Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Apapun bentuknya. Mulai dari yang sangat sederhana seperti apakah hari ini kita akan mandi atau tidak ? apakah kita akan sarapan pagi atau tidak ? apakah kita akan berbuat baik atau tidak ? apakah kita akan menolong orang atau tidak ? dan seterusnya. Hidup memang harus memilih.

Begitu juga sewaktu kita memutuskan untuk menjadi apoteker. Saya yakin sebelum memutuskan kita dihadapkan pada suatu pilihan. Dan setelah menjadi apoteker kita juga masih harus memilih, apakah kita akan menjalankan profesi kita atau tidak ? Kalau ya, dimana kita akan berkarir ? Di apotek, di industri, di rumahsakit dan seterusnya. Sekali lagi, salah satu makna kehidupan yang esensial memang memilih.

Sewaktu kita memutuskan memraktekkan profesi kita di apotek, kitapun dihadapkan pada pilihan apakah kita akan selalu datang ke apotek atau tidak ? Apakah kita akan menerapkan asuhan kefarmasian atau tidak ? Apakah kita akan berorientasi ke pasien atau produk ? Dan seterusnya.

Dalam proses menentukan pilihan kita selalu berpijak pada asas kebenaran. Mustahil kalau kita menginginkan bahwa pilihan yang kita ambil adalah keliru. Tapi tunggu dulu. Yang benar kebenaran atau pembenaran? Dimana letak perbedaannya? Apakah kebenaran adalah hasil dari pembenaran? Atau, apakah pembenaran dapat menghasilkan kebenaran?

Kebenaran adalah sesuatu yang mutlak dan berlaku universal. Kebenaran tidak pernah memihak. Namun yang seringkali terjadi kita kadang mencari pembenaran untuk menemukan kebenaran. Pembenaran  seringkali tetap dilakukan oleh kita yang berkepentingan terhadap nilai-nilai kebenaran.

Nah kembali ke profesi kita, apakah kehadiran kita di apotek suatu kebenaran atau pembenaran ? Apakah ketidakhadiran kita di apotek suatu kebenaran atau pembenaran ? Mari kita jawab dengan nurani.

(Tulisan ini saya harapkan dapat menjawab pertanyaan sejawat Brina disini. Maafkan sejawat, kalau saya tidak dapat menjawabnya secara to the point.)

Possibly Related Posts: