<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Bagaimana Dengan Kompetensi Kita?</title>
	<atom:link href="http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/</link>
	<description>media berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2011 00:39:44 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: agung hendro ssi apt</title>
		<link>http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/comment-page-1/#comment-231</link>
		<dc:creator>agung hendro ssi apt</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 17:21:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=219#comment-231</guid>
		<description>ulasan tersebut diatas seharusnya menjadikan cambuk bagi kita, untuk kita semakin merapatkan barisan, tunjukkan jadi diri dan eksistensi,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ulasan tersebut diatas seharusnya menjadikan cambuk bagi kita, untuk kita semakin merapatkan barisan, tunjukkan jadi diri dan eksistensi,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rudi</title>
		<link>http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/comment-page-1/#comment-230</link>
		<dc:creator>rudi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 03:42:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=219#comment-230</guid>
		<description>iya, saya setuju dengan araz, ISFI harus aktif, jangan malah mempersulit anggotanya, di berbagai daerah untuk rekomendasi ISFI saja harus bayar, pake wawancara segala, perbanyak seminar dengan yang menyangkut kompetensi apoteker, terutama masalah penggunaan obat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya, saya setuju dengan araz, ISFI harus aktif, jangan malah mempersulit anggotanya, di berbagai daerah untuk rekomendasi ISFI saja harus bayar, pake wawancara segala, perbanyak seminar dengan yang menyangkut kompetensi apoteker, terutama masalah penggunaan obat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: araz</title>
		<link>http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/comment-page-1/#comment-229</link>
		<dc:creator>araz</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 16:56:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=219#comment-229</guid>
		<description>Sangatlah prihatin saya membayangkan bagaimana seandainya masyarakat ,yang semakin kritis saat ini, suatu saat mempertanyakan atau malah menguji akuntabilitas kita sebagai pimpinan sebuah apotek(farmasi komunitas).

Kalau kita mau jujur, kita harus akui bahwa kompetensi para APA dalam melayani pasien saat ini di apotek sangatlah kurang, mulai dari cara menyerahkan obat(kurang penjelasan kepada pasien, yang nyerahin juga kebanyakan AA), juga tidak ada pencatatan (secara konsisten) alamat atau no telp pasien yang merupakan sarana utk tetap dapat kontak dg pasien kita (gimana kita bisa &#039;care&#039; sama pelanggan kita?). Tidak jarang Apoteker akan tergagap untuk menjawab pertanyaan pasien tentang obat maupun hubungan obat dengan penyakitnya (kebanyakan malah apotekernya gak ada ditempat).

Sudah saat nya para APA membekali dirinya dengan ilmu-ilmu lanjutan kefarmasian, terutama yang berhubungan dengan farmasi komunitas. Aktif mengikuti seminar atau berusaha sendiri dengan mengikuti perkembangan terbaru melalui buku, jurnal, maupun media lainnya. Namun demikian saya masih mempertanyakan peran serta ISFI dalam upayanya untuk meningkatkan kompetensi para Apoteker.

Uji kompetensi bukanlah upaya terbaik dalam rangka menjamin mutu apoteker. Tidak ada jaminan mereka yang lulus uji kompetensi akan bekerja lebih baik dari pada mereka yang tidak lulus/mengikuti uji tersebut.

Diperlukan pendidikan berkelanjutan yang bermutu untuk meningkatkan kualitas para apoteker. Sejauh ini belum semua DPC ISFI mau dan mampu melaksanakan program pendidikan berkelanjutan bagi para APA di wilayah kerjanya. Seharusnya ISFI lebih dulu menjalankan program pendidikan berkelanjutan tersebut dengan intensif, dengan mengundang pihak pembuat obat maupun para dokter sebagai nara sumber, agar terjadi sinkronisasi dalam pengelolaan obat, mulai dari penyimpanan, peracikan, hingga penyerakan obat ke tangan pasien. Setelah ini berjalan baik, baru kemudian ISFI melakukan uji kompetensi ataupun uji-uji lainnya untuk menjamin akuntabilitas dan kualitas layanan kepada pelanggan.

Mudah-mudahan pendapat saya ini dipertimbangkan kembali oleh pengurus ISFI</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sangatlah prihatin saya membayangkan bagaimana seandainya masyarakat ,yang semakin kritis saat ini, suatu saat mempertanyakan atau malah menguji akuntabilitas kita sebagai pimpinan sebuah apotek(farmasi komunitas).</p>
<p>Kalau kita mau jujur, kita harus akui bahwa kompetensi para APA dalam melayani pasien saat ini di apotek sangatlah kurang, mulai dari cara menyerahkan obat(kurang penjelasan kepada pasien, yang nyerahin juga kebanyakan AA), juga tidak ada pencatatan (secara konsisten) alamat atau no telp pasien yang merupakan sarana utk tetap dapat kontak dg pasien kita (gimana kita bisa &#8216;care&#8217; sama pelanggan kita?). Tidak jarang Apoteker akan tergagap untuk menjawab pertanyaan pasien tentang obat maupun hubungan obat dengan penyakitnya (kebanyakan malah apotekernya gak ada ditempat).</p>
<p>Sudah saat nya para APA membekali dirinya dengan ilmu-ilmu lanjutan kefarmasian, terutama yang berhubungan dengan farmasi komunitas. Aktif mengikuti seminar atau berusaha sendiri dengan mengikuti perkembangan terbaru melalui buku, jurnal, maupun media lainnya. Namun demikian saya masih mempertanyakan peran serta ISFI dalam upayanya untuk meningkatkan kompetensi para Apoteker.</p>
<p>Uji kompetensi bukanlah upaya terbaik dalam rangka menjamin mutu apoteker. Tidak ada jaminan mereka yang lulus uji kompetensi akan bekerja lebih baik dari pada mereka yang tidak lulus/mengikuti uji tersebut.</p>
<p>Diperlukan pendidikan berkelanjutan yang bermutu untuk meningkatkan kualitas para apoteker. Sejauh ini belum semua DPC ISFI mau dan mampu melaksanakan program pendidikan berkelanjutan bagi para APA di wilayah kerjanya. Seharusnya ISFI lebih dulu menjalankan program pendidikan berkelanjutan tersebut dengan intensif, dengan mengundang pihak pembuat obat maupun para dokter sebagai nara sumber, agar terjadi sinkronisasi dalam pengelolaan obat, mulai dari penyimpanan, peracikan, hingga penyerakan obat ke tangan pasien. Setelah ini berjalan baik, baru kemudian ISFI melakukan uji kompetensi ataupun uji-uji lainnya untuk menjamin akuntabilitas dan kualitas layanan kepada pelanggan.</p>
<p>Mudah-mudahan pendapat saya ini dipertimbangkan kembali oleh pengurus ISFI</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fajar RP</title>
		<link>http://apotekkita.com/2008/12/03/bagaimana-dengan-kompetensi-kita/comment-page-1/#comment-228</link>
		<dc:creator>Fajar RP</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 02:24:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=219#comment-228</guid>
		<description>Yah, karena kita teman sejawat, tak jauh beda lah kayaknya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yah, karena kita teman sejawat, tak jauh beda lah kayaknya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

