klik untuk memperbesar

Siang ini saya ke dokter untuk memeriksakan anak saya yang sakit. Dokter memberikan resep yang terdiri dari Sanprima 480 mg XVI tablet dan Neuralgin X tablet.

Sepulang dari tempat praktek dokter, saya menuju apotek jaringan yang cukup tekenal di komplek perumahan tempat saya tinggal. Sengaja saya tidak menyodorkan resep, tetapi langsung bertanya apakah ada cotrimoksazole generik kepada petugas apotek. Setelah dilihat di komputer ternyata tidak ada persediaannya. Petugas apotek menyarankan agar pakai Sanprima saja, toh isinya sama. Dalam hati saya berkata, wah hebat juga merek ini, karena bisa menjadi top of mind baik bagi dokter maupun petugas apotek.

Sekedar basa basi saya menanyakan apakah ada alternatif merek yang lain ? Ternyata yang disodorkan adalah Bactrim, merek dari pemegang paten, yang harganya tentu saja jauh lebih mahal. Singkat cerita akhirnya saya minta 16 butir Sanprima 480 mg dan 10 butir Neuralgin.

Petugas apotek kemudian memberitahu harga keseluruhan sebesar Rp. 19.000 dengan perincian Sanprima 480 mg 16 butir Rp. 14.800 (atau Rp. 925 per butir) dan Neuralgin 10 butir Rp 4.250. Saya mengiyakan dan membayar sejumlah yang dihitung. Kemudian sewaktu menerima kedua macam obat tersebut saya coba untuk melihat HET Sanprima yang tertera dibalik kemasan stripnya. Lho, ternyata HETnya cuma seharga Rp. 8.731/strip (atau Rp 873,1/butir). Perbedaan harga tersebut saya tanyakan kepada petugas apotek. Jawaban yang saya terima, harga di komputer memang Rp. 925 per butir.  Saya tanyakan lagi, apakah ada kenaikan ? Dijawab dengan sekenanya, mungkin saja.

Sejawat, saya menduga memang ada kenaikan harga mengingat nilai tukar rupiah yang terdepresiasi lebih dari 25% akibat imbas krisis ekonomi global. Sulit bagi industri untuk tidak menyesuaikan harga jual bila nilai tukar rupiah berubah secara bermakna. Apalagi perubahan nilai tukar ini agak bersifat permanen sejak 2 bulan yang lalu.

Ada 2 kemungkinan yang menyebabkan terjadinya perbedaan harga tersebut. Pertama apotek memiliki persediaan Sanprima yang dibeli sewaktu harga belum naik atau pabrikan menaikkan harga tanpa merubah HET yang tercetak.

Bila kemungkinan pertama yang terjadi berarti apotek mendapat keuntungan ekstra karena membeli dengan harga lama tetapi menjual dengan harga baru. Atau secara tidak langsung sama saja membebankan tambahan modal kerja apotek kepada konsumen.

Bila kemungkinan kedua yang terjadi, pabrikan yang mendapatkan keuntungan ekstra karena memproduksi dengan harga lama tetapi menjual dengan harga baru. Sama halnya dengan apotek, berarti pabrikan membebankan kenaikan modal kerjanya kepada konsumen. Kalau benar kemungkinan kedua yang terjadi, seharusnya pabrikan mengganti HET lama dengan yang baru agar konsumen tidak salah presepsi.

Okelah manapun yang merupakan penyebab perbedaan harga semestinya apotek juga harus memberi perhatian lebih terhadap hal ini. Bagi konsumen yang jeli, perbedaan harga tersebut bisa ditafsirkan bahwa apotek menjual dengan harga diatas HET. Mereka tidak akan mau menerima alasan bahwa ada kenaikan harga, karena faktanya yang tercetak di strip lebih rendah dibanding yang tertera di dalam nota. Konsumen berkesimpulkan bahwa apotek mengambil keuntungan berlebihan.

Mungkin saja hal ini dianggap sepele oleh apotek. Bisa saja mereka beranggapan toh tidak semua konsumen jeli seperti saya. Tapi hal-hal yang sepele seperti ini bila disepelekan bisa berbuntut panjang. Apalagi bagi sebuah apotek jaringan. Taruhannya adalah reputasi dan kredibilitas.

Jadi, pesan yang ingin saya sampaikan sederhana saja. Berhati-hatilah, karena konsumen sekarang semakin kritis…

Possibly Related Posts: