Pada sebuah halaman bertajuk konsultasi di sebuah harian terkemuka ada rubrik tanya jawab tentang kesehatan yang diasuh oleh seorang dokter. Berbeda dengan biasanya, topik yang ditanyakan oleh pembaca kali itu adalah keluhan pasien yang merasa bahwa dokter yang sudah menjadi langganannya dianggap tidak berpihak kepada pasien hanya karena tidak mau membuatkan surat keterangan sakit.

Si penanya adalah seorang ibu rumah tangga, single parent, dengan seorang anak balita.Alkisah anak balita dari si penanya menderita sakit demam yang mengharuskan si penanya tidak masuk kerja selama tiga hari karena harus menungguinya di rumah. Berhubung di tempat kerja si penanya berlaku peraturan pemotongan gaji bagi yang tidak masuk bekerja kecuali sakit, si penanya meminta ke dokter tersebut surat keterangan sakit bagi dirinya. Sang dokter tidak mau memenuhi permintaan si penanya.

Di kesempatan lain si penanya juga pernah meminta tambahan vitamin untuk ibunya pada resep yang diberikan kepada si penanya sewaktu yang bersangkutan sakit. Kembali sang dokter menolak memenuhi permintaannya. Atas kejadian kejadian tersebut si penanya menyimpulkan bahwa dokter tidak berpihak kepada pasien.

Pada masa sekarang permintaan seperti ilustrasi diatas (mungkin) sudah merupakan hal yang jamak. Tidak terkecuali di apotek. Modusnya beraneka ragam. Mulai dari meminta tambahan obat, susu formula, atau barang-barang toileters pada resep. Bahkan yang lebih ekstrem, ada pasien yang hanya meminta kwitansi dan copy resep tanpa menerima obatnya dan menghargainya senilai persentase tertentu dari harga resep. Kejadian ini biasanya dilakukan oleh mereka yang biaya pengobatannya diganti oleh kantor tempat mereka bekerja.

Bagimana sikap apotek ? Menolak berarti mengeliminasi kesempatan untuk mendapatkan omzet dan keuntungan lebih besar. Menerima berarti mempertaruhkan etika, sistem nilai bahkan tanggungjawab hukum.  

Silahkan direnungkan. Atau mau didiskusikan ? 

Possibly Related Posts: