Keluhan lazim yang sering muncul dari apoteker yang berpraktek di apotek adalah omzet rendah, stok tidak lengkap, banyak barang slow moving, modal terbatas dan sebagainya. Mengelola apotek memang tidak gampang. Idealnya barang yang dibeli adalah barang yang laku agar modal kerjanya efisien dan tidak ada barang macet. Namun sayang, rasanya kondisi itu hanya bisa dicapai bila satu nama generik satu merek. Atau seperti iklan, apapun makanannya minumnya teh botol, apapun merek obatnya apotek berhak mengganti sesuai dengan persediaan yang dimiliki apotek.
Memang berbagai cara bisa dilakukan untuk menyiasati hal tersebut. Komentar-komentar yang masuk dalam tulisan saya yang berjudul Haruskah Apotek = Supermarket Obat merupakan sedikit diantara contoh yang sudah diterapkan di lapangan. Alternatif lain yang cukup menarik adalah membentuk jaringan antar sesama apotek independen.
Tulisan saya minggu lalu yang berjudul Horisontalisasi Sistem Pembelian pada intinya mengulas tentang mekanisme pembelian antar sesama apotek untuk menekan jumlah persediaan. Selain membeli ke PBF, pembelian secara vertikal, antar apotek bisa juga saling bertransaksi jual-beli. Cara seperti ini memungkinkan apotek membeli dalam jumlah seperlunya sesuai kebutuhan, tidak harus sejumlah kemasan terkecil. Bila cara ini dibuat sistem dan didukung teknologi informasi yang memadai maka tidak berbeda dengan mekanisme yang diterapkan apotek jaringan. Apotek yang menerapkan sistem ini dengan sendirinya bisa meningkatkan efisiensi sehingga akan memperoleh keunggulan kompepetitif.
Bagi sejawat yang aktif di apotek dan berminat mengetahui lebih lanjut tentang penerapan sistem ini, sejawat Drs Ahaditomo, Apt., penggagas sistem ini, dengan senang hati akan menjelaskan lebih lanjut kepada sejawat. Untuk itu sejawat bisa menghubungi beliau via email di alamat tom_ahaditomo@yahoo.com atau menyampaikannya melalui portal ini (dengan mengisi komentar dibawah ini).
Possibly Related Posts:
- Sudah Saatnya “Values” Sebagai Strategi Bersaing Apotek(er)
- SPA Berbasis Web, Apa Itu ?
- Belajar dari Singapore Airlines
- Experiential Marketing di Apotek
- Horisontalisasi Sistem Pembelian
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Sebenarnya teori ini hanya wujud ketakutan menghadapi persaingan, sebenarnya jika kita pintar-pintar dan memaksimalkan ilmu kita, apotek merupakan wadah yang sangat potensial untuk mengembangkan ilmu kefarmasian kita seperti komentar saya di bagian lain, apoteker harus menguasai ilmu kedokteran umum, sehingga seorang apoteker mampu juga memberikan pengobatan umum, karena ilmu kedokteran tidak jauh-jauh beda dengan ilmu kefarmasian, ilmu kedokteran dan ilmu farmasi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, ilmu kedokteran tidak harus dipelajari di bangku kuliah, tetapi dari buku-buku dan pola-pola penulisan resep dokter spesialis,.
Sehingga dengan demikian kita dapat memaksimalkan obat yang ada diapotek, kita juga bisa memberikan edukasi yang baik kepada pasien. Saya sudah mempraktekkan ilmu saya diapotek saya, tanpa ada praktek dokter, saya bisa memberikan pengobatan kepada pasien
Menurut saya upaya membentuk sistem jaringan bukanlah wujud ketakutan tetapi usaha meningkatkan daya saing dalam menghadapi kompetisi. Hal ini sebenaranya sudah lama dijalankan secara tradisional seperti misalnya membeli obat ke apotek terdekat bila kita kehabisan stok. Penggagas sistem ini berusaha memanfaatkan kemajuan teknologi informasi agar hasilnya lebih optimal.
Saya ngak pernah mendengar Praktek Dokter Jaringan, karena dokter percaya akan kemampuannya, masak satu dokter nelpon dokter lainnya untuk menanyakan penyakit, demikian juga sebaliknya apoteker harus mampu berdiri sendiri, dengan modal seminim mungkin, kita harus mampu memaksimalkan obat yang ada, karena menurut pengalaman saya hampir 80 persen pasien mau mengikuti nasehat apoteker untuk mengganti resep sesuai dengan obat yang ada di apotek kita.sampai suatu saat kita melengkapi obat-obat kita. Jadi gak perlu pake jaringan-jaringan segala. Sebaiknya apoteker harus mengetahui beberapa hal
1.Semua orang yang masuk apotek mengaggap semua yang ada di apotek mengerti obat
2.Seorang apoteker harus Pede dengan kemampuannya, yaitu dengan mempersiapkan ilmu tentang penyakit dan obat-obatan
3.Hampir 90 % pasien gak mengerti apa obat yang di beli dalam resep, menjadi peluang bagi apoteker.
4.Untuk lebih lagi konsultasi dengan saya, akan saya buka tabir meningkatkan pendapatan apotek,tanpa jaringan segala
5.Banggalah menjadi seorang apoteker, karena saya terlambat menyadarinya
[...] Ferdi berkomentar 2 kali pada tulisan saya yang berjudul Apotek Tanpa Resep, 2 kali pada Sistem Jaringan Bagi Apotek Independen dan sekali pada Gerakan Jangan Masuk Farmasi. Kalau saya simpulkan komentar-komentar sejawat Ferdi [...]
Solusi yang kreatif. semoga bisa menjadikan apotik di indonesia lebih baik. lebih lengkap,lebih murah lebih memuaskan dan menyehatkan masyarakat. lebih memberi solusi pada masyarakat, lebih peduli.