Sabtu, 19 Juli 2008 | 01:30 WIB
Solo, Kompas – Apoteker perlu menguasai kemahiran berbahasa Inggris agar mampu bersaing dengan rekan seprofesi yang berasal dari luar negeri dan kini mulai membanjiri Indonesia. Para apoteker dari beberapa negara, seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina, kini banyak dijumpai bekerja di perusahaan farmasi multinasional yang ada di Tanah Air.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia Jawa Tengah Partana Boedirahardja di sela-sela Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker (UKA) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kota Solo, Jumat (18/7).
Menurutnya, dalam era pasar bebas nanti, persaingan apoteker akan semakin luas, tidak hanya antarsesama apoteker di dalam negeri, tetapi juga dengan apoteker dari luar negeri yang memilih bekerja di Indonesia.
”Sekarang memang belum terlihat persaingan langsung dengan apoteker dari luar negeri. Namun, mereka sudah menunjukkan sisi lebih, setidaknya dari sisi bahasa. Mereka menguasai bahasa Inggris yang oleh apoteker kita baru sebagian saja yang menguasainya dengan baik. Mereka juga menguasai bahasa Indonesia. Dokter asal luar negeri yang ada di Indonesia sekitar 3.000 orang, jumlah apoteker luar negeri yang bekerja di sini kira-kira hampir sama,” tutur Partana.
Kebutuhan apoteker di Tanah Air, menurutnya, masih cukup besar, terlebih saat ini ada kewajiban bukan hanya apotek yang harus mempunyai apoteker, tetapi juga puskesmas dan pedagang besar farmasi. Menurut Partana, di Jawa Tengah saat ini ada 3.000 apoteker.
Kualitas apoteker Indonesia, menurut dosen Kimia Fakultas Farmasi UMS, Broto Santoso, sebenarnya tidak kalah dari apoteker dari luar negeri.
”Dari sisi keilmuan, apoteker kita bisa dibandingkan. Memang dari segi bahasa Inggris kita kalah,” kata Broto yang juga Ketua Penyelenggara Penataran dan UKA.
Pelaksanaan UKA kali ini melibatkan 142 apoteker dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Tengah, seperti Blora, Cilacap, Klaten, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, dan Kota Solo. (EKI)
Sumber : Kompas.Com
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Selamat Tinggal ISFI…
- Perubahan Itu Keniscayaan
- Apoteker Memang Harus Narsis
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Mudah-mudahan bisa jadi pemicu inspirasi para sejawat apoteker untuk lebih meningkatkan kompetisinya di arena global. but, first thing first agar diakui di dalam masyarakat indonesia & tetap eksis.
Maju terus Pak MDP untuk memberikan pencerahan buat para apoteker indonesia..
Rgds,
Nofa
apakah sudah ada peraturan tentang apoteker harus ada disetiap puskesmas?????? makasih