Sejawat Fajar mempertanyakan melalui email ke milis ISMAFARSI apakah apoteker underqualified sehingga masih harus meningkatkan kompetensinya agar sejajar dengan tenaga kesehatan lain ? Atau overqualified sehingga banyak yang enggan datang rutin ke apotek ?
Menurut saya urusan peningkatan kompetensi tidak selalu berhubungan dengan kondisi yang underqualified. Peningkatan kompetensi adalah sebuah proses yang dinamis. Konotasi kata peningkatan lebih bertendensi kepada pemeliharaan, artinya pada tahap awal mungkin saja merupakah proses up grading tapi berikutnya merupakan upaya untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan. Jadi bisa saja awalnya underqualified tetapi pada tahapan selanjutnya adalah memelihara agar tetap meet the qualification.
Lalu bagaimana dengan masalah overqualified ? Nah ini yang menarik. Konotasi overqualified mungkin lebih berasosiasi dengan kondisi underpay, atau lebih kongkritnya kompensasi yang diterima tidak sebanding dengan kompetensinya. Memang harus diakui dengan besar hati, bagi mereka yang tidak menjiwai filosofi perapotekan secara benar, peran apoteker di apotek tidak lebih dari sekedar penaggungjawab teknis. Kehadirannya tidak menambah dan ketidakhadirannya tidak mengurangi.
Kompensasi berbanding lurus dengan kompetensi. Sepanjang apotek diposisikan sebagai bisnis ritel maka kompetensi yang diperlukan adalah kemampuan untuk menghasilkan penjualan sebesar-besarnya. Pola yang dipakai biasanya berdasarkan sistem insentif atau komisi berdasarkan target. Gaji pokok tidak terlalu besar tetapi take home pay bisa tinggi kalau targetnya tercapai. Sayangnya kompetensi seperti ini bukan monopoli apoteker. Banyak (bahkan lebih banyak) orang yang bukan apoteker yang lebih kompeten.
Penekanan yang berlebihan pada sisi aktifitas ritel rawan terhadap benturan kepentingan. Alih alih meminimalkan kasus polifarmasi yang sudah marak terjadi melalui peresepan dokter, sangat mungkin malah menjadi ajang timbulnya polifarmasi bentuk baru melalui apotek. Tapi siapa yang peduli terhadap masalah seperti ini bila orientasinya adalah penjualan ?
Oleh karena itu saya lebih setuju bila dikatakan apoteker yang di apotek itu underpay bukan overqualified. Semestinya semua apoteker harus harus memegang teguh prinsip ini. Standar minimal jasa profesional apoteker yang telah ditetapkan ISFI harus ditaati. Jangan sampai terjadi perang tarif hanya karena iming-iming jam kerja yang fleksibel.
Kalau kita cermati kasus runtuhnya ekonomi Amerika dipicu oleh pelanggaran etika para pelakunya. Dalam konteks lain, bisa saja terjadi kasus malpraktek di apotek karena pelanggaran etika yang belum tentu dilakukan oleh apoteker. Tapi meski begitu, jangan lupa, apoteker tetap akan dituntut tanggungjawabnya.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Sejawat Fajar dan Moderator Ytc.
Sekedar cerita, saya masuk farmasi karena dari saya kecil melihat dan mendengar tetangga yang seorang AA begitu kesohor di desa saya. Saat itu apotek di kotaku tidak sampai 5, barangkali.
Nah setelah lulus SMA terlintaslah kenangan masa kecil itu. Kalau AA yang notabene Asisten-nya saja begitu, apalagi Apoteker-nya, tentu lebih hebat lagi dooong.
Yaa berdasar pengetahuan yang cuma sebegitu, saya coba ikut test sebagai pilihan ke-2. Alhamdulillah di terima di Fakultas Farmasi.
Naah, mulai dari awal-pun saya bingung dan terkejut, Fakultas yang saya masuki ini posisinya di mana? ‘terasa nggak jelas/ngambang’ (dalam banyak hal tentunya tmsk terbayang lulusannya). Tapi barangkali itu kegalauan saya saja, mau apa lagi, ikuti air mengalir… sampai akhirnya bisa lulus juga (wong nggak pandai-pandai amat).
Sempat saya heran, di Fakultas ini cukup banyak teman-teman yang seperti saya… mengambang, memang gak sempet kita sensus sih, masuk di Farmasi bukan sebagai pilihan pertama dan utamanya.
Semoga saja Fakultas sudah memetakan hal yang beginian, sehingga lebih mudah mencari pemecahan masalah, jika dianggap hal ini masalah.
Jadi dengan bahan bakal yang ’serba tanggung’ bisa di bayangkan bagaimana produk akhirnya… Kiprahnya….
Contoh aneh, walaupun kita ahlinya, tapi “hanya/cuma” mengganti obat (dengan bahan aktiv sama) yang di tulis di resep dokter-pun gak boleh (ada prosedur lain maksudnya). Ini kan benar-benar lucu… bingung khan….? Buat apa kita..?
Bagi yang bekerja di Apotek milik orang lain, semakin kemari semakin paham, bahwa kita itu ‘maaf, kita tidak berperan dan tetap mengambang… mbingungi…”, sehingga muncul yang dikenal apoteker TEKAB (teken kabur), ‘Pake nama doang’ dan sebagainya spt diurai moderator diatas yang ada atau tidak ada apoteker, bisnis apotek jalan terus.
Realita tersebut rasanya sangat tidak sesuai dengan ‘WATAK FARMASIS yang seharusnya”, ingat bagaimana kita “ya ya o-nya praktikum” dulu…. Wong mahasiswa fakultas lain begitu herannya melihat keseriusan dan kutubukunya mahasiswa farmasi… bingung lagi khan?
Posisi seperti APOTEKER PENANGGUNGJAWAB APOTEK ini ‘Rawan Hukum”.
Apabila terjadi klaim misal salah dosis racikan dan meninggal, maka baru terasa dampak hukum dari istilah PENANGGUNGJAWAB tersebut.
Entah kapan, tetapi kalau sudah ada yang mulai gatel, maka menyerahkan amoxycillin tanpa resep seperti kebiasaaan yang terjadi saat ini akan menghabiskan energi yang luarbiasa dan traumatic untuk lolos dari jerat hukum.
Menyesal…..? Eksodus….?
Mulai terbayang, kenapa gajiku kecil tak sebanding resiko; mengapa aku jarang datang ke apotek yg selama ini justru aku bangga kalau seperti itu/gaji buta? di antar lagi; mengapa aku tidak bisa mengendalikan pembelian dan penjualan? dan banyak lagi mengapa lainnya….
Barangkali kalau masuk bui akibat kebodohan yang kita sendiri lakukan, bisalah kita masih puas. Tetapi jika akibat terlenanya kita barangkali sesak napas dan sesal tak ada habisnya….
Kalaupun sekarang masih lolos dan masih bisa berleha-leha anggaplah Allah masih sayang pada kita….
Bukan menakut-nakuti, sekedar mengingatkan…
Nah sejawat tercinta, ambil betul peran itu karena resiko di tangan Anda….
Maafkan daku kalau kurang berkenan.
Terimakasih. Wass.
Kurang lebih begini postingan saya di milis yang bersangkutan
Katanya apoteker perlu meningkatkan kompetensi agar bisa sejajar dengan tenaga kesehatan lain.
Tapi mengapa PSA lebih suka mempekerjakan AA jika alasannya bukan karena lebih murah (nota bene kualifikasinya di bawah apoteker)?
Jadi mana yang benar?
Apakah apoteker terlalu tinggi untuk berpraktek di apotek, atau apoteker masih perlu meningkatkan kompetensi?
Over qualified or Under qualified?
Fajar Ramadhityas last blog post..Obat Keras Tanpa Resep, Kasih Daah
[...] karena tulisan saya yang mengambil judul sama dengan tulisan sejawat Miacantik (sesuai nama yang ada dialamat blog, [...]