidak begitu berkembang pesat (isinya itu-itu saja, paling hanya pengembangan dosis dll).
ADA SATU HAL DIMANA PERAN APOTEKER SANGAT DIBUTUHKAN YAITU:
Pada saat seorang pasien tidak mampu untuk berobat ke dokter, dan tidak mempunyai dana ke puskesmas saja, kita harus mampu memberikan pelayanan kepada pasien, bahkan dengan hanya maksimal 10.000 kita sudah bisa memberikan pengobatan yang optimal kepada pasien. Kadang-kadang di dokter atau klinik pengobatan mencapai 100.000 padahal obatnya itu-itu saja.
SAYA HANYA MENGAJAK TEMAN SEJAWAT UNTUK LEBIH MEMBUKA WAWASAN, JANGAN HANYA TEORI SAJA, kita harus mampu berbuat, siapa yang melarang ahli teknik jadi bankir? siapa yang melarang gus muh menjadi ahli pengobatan KANKER (kanker lho!!!). Suatu saat saya mau mendengar seorang apoteker berhasil memikat sejumlah orang karena bisa mengobati penderita penyakit tertentu. Saya sudah mengalaminya….