Salah satu aktifitas apotek yang cukup strategis dan berpengaruh langsung terhadap daya saingnya adalah aktifitas pembelian. Secara prosedur, sistem pembelian apotek diantaranya diatur melalui Permenkes 918 tentang Pedagang Besar Farmasi. Pada intinya, apotek dalam memperoleh obat harus melalui jalur distribusi resmi baik melalui secara vertikal (PBF, Pabrik Obat) maupun horisontal (apotek).
Persediaan obat di sebuah apotek memiliki dimensi yang kompleks. Di satu sisi, idealnya jumlah persediaan harus lengkap baik jumlah maupun jenis. Di sisi yang lain, terdapat hambatan (constrain) yang harus dipertimbangkan yaitu masa kedaluarsa, tingkat perputaran dan modal kerja yang tersedia. Mempertemukan kondisi ideal dan hambatan bukan hal yang mudah. Apalagi adanya keharusan bagi PBF untuk menjual obat dalam kemasan terkecil.
Banyaknya jenis obat yang beredar serta beragamnya selera dokter dalam memilih merek obat untuk pasiennya merupakan variabel yang mutlak diperhatikan. Modal kerja akan membengkak bila kedua variable tersebut tidak singkron. Artinya terjadi missmatch antara permintaan dan penawaran. Resikonya adalah terhentinya arus kas dan penghapusan karena kedaluarsa. Bagi apotek jaringan kondisi seperti itu bisa dieliminasi. Antar apotek jaringan bisa bertukar persediaan sesuai dengan situasi permintaan setempat.
Bagaimana dengan apotek independen ? Untuk menyiasati hal ini banyak apotek independen yang melakukan pembelian ke sesama apotek (pembelian secara horisontal). Apotek yang modal kerjanya besar biasanya akan menjadi rujukan bagi apotek lain yang bermodal kerja terbatas. Jumlah pembeliannyapun tidak harus dalam kemasan terkecil. Bisa eceran. Sistem seperti ini jelas menguntungkan kedua belah pihak. Namun sayang, terkadang harga belinya biasanya sedikit lebih mahal dibanding kalau membeli langsung ke PBF. Dan karena kurangnya keterbukaan antar apotek, dengan sistem seperti ini, apotek juga masih menanggung resiko missmacth.
Dengan kemajuan teknologi informasi dan meratanya jaringan internet sistem pembelian secara horisontal bisa dikembangkan dengan lebih baik untuk mencapai situasi win-win. Sistem ini bisa berjalan bila ada 2 buah apotek yang bergabung. Tetapi, semakin banyak anggota tentunya akan semakin baik. Persyaratan yang mutlak diperlukan adalah keterbukaan antar anggauta.
Sistem pembelian horisontal ini secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut. Apotek mengupload database berbasis web ke jaringan internet. Database tersebut paling kurang berisi nama obat dan jumlah persediaan. Agar datanya bisa mutakhir, minimal harus diperbaharui sehari sekali. Apotek yang bergabung dalam sistem ini bisa melihat database masing-masing anggauta setiap saat. Nah, karena bisa melihat level persediaan masing-masing anggauta, maka masing-masing apotek bisa melakukan penawaran atau permintaan sesuai dengan kondisinya. Kalau ada kecocokan baru bernegosiasi harga.
Sistem ini bisa diterapkan dimana saja sepanjang ada jaringan internet. Idealnya memang untuk apotek dalam satu wilayah, katakanlah kecamatan, atau kota. Tapi kalau ada apotek diluar kota atau diluar propinsi yang mau bergabung, bisa saja, asal mau menanggung resiko biaya pengiriman.
Karena menyangkut hal yang strategis maka apoteker harus terlibat langsung dalam penerapan sistem ini. Kalau apotekernya gaptek, bisa saja didelegasikan pada orang lain, tetapi pengambilan keputusan tetap di tangan apoteker. Saya yakin bila sistem seperti ini diterapkan silaturahmi antar apoteker akan terjalin dengan baik. Dan yang terpenting, masalah persediaan di apotek bisa dipecahkan bersama. Bahkan bukan tidak mungkin masalah yang lainpun bisa terpecahkan. Sistem ini juga menjamin terciptanya situasi disana senang disini senang.
Pada saat kongres ilmiah bulan lalu di Yogya, saya mendengar beberapa sejawat kita telah memulai menerapkan sistem ini. Inisiator dan (mungkin) pemilik ide (hak cipta?) adalah senior kita Pak Tom (Drs. Ahaditomo, Apt). Apa sejawat berminat ?
Possibly Related Posts:
- Sudah Saatnya “Values” Sebagai Strategi Bersaing Apotek(er)
- SPA Berbasis Web, Apa Itu ?
- Belajar dari Singapore Airlines
- Experiential Marketing di Apotek
- Sistem Jaringan Bagi Apotek Independen
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
[...] saya minggu lalu yang berjudul Horisontalisasi Sistem Pembelian pada intinya mengulas tentang mekanisme pembelian antar sesama apotek untuk menekan jumlah [...]
portal untuk curhat yang tepat bagi apoteker, bisa menjadi referensi bagi kami untuk mendapatkan info yang lebih luas mengenai praktek kefarmasian, juga memberikan info yang bermanfaat untuk para apoteker untuk bisa membangun bisnis apotek sendiri.
[...] Untuk keluar dari samudra merah tidak mudah bagi apotek independen. Dari segi biaya pengadaan dan upaya meminimalkan dead stock tidak mudah mereka lakukan. Kecuali mengabaikan aturan seperti membeli dari sumber tidak resmi. Oleh karenanya ada inisiatif dari beberapa apotek independen yang kemudian bergabung dan menerapkan sistem pembelian secara horisontal. [...]
Ibu Menkes telah meresmikan Apotek Rakyat Pasar Pramuka, dengan demikian, ibu menkes telah melegalkan apotek rakyat di pasar pramuka, banyak pembeli yang mengatakan kepada saya bahwa harga di pramuka jauh lebih murah. Bagaimana tanggapan teman-teman sejawat? Apakah dengan demikian tidak mencekik kita? Semua tau dan saya yakin di pasar pramuka ada sekitar 40 % obat palsu beredar, saya BISA JAMIN!!!!!!! (bisa saya beberkan obat-obat palsu yang beredar di pasar pramuka). Saya sebenarnya miris dan sedih melihat menkes meresmikan pasar pramuka menjadi apotek rakyat, kita apotek independen yang sudah sulit, ditelikung oleh kebijakan menkes tersebut. Sebagai apoteker saya menganggap kebijakan 1 apoteker untuk 4 toko sangat aneh bin ajaib. Pertanyaan saya apakah apotek rakyat pasar pramuka punya hak istimewa? Apakah mereka juga termasuk Horiontalisasi yang tadi???? (karena Menkes juga sudah meresmikan). Saya tidak mau rekan menjawab yang klise, atau hati nurani, saya mohon di komentari sejujurnya.
Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan apotek rakyat. Menurut saya kebijakan membuat apotek rakyat merupakan jalan pintas untuk mengatasi ruwetnya pola distribusi obat (dalam skala lebih luas bisa juga bisnis obat). Hal itu tidak lebih dari upaya legalisasi sesuatu yang illegal. (Silahkan baca Hikayat Apotek Rakyat).
Dalam konteks horisontalisasi sistem pembelian, apa yang ada di pasar pramuka dengan apotek rakyatnya sama sekali bukan contoh yang dimaksud.