Untuk mendapatkan informasi dan menjalin silahturahmi saya ikut bergabung dalam beberapa milis. Salah satunya adalah milis Alumni Fakultas Farmasi UGM. Pada tanggal 13 Agustus kemarin, dalam milis tersebut, terkirim email yang berisi sebagai berikut :

True story on August, 2008 :

Beberapa hari setelah memasang iklan lowongan untuk tenaga apoteker pendamping, seorang lulusan diploma teknik mengajukan lamaran. Menanggapi lamarannya kujelaskan pada si pelamar bahwa kualifikasi yang dibutuhkan seorang apoteker, beberapa saat setelah mendengar penjelasanku si pelamar mengajukan pertanyaan ringan tapi sangat dalam : Apa sih syarat jadi apoteker? ………..Duh gusti

Saya tidak bermaksud mengeneralisir ataupun mendramatisir isi email tersebut, tapi ijinkan saya menyimpulkan betapa masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang profesi apoteker. Apabila sejawat keberatan dengan kesimpulan saya, silahkan saja, karena saya juga tidak akan menyanggah…

Sekarang mari kita coba buat analisis secara sederhana data-data berikut. Asumsikan jumlah apoteker di Indonesia pada saat ini sebanyak 28.000 orang. Lapangan kerja apoteker tersebar luas mulai dari apotek, industri, rumahsakit, instansi pemerintah sampai lembaga pendidikan. Kalau boleh jujur, hanya di apotek, peran apoteker yang memiliki peluang terbesar untuk bersentuhan langsung masyarkat.

Pada saat ini jumlah apotek sekitar 8000 unit. Apresiasi masyarakat terhadap apotek tidak perlu diragukan lagi. Saya yakin mayoritas masyarakat dapat mendifinisikan pengertian apotek dengan benar. Bila dianggap 50% dari populasi apotek memiliki apoteker pendamping, maka jumlah apoteker yang mengabdikan profesinya di apotek sekitar 12.000 orang atau 42,8% dari total populasi. Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap apoteker? Isi email diatas adalah salah satu jawabannya.

Tanpa bermaksud membebankan secara berlebihan kepada sejawat yang berpraktek di apotek, tapi fakta mengatakan bahwa apotek ibarat pintu atau jendela bagi sebuah “rumah apoteker”. Aktifitas maupun hasil pekerjaannya akan dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh karenanya masyarakat akan dengan mudah membuat kesimpulan.

Sebaliknya apoteker yang tidak berpraktek di apotek, tidak kelihatan aktifitasnya tetapi terasa hasilnya. Ambil contoh mereka yang bekerja di industri. Meski peran mereka termasuk strategis, misalnya penanggungjawab produksi atau pemastian mutu, aktifitasnya tidak terlihat secara kasat mata tetapi dapat dirasakan melalui produk yang dihasilkan. Seperti halnya seorang juru masak, biasanya orang lebih sering bertanya siapa juru masaknya bila masakannya terasa hambar. Begitu juga ditempat yang lain.

Melalui pendekatan seperti itu, saya mendapatkan tambahan perbendaharaan dalam konteks sosialisasi penerapan asuhan kefarmasian (pharmaceutical care). Perubahan orientasi dari produk ke asuhan kefarmasian di apotek bisa juga ditafsirkan sebagai program mengapotekerkan apotek, karena pada dasarnya semua aktifitas dalam apotek adalah aktifitas apoteker. Bahwa ada orang lain selain apoteker di apotek, mereka adalah karyawan yang bertugas membantu apoteker. Dengan pendekatan yang sama, kita juga akan lebih mudah menghayati mengapa ISFI mencanangkan program Tiada Apoteker Tiada Pelayanan (TATAP).

Sekarang, mari kita jawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, seberapa apotekerkah kita?

Possibly Related Posts: