Di bidang teknologi ada istilah technopreneurship atau wirausaha teknologi.  Technopreneurship merupakan proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya, dengan harapan, penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional.

Technopreneur adalah orang yang menjalankan usaha dengan basis teknologi. Seorang  technoprenuer  adalah  entrepreneur yang menguasai teknologi, kreatif, innovatif, dinamis, berani berbeda, dan sangat bergairah dengan pekerjaannya. Mereka menyukai tantangan dan berusaha selalu meraih kesuksesan. Mereka tidak takut gagal, karena menganggap kegagalan sebagai sebuah pengalaman, stimulator untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan bekal untuk tantangan berikutnya. Para technoprenuer menganggap pengembangan berkelanjutan sebagai sebuah proses organik dan selalu mencoba untuk membuat definisi baru tentang ekonomi digital yang dinamis.

— @@@ —

Dalam kehidupan sehari hari obat sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Banyak ragam obat beredar di pasar. Karena pendekatan ekonomi lebih dominan, peredaran obat sudah tidak berbeda dengan komoditas dagang lainnya.  Situasi semacam ini muncul mengingat faktor daya tarik obat.

Dari sisi produsen terdapat kesempatan untuk memperoleh profit margin yang tinggi karena kewenangannya menentukan harga obat asal diberi merek. Dari sisi perdagangan, bila merek yang dibangun produsen kalah bersaing atau produsen membutuhkan tingkat perputaran yang ekonomis, banyak entrepreneur yang siap untuk memutar uangnya disini.

Situasi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Kelebihan pasokan ke pasar yang menyebabkan peredaran obat merembes kemana mana merupakan ciri khas proses komoditisasi obat. Bahkan karena kreatifitas dan kemampuan berinovasi sementara oknum, jamu yang tergolong obat tradisional berbasis bahan herbal tidak luput dari sentuhan obat, sehingga omsetnya bisa melambung tinggi. Obat memang pahit rasanya, tapi manis untungnya.

Para pelaku yang terlibat dalam bisnis farmasi memiliki bermacam-macam latar belakang. Yang jelas, apoteker sebagai orang yang paling kompeten, justru tergolong kaum minoritas dalam bisnis ini.

— @@@ —

Dengan mengacu pada uraian diatas, apakah technopreneur bisa secara spesifik menggeluti bidang farmasi ? Bila mungkin apakah mereka bisa disebut pharmapreneur ? Lantas bagaimana kita mendiskripsikan pharmapreneur dengan tepat agar mereka bisa merekonstruksi bisnis farmasi yang sudah terlanjur carut marut tersebut ?

Agar lebih menjiwai esensi bisnisnya, idealnya, seorang pharmapreneur adalah juga seorang apoteker. Kalau demikian halnya siapkah perguruan tinggi farmasi mencetak apoteker yang juga pharmapreneur?

Bagaimana pendapat anda, sejawat ?

Possibly Related Posts: