Sesuai dengan tagline nya,  Portal ini diharapkan dapat menjadi media bagi kita, para apoteker, untuk saling berbagi informasi sehingga bisa mengembangkan kompetensi. Komentar-komentar yang masuk adalah salah satu bentuk berbagi. Nah, dalam kurun waktu seminggu kemarin sejawat Ferdi (mohon dimaafkan kalau namanya keliru) berkenan membagikan pengalamannya dalam bentuk komentar.

Sejawat Ferdi berkomentar 2 kali pada tulisan saya yang berjudul Apotek Tanpa Resep, 2 kali pada Sistem Jaringan Bagi Apotek Independen dan sekali pada Gerakan Jangan Masuk Farmasi. Kalau saya simpulkan komentar-komentar sejawat Ferdi intinya adalah memotivasi kita untuk lebih percaya diri berpraktek di apotek ditengah persaingan yang ketat.

Apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker seharusnya memang identik dengan apoteker. Roh atau jiwa apotek mesti berkorelasi langsung dengan apoteker pengelolanya. Sama saja dengan kantor akuntan publik atau kantor pengacara. Sayang karena keberadaan apoteker di apotek yang masih jauh dari optimal kondisi ideal tersebut belum terwujud. Boleh dibilang mayoritas apotek tidak memiliki “kepribadian” yang jelas kecuali sebagai toko pengecer obat.

Melalui komentar-komentarnya sejawat Ferdi memberikan beberapa tip-tip praktis agar apotek lebih beraroma profesi dengan aktivitas apotekernya. Secara umum saya sependapat, hanya saja untuk anjuran agar apoteker juga merangkap jadi dokter saya tidak sependapat karena tujuan pemisahan tugas dan fungsi apoteker dan dokter diantaranya adalah agar aspek akuntabilitasnya jelas.

Mengubah citra apotek dari toko pengecer obat menjadi tempat pengabdian profesi jelas menuntut keterlibatan langsung apoteker. Tanpa peran aktif apoteker mustahil citra tersebut berubah. Apoteker harus mencadi agen perubahan. Apoteker harus tampil di depan. Apoteker harus mampu memerankan fungsi sebagai penggerak sentral sebuah apotek. Dengan peran aktif apoteker maka konsumen atau pasien akan merasakan langsung manfaatnya. Konsumen yang puas adalah alat promosi paling efektif melalui metoda getok tular (word of mouth).

Mudah mudahan masukan sejawat Ferdi melalui komentar-komentarnya bisa menjadi referensi perubahan. Dan perlu diingat bahwa perubahan itu terkait dengan kemauan bukan kemampuan.

Possibly Related Posts: