Adalah suatu kewajaran bila yang menjadi prioritas dalam pemilihan lokasi apotek adalah tempat yang dekat dengan rumah sakit,  dokter praktek atau jalan protokol yang lalulintasnya cukup ramai. Pendekatan tersebut terutama didasarkan pada kemampuan calon lokasi mendatangkan penjualan bagi apotek nantinya. Memang begitulah teori sekaligus prakteknya.

Namun perlu disadari bahwa antara calon lokasi dan apotek ibarat telur dan ayam. Pada lokasi-lokasi yang baik atau strategis pasti sudah banyak apotek berdiri. Kalaupun masih sedikit jumlahnya, karena masih dalam tahap pengembangan, bisa diperkirakan penambahan populasi apotek akan berlangsung cepat. Pepatah mengatakan dimana ada gula disitu akan banyak semut.

Lokasi apotek berpengaruh langsung terhadap biaya apotek. Semakin strategis semakin mahal harganya sehingga kontribusi biaya (sewa) lokasi terhadap total biaya apotek akan semakin bermakna, bahkan sangat mungkin porsinya mencapai lebih dari separoh total biaya yang harus ditanggung apotek. Padahal biaya lokasi adalah biaya tetap.

Tingginya biaya apotek harus diimbangi dengan tingginya penjualan. Itulah hukum ekonomi. Bila penjualan tidak mampu menghasilkan laba kotor diatas atau minimal sama dengan total biaya maka kelangsungan hidup apotek terancam. Itulah dilema yang diemban apotek sejak lahir.

Sejatinya apotek adalah tempat bagi pasien atau konsumen untuk memperoleh obat setelah melalui proses konsultasi dengan apoteker. Didalam praktek pengelolaan apotek yang baik (good pharmacy practise, GPP), apotek semestinya melakukan pencatatan terhadap setiap pengobatan pasien. Hal ini diperlukan agar bisa diketahui secara dini potensi timbulnya masalah yang berkaitan dengan obat (drug related problem). Dengan demikian, maka pasien yang berkunjung ke apotek mendapatkan kepastian mutu dalam proses pengobatannya.

Kalau apotek telah menerapkan GPP dalam operasional sehari-harinya maka sebaiknya sasaran konsumennya harus dipertajam. Tidak mungkin apotek melayani konsumen dari mana saja, karena apotekpun secara tidak langsung harus memberikan layanan purna jual (after sales service) kepada pasien, meski sekedar menanyakan keadaan kesehatannya. Tanpa batasan cakupan wilayah layanan akan sulit bagi apotek dan pasien untuk memberikan dan mendapatkan asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) yang paripurna. Oleh karena itu, katakanlah, apotek hanya fokus melayani pasien yang tinggal pada radius 2 km dari lokasi apotek.

Dengan cara pandang demikian maka definisi lokasi yang strategis untuk apotek bisa diterjemahkan kembali. Bukan tidak mungkin dengan berbagai pertimbangan, misalnya, apotek berdiri satu lokasi dengan tempat tinggal apoteker yang berada dalam sebuah komplek perumahan. Seperti halnya dokter yang praktek dirumahnya sendiri. Tapi harus disadari bahwa apotek juga memiliki siklus hidup. Paling berat tentunya pada tahap pertumbuhan dan perkembangan, karena disitulah daya tahan aliran kas berperan signifikan.

Pendekatan ini memang bersifat paradoks. Tapi disinilah kesempatan terbuka lebih luas untuk para apoteker baru memulai kiprahnya di apotek. Janganlah modal keuangan menjadi hambatan utama untuk mengabdikan profesi. Niat yang tulus disertai kemauan yang kuat akan membuka jalan kesuksesan. If there is a will, there is a way.

Possibly Related Posts: