Wow.., semalam saat saya blogwalking, saya menemukan sebuah tulisan menarik yang berjudul Gerakan Jangan Masuk Farmasi disini. Isinya kurang lebih ungkapan emosional seorang apoteker tentang susahnya menempuh pendidikan di fakultas farmasi, persaingan antar apoteker yang kian ketat, adanya kewajiban uji kompetensi sampai kompensasi apoteker yang tidak sebanding. Saking emosionalnya, si penulis sampai menyarankan kepada semua pihak yang berkepentingan untuk tidak kuliah di farmasi. Luar biasa..

Saya tersenyum membaca tulisan tersebut. Tapi saya juga harus berterimakasih kepada sejawat yang menyerukan gerakan tersebut karena kalau seruannya berhasil berarti dengan sendirinya pasokan apoteker ke dunia kerja akan mengalami penurunan. Dengan demikian kalau permintaannya tetap maka sesuai hukum ekonomi harganya akan naik. Jadi, meski sejawat tadi keki, tapi tetap peduli dengan profesinya kan ? He..he..

Dari tulisan tersebut saya berkesimpulan bahwa, disadari atau tidak, pengaruh faham kapitalisme ternyata telah begitu mengakar dalam kehidupan kita sehari-hari. Hampir semua aspek dalam kehidupan diukur menggunakan pendekatan ekonomi. Pengorbanan yang dilakukan akan diperhitungkan dengan kompensasi yang akan diterima. Bahkan seringkali parameter untuk mengukur kesuksesan seseorang hanya berdasarkan jabatan yang diduduki dan materi yang dikumpulkan.

Dengan pola pikir yang demikian lalu banyak orang membangun kharisma melalui kekuasaan. Akibatnya sistem nilai mengalami pergeseran. Etika dilanggar. Kekuasaan diraih menggunakan materi. Padahal kita tahu bahwa kekuasan tidak pernah abadi. Kharisma yang abadi sesungguhnya adalah kharisma yang berasal dari inner beauty dan ini akan terbentuk bila kita bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang dan unggul serta  berkembang menjadi manusia-manusia yang mulia dan bermartabat. Tidak peduli apakah kita akan tetap menekuni profesi kita sebagai apoteker atau tidak.

Untuk bisa mewujudkannya kita harus memiliki pola pikir yang mampu membangun keunggulan.  Howard Gardner melalui salah satu bukunya yang berjudul Five Minds for the Future menyebutkan tentang pola pikir yang mesti dikembangkan agar kita bisa menjadi manusia yang unggul dan mulia. Gardner adalah pakar psikologi yang dikenal luas karena dialah orang yang pertama kali memperkenalkan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Melalui serangkaian riset yang ekstensif, Gardner menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran makin penting dalam perjalanan sejarah masa depan.

Pola pikir yang pertama adalah disciplined mind (pikiran yang terdisiplin) atau suatu perilaku kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan, atau profesi tertentu. Seorang apoteker yang berpraktek di apotek misalnya, setidaknya dia harus menguasai farmasi klinik dan ilmu manajemen retail yang solid. Jadi esensi dari pola pikir ini adalah : untuk benar-benar menjadi manusia yang profesional, kita harus menguasai secara tuntas, komprehensif, mendalam dan terdisiplin satu bidang pengetahuan/ketrampilan tertentu. Dengan demikian, dalam konteks ini, bukankah uji kompetensi menjadi sangat relevan untuk dilakukan ?

Pola pikir yang kedua adalah synthesizing mind (pikiran mensintesa). Atau juga pola untuk mencerap informasi dari beragam sumber, memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru yang powerful. Profesi apoteker sangat erat kaitanya dengan problem solving. Bekal yang mutlak disiapkan dalam proses pemecahan masalah adalah kecakapan melakukan sintesa dari informasi yang tersedia secara melimpah di berbagai sumber.

Pola pikir yang ketiga adalah creating mind (pikiran mencipta). Pikiran ini memicu kita untuk senantiasa melahirkan ide-ide baru, membentangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, menghamparkan cara-cara berpikir baru, dan sekaligus memunculkan unexpected answers. Pola pikir inilah yang akan membawa kita masuk dalam wilayah-wilayah baru yang menjanjikan harapan dan peluang untuk direngkuh dan dimanfaatkan. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral (out of the box) dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Dan pola pikir inilah yang akan menemani kita untuk bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna.

Pola pikir yang keempat adalah respectful mind (pikiran merespek). Atau sebuah pola pikir untuk menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati nan teduh bagi pendapat/pikiran orang lain – meski pendapat itu mungkin berbeda dengan yang kita hadirkan.

Sedangkan pola pikir yang terakhir atau kelima adalah ethical mind (pikiran etis). Inilah pola pikir yang terus membujuk kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita. Nah, di ranah profesi kita etika merupakan koridor moral yang mesti dijunjung tinggi. Tanpa mempedulikan etika jangan harap kita bisa menjalankan profesi kita secara ideal.

Dengan arahan dari Howard Gardner tersebut pilihan kembali kepada kita. Kalau kita ingin menjadi manusia unggul nan mulia kita harus memiliki 5 pola pikir diatas, tidak peduli apakah kita akan meneruskan profesi kita sebagai apoteker atau tidak. Demikian pula bagi mereka yang baru akan meneruskan sekolah. Sebab dengan cara itulah, kita bisa menyimpan harapan untuk meraih masa depan yang menjanjikan.

Jadi, masihkah sejawat ingin berpaling dari profesi apoteker ?

Possibly Related Posts: