Apotek adalah perwujudan kongkrit dari farmasi komunitas. Pengertian komunitas bisa bermacam-macam, tapi intinya adalah kumpulan dari orang-orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya. Dengan begitu apotek adalah sarana untuk men deliver  layanan asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) kepada sebuah komunitas.

Mengapa saya menulis topik ini ?

Beberapa hari terakhir ini saya menemukan bahwa banyak orang (bisa apoteker atau bukan) masuk ke portal ini dengan mengetik kata segmentasi di apotek melalui google. Selain itu saya juga berhutang jawaban kepada salah satu sejawat yang bertanya disini.

Dalam ilmu pemasaran konvensional, segmentasi merupakan pendekatan yang lazim dilakukan oleh pemasar untuk membagi-bagi konsumen dalam kelompok-kelompok tertentu berdasarkan berbagai hal yang relevan. Tujuannya adalah agar konsumen yang heterogen bisa di homogenkan.

Sebagai contoh misalnya segmentasi untuk apotek yang berada di komplek perumahan. Penghuni perumahan tersebut atau warga yang tinggal dalam radius, katakanlah, 1 km dari apotek, adalah konsumen dari apotek. Mereka, tentu, sangat heterogen. Baik dari jenis kelamin, usia, pendapatan, pembelanjaan, penyakit yang di derita dan lain-lain. Tanpa adanya segmentasi, apotek harus seperti supermarket obat agar bisa melayani mereka.

Untuk mengatasinya, apotek bisa membuat segmentasi berdasarkan kelompok umur, misalnya fokus pada manula.  Kelompok manula biasanya mengalami penurunan fungsi organ tubuh. Bahkan mereka tidak jarang banyak yang terkena penyakit degeneratif seperti diabetes atau hipertensi. Kalau demikian halnya maka apotek harus menyediakan kebutuhan obat untuk kelompok manula secara lengkap. Atau bisa juga melakukan segmentasi dengan pendekatan lain.

Kelemahan dari metoda segmentasi adalah antar konsumen tidak saling mengenal. Apalagi peduli. Ini bisa terjadi karena proses homogenisasinya berjalan secara vertikal. Dalam contoh tersebut, yang mengelompokkan konsumen adalah apotek. Prosesnya berlangsung dari atas ke bawah.  Konsumen dan calon konsumen dianggap berada dibawah apotek. Relasi pribadi antar konsumen tidak terjalin. Apotek harus mengeluarkan upaya (bisa juga biaya) yang besar untuk merangkul kelompok konsumen tersebut. Bila berhasil memang akan berdampak besar.

Dengan pendekatan apotek adalah perwujudan farmasi komunitas maka tugas utama yang harus dilakukan oleh apotek adalah membentuk komunitas terlebih dahulu. Proses pembentukannya dilakukan oleh orang per orang yang setara sehingga bersifat horisontal.

Jika apotek berada di komplek perumahan yang dihuni oleh pasangan muda maka apotek bisa membentuk komunitas ayah bunda yang memiliki anak usia balita atau komunitas ibu hamil. Bila penghuninya mayoritas adalah para pensiunan maka apotek bisa membentuk komunitas manula. Dan seterusnya. Yang penting diingat, sekali lagi, proses pembentukannya harus horisontal. Apotek berfungsi sebagai fasilitator dan katalisator.

Karena anggota komunitas memiliki kesamaan minat atau sistem nilai maka antar mereka terjalin komunikasi yang akrab dan hubungan antar pribadi yang erat. Penambahan jumlah anggota komunitas bisa terbentuk dengan sendirinya melalui metoda getok tular. Sungguh efisien. Setelah komunitas terbentuk tugas apotek berikutnya adalah memberikan layanan asuhan kefarmasian yang sesuai dengan komunitas tersebut.

Dengan pendekatan seperti ini pemilihan lokasi apotek sangat tergantung kepada komunitas yang akan dibentuk dan disasar. Apotek tidak harus berlokasi di jalan besar atau jalan raya. Apotek tidak juga harus di dekat rumah sakit.  Dengan cara ini pula pertanyaan apakah  apotek harus = supermarket obat terjawab sudah.

Possibly Related Posts: