Sesuai dengan definisinya, apotek adalah tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Fungsi apotek, oleh karena itu, adalah tempat pengabdian apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.  Dengan kata lain, apotek adalah  tempat untuk mewadahi karya nyata dari seorang apoteker tersumpah kepada komunitasnya.

Melalui pendekatan pemahaman yang demikian maka apotek harus dikelola dengan pondasi keyakinan yang kokoh sebagai tempat berpijak bagi pilar-pilar kejujuran dan keikhlasan berdasarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Tanpa itu semua bisa terjadi ketidakseimbangan. Orientasi apotek semata-mata hanya mengejar keuntungan finansial dengan mengorbankan kepentingan sosial. Elemen-elemen fundamental dalam asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) diabaikan. Praktek-praktek yang berbau ketidakjujuran, persekongkolan, kelicikan, tipu daya dan keculasan akan mendominasi warna pengelolaan apotek.

Berdasarkan pemikiran tersebut, saya yakin bahwa apoteker haruslah betul-betul mendasarkan prakteknya kepada prinsip-prinsip moralitas dan nurani. Apoteker tidak cukup mengandalkan kecerdasan intelektual ( intelectual quotient) semata, tetapi harus terus menerus mengasah kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Bahkan pada gilirannya apoteker harus menjadikan kecerdasan spiritual sebagai penggerak bagi 2 kecerdasan lainnya.

Sebagaimana kita ketahui, pada tataran kecerdasan intelektual apoteker menjalankan profesinya menggunakan pendekatan ilmiah. Di level ini apoteker seolah seperti robot yang bekerja hanya berdasarkan prosedur yang mengacu kepada kekuatan logika dan konsep-konsep keilmuan yang dipelajarinya.

Sementara pada tataran kecerdasan emosional kemampuan apoteker dalam memahami emosi dan perasaan konsumen menjadi sangat penting. Di sini konsumen dilihat sebagai manusia seutuhnya lengkap dengan emosi dan perasaannya. Kalau pada tataran intelektual pemikiran apoteker didominasi otak kiri, maka pada tataran emosional, otak kananlah yang lebih dominan. Sehingga kalau pada tataran intelktual apoteker layaknya sebuah robot, maka di tataran emosional apoteker benar-benar memerankan sisi kemanusiaannya  yang berperasaan dan empatetik.

Sedangkan pada tataran spiritual apoteker harus memandang pekerjaan profesionalnya sebagai panggilan jiwa berdasarkan dorongan dari hati nurani yang paling dalam.  Praktek apoteker dikembalikan kepada fungsinya yang hakiki dan dijalankan dengan landasan moralitas yang kental. Prinsip-prinsip kejujuran, empati, kepedulian sesama, dan cinta mendominasi sikap dan tingkah laku apoteker.

Kalau pada tataran intelektual kita menggunakan bahasa logika, maka di tataran spiritual kita harus menggunakan bahasa kalbu atau bahasa nurani.  Kata hati yang paling dalam dan nurani kita layaknya sebuah kompas yang akan menunjukkan ke arah mana kita akan menuju dan bersikap. Nurani adalah senjata pamungkas kita untuk memenangkan persaingan; kejujuran adalah ciri khas yang membedakan kita, dan kasih kepada sesama adalah komponen utama daya saing kita.  Dari sini menjadi jelas bahwa, kecerdasan spiritual akan sangat mampu memberikan roh kepada praktek apoteker.

Sekali lagi apotek bukanlah usaha dagang semata sehingga orientasinya bukanlah upaya mengejar keuntungan sepihak secara membabi-buta. Apotek adalah tempat bagi konsumen untuk memperoleh layanan asuhan kefarmasian. Apoteker adalah orang yang berkompeten untuk itu, tetapi hanya apoteker dengan kecerdasan spiritual yang memadai yang akan mampu mengemban amanahnya.

Possibly Related Posts: