Salah satu upaya untuk merebut hati konsumen adalah dengan menciptakan pengalaman yang mengesankan. Sebut saja misalnya rumah makan yang mengusung menu dan tata ruang yang khas, seperti suasana di rumah nenek, suasana di pedesaan, suasana di Timur Tengah atau yang lainnya. Mungkin citarasa masakannya tidak terlalu istimewa. Tapi karena suasananya yang mengesankan, maka timbullah pengalaman unik bagi konsumen. Konsumen akan lebih merasa nikmat bersantap masakan sunda di atmosfir yang bercorak pedesaan atau di hamparan sawah. Itulah, katanya, yang disebut experiential marketing.
Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya banyak kita temui contoh experiential marketing. Ada orang yang sangat fanatik terhadap bengkel mobil tertentu, toko elektronik tertentu, apotek tertentu, atau dokter tertentu. Fanatisme konsumen terhadap sebuah barang atau jasa muncul karena sensasi positif yang ditimbulkan oleh kelima panca indranya setelah merasakan pelayanannya. Padahal, belum tentu si pemilik usaha yang dijadikan pilihan oleh konsumen menyadari bahwa mereka sebenarnya telah mampu menciptakan experiential marketing.
Experiential marketing merupakan alat pembeda yang efektif dalam persaingan. Blue ocean strategy yang pernah saya tulis disini bisa juga dibentuk melalui experiential marketing. Experiential marketing bersifat unik karena berasosiasi langsung dengan orang yang menjalankannya. Experiential marketing juga bisa bersifat dinamis bila kompetensi orang yang menjalankannya terpelihara.
Apakah apotek perlu menerapkan experiential marketing ? Menurut saya sangat perlu. Apotek yang bisa menciptakan sensasi positif akan mendapatkan konsumen yang fanatik. Banyak jalan untuk menuju kesitu. Satu diantaranya adalah dengan memberikan layanan asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) secara langsung.
Asuhan kefarmasian ibarat sumber yang tak pernah kering bagi penerapan experiential marketing. Banyak sekali masalah yang bisa kita eksplorasi maupun eksploitasi dari asuhan kefarmasian untuk kita sampaikan kepada konsumen. Kunci suksesnya adalah kemampuan dan kemauan berkomunikasi secara langsung dan penguasaan terhadap masalah.
Di era web 2.0 seperti sekarang, menciptakan experiential marketing bisa juga disampaikan secara virtual melalui blog atau website. Apotek yang membuka layanan asuhan kefarmasian melalui blog atau website akan membuat konsumen selalu stay connected. Bahkan karena sifatnya, layanan seperti ini juga bersifat mobile. Konsumen maupun apoteker dapat berinteraksi tanpa terikat ruang. Dimanapun mereka berada asal tersambung jaringan internet keduanya bisa saling berhubungan.
Membangun sistem seperti itu membutuhkan waktu. Menarik minat konsumen untuk berkunjung ke blog atau website kita bukan hal yang mudah. Yang penting diingat adalah kemauan kita untuk mengupdate isi website secara berkala. Dan jangan lupa menyebutkan secara explisit nama apotek kita.
Beberapa sejawat sudah berhasil melakukannya (misalnya apotekputer, apotekdagdigdug, atau informasi-obat). Sayang tidak semuanya secara eksplisit menyebutkan nama apoteknya. Padahal cara seperti ini adalah bentuk promosi yang efektif karena jaungkauannya tak terbatas dan biayanya sangat minim.
Possibly Related Posts:
- Sudah Saatnya “Values” Sebagai Strategi Bersaing Apotek(er)
- SPA Berbasis Web, Apa Itu ?
- Belajar dari Singapore Airlines
- Sistem Jaringan Bagi Apotek Independen
- Horisontalisasi Sistem Pembelian
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
[...] tidak mungkin pasien akan mendapatkan sensasi positif yang menurut ilmu pemasaran dikenal dengan experiential marketing. Efek sampingnya pasien akan lebih percaya pada kita… Popularity: 1% [...]
[...] menerapkan strategi customer intimacy SIA telah berhasil menciptakan sebuah pengalaman yang sangat mengesankan yang tercipta melalui kombinasi sensasi yang dirasakan oleh panca indra para penumpangnya. Sebut [...]