Kebahagian seseorang terdiri dari 3 dimensi yaitu dimensi kehidupan personal, dimensi kehidupan sosial dan dimensi kehidupan profesional. Ketiga dimensi tersebut harus dipelihara secara seimbang untuk dapat mencapai titik kebahagiaan yang optimal.

Dalam dimensi kehidupan personal kita merajut intreraksi dengan keluarga, dengan pasangan hidup (istri/suami), atau juga dengan anak-anak kita. Adakah kita bisa membangun sebuah interaksi yang membahagiakan dengan kedua orang tua dan adik-kakak kita? Adakah kita bisa menjalin sebuah relasi yang penuh kehangatan dengan suami/istri dan anak-anak kita? Adakah kita mampu menjadikan pasangan hidup dan anak-anak kita sebagai sumber kebahagiaan yang tak pernah habis?

Secara sosial kita akan merasa bahagia apabila kita dapat hidup dalam komunitas yang memungkinkan kita saling berbagi dengan teman satu ide atau satu hobby. Harapannya, dalam interaksi komunitas yang saling guyub itu, bisa terbangun solidaritas dan jalinan interaksi yang membahagiakan.

Sedangkan dimensi kebahagiaan profesional akan tercermin pada produktifitas yang mampu kita hasilkan dari pekerjaan profesional yang kita lakukan.  Inilah jejak kebahagiaan yang tersembunyi dibalik kehidupan profesional kita.  Disini kita mencoba bersungguh-sungguh untuk menjawab pertanyaan : apakah kita benar-benar merasa bahagia dengan pekerjaan atau profesi yang tengah kita tekuni saat ini? Apakah kita bisa menemukan buih keriangan dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang sedang kita lakoni saat ini ?

Sebagai apoteker peran sentral kita sejatinya adalah sebagai pelindung (guardian) bagi konsumen obat. Posisi konsumen yang tidak merdeka terhadap pemilihan produk obat yang diresepkan oleh dokter, atas alasan apapun, dan monopoli penguasaan atas produk obat oleh sistem produsen, seharusnya bisa dieliminasi bila kita mampu menjalankan peran kita.

Memang disadari bahwa ketidakmerdekaan konsumen karena secara makro obat lebih sering dikaji dengan pendekatan komoditi barang yang berdimensi ekonomi yakni ketersediaan, mutu, dan harganya dari pada sebagai komoditi iptek serta pelayanan kesehatan yang berdimensi khasiat serta kemanusiaan.

Dengan demikian segala proses transaksi pelayanan obat yang seyogyanya berwarna profesi kefarmasian antara konsumen dengan apoteker, tidak lagi menjadi bagian vital dalam strategi makro obat. Dan setting ini sekaligus menempatkan kita dalam posisi sangat terbuka untuk ikut terperangkap dalam proses ekonomi obat yang secara alamiah memang sulit dikendalikan. Konsumen obat menjadi segmen obat yang captive bagi perdagangan obat, yang secara eksplisit terlihat demikian nyata pada kelompok obat yang harus diresepkan dokter.

Format hubungan apoteker-konsumen yang tidak seimbang ini tentunya menimbulkan permasalahan dalam hal upaya-upaya memberdayakan hak-hak konsumen, dalam bentuk perlindungan dari praktek pelayanan yang tidak proporsional maupun terhadap resiko produk yang dibelinya. Prosedur pelayanan obat yang hanya sekedar menjual obat tentunya menyimpang dari tatanan pelayanan kesehatan. Sehingga pada hakekatnya pasien menebus obat adalah dengan penuh keterpaksaan sebagai akibat penyakit yang dideritanya.

Apabila dalam menjalankan profesi kita belum dapat menjadi pelindung bagi konsumen obat maka sesungguhnya kita juga belum mampu memikul tanggungjawab kita sebagai apoteker. Nah kalau kita sudah merasa bahagia tanpa menjalankan peran yang seharusnya maka kita harus mempertanyakannya kembali.

Sudah tepatkah kita mendifinisikan kebahagiaan profesional kita ?

Mari kita introspeksi.

(tulisan ini terinspirasi atas pertanyaan Pak Pramono disini, artikelnya Pak Tom disini dan artikel berjudul In Pursuit of Happiness disini )

Possibly Related Posts: