Pelan tapi pasti era new wave marketing sudah merambah semakin jauh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yuswohady, salah satu pakar marketing, menemukan formula E=wMC2 untuk menggambarkan bagaimana kedahsyatan new wave marketing dalam dunia bisnis. Berikut adalah kutipannya :
E dalam rumus tersebut saya sebut sebagai “Energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Kemudian wM adalah = word of mouth (mouse) atau buzz, yaitu promosi atau pemasaran dari mulut ke mulut baik secara fisik maupun berbasis internet. Dalam rumus ini, makna wM tak hanya menyangkut gosip-gosip konsumen mengenai produk kita, tapi secara lebih luas dan fundamental adalah rekomendasi atau referal dari satu konsumen ke konsumen yang lain. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.
Lalu apa artinya rumus rekaan saya tersebut? Artinya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan buzz mengenai produk dan layanan Anda, dan buzz itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat!!!
Lama saya mencoba memahami dan menghayati formula tersebut. Menurut saya esensi new wave marketing bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. New wave marketing bisa menghasilkan efek yang dahsyat berkat adanya dukungan teknologi informasi. Bila Hermawan Kartajaya mengulas tentang new wave marketing di harian Kompas secara berseri sampai 100 hari, Yuswohady secara cerdas meringkasnya dam bentuk formula E=wMC2.
Pertanyaannya adalah, apakah formula tersebut relevan bila diterapkan di apotek ?
New wave marketing adalah pendekatan pemasaran secara horisontal, karenanya kedudukan konsumen bukanlah dibawah melainkan sejajar dengan produsen. Dengan pendekatan seperti itu konsumen bukan lagi individu yang berdiri sendiri sendiri tetapi merupakan sebuah komunitas.
Komunitas sebagai esensi dari new wave marketing bukanlah sesuatu yang baru di dunia perapotekan. Secara filosofis apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker mengemban tugas mulia untuk mendeliver asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) bagi komunitas dibawah asuhannya. Sebagai pelindung konsumen obat, apoteker memiliki tanggungjawab moral agar anggota komunitas yang diasuhnya terhindar dari penggunaan yang salah maupun penyalahgunaan obat.
Sayangnya, karena peran apoteker di apotek belum optimal maka komunitas yang ada belum bisa didayagunakan. Padahal sesungguhnya kalau kita menyadari bahwa energi marketing yang ditimbulkan oleh efek getok tular dan komunitas demikian berasa dahsyat maka semestinya apoteker memang harus tampil digaris depan dan berhadapan langsung dengan konsumen. Diminta atau tidak, apoteker harus bisa menjadi problem solver bagi setiap konsumen yang datang ke apotek. Karena konsumen yang datang ke apotek pasti memiliki masalah dengan obat, baik bagi dirinya maupun keluarganya.
Konsumen yang merasakan “sentuhan” apoteker dan merasa terpecahkan masalahnya akan menjadi juru bicara yang efektif. Mereka dengan sukarela akan menceritakan pengalamannya kepada kerabat atau temannya. Mereka bisa berperan sebagai refferal yang ampuh.
Dalam konteks asuhan kefarmasian, apoteker dan apoteknya bisa dengan mudah membentuk komunitas. Peran apoteker adalah sebagai fasilitator untuk kepentingan anggota. Misalnya dalam komunitas pasien penderita diabetes, apoteker secara proaktif bisa menggagas acara pertemuan rutin antar anggota (offline) untuk meng update pemahaman anggota tentang diabetes dan obat-obat yang terkait. Sementara secara online, apoteker dapat membentuk milis atau membuat blog/website untuk media komunikasi antar anggota.
Pengertian online tidak harus selalu menggunakan internet sebagai satu-satunya media. Dalam hal ini kegiatan online bisa juga memanfaatkan telpon maupun sms. Sebagai contoh, apoteker bisa mengirimkan sms kepada komunitasnya tentang jadwal mengonsumsi obat yang tepat.
Konsumen yang tergabung dalam komunitas dan merasakan manfaatnya sebagai anggota komunitas dengan sendirinya akan menjadi refferal yang efektif. Mereka akan mengajak orang lain yang memiliki kesamaan dengannya untuk bergabung di komunitasnya. Sebagaimana konsumen yang terpecahkan masalahnya setelah bertemu apoteker di apotek, mereka akan menjalankan fungsi sebagai juru bicara sukarela bagi komunitasnya.
Kejelian apoteker untuk menggabung dan menyinergikan promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang dibangun dan difasilitasinya merupakan modal yang berharga bagi perkembangan apotek. Kalau apoteker mampu menyebarkan buzz mengenai produk dan layanannya, dan buzz itu di ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti akan tercipta energi marketing yang demikian dahsyaaaat!!!
Bagaimana sejawat, menarik bukan ? Saya yakin ada diantara sejawat yang telah menerapkan tapi belum menyadarinya. Dari komentar-komentarnya, mungkin apa yang dilakukan oleh sejawat Ferdi adalah wujud nyata dari formula ini.
Sejawat Ferdi ada komentar ? Ditunggu.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Leave a comment