Sejawat apoteker yang saya hormati…
Sewaktu saya membuat portal ini, saya sudah memperhitungkan bahwa pengunjung dan pembaca portal ini tidak mungkin hanya apoteker. Siapa saja yang memiliki koneksi internet dimungkinkan mengaksesnya. Selain apoteker, para stakeholder apoteker juga mempunyai kemungkinan untuk berkunjung, membaca, bahkan mungkin saja menjadikannya sebagai referensi bagi kepentingan mereka.
Sebagaimana pernah saya sampaikan disini, tujuan utama saya membuat portal ini adalah agar tersedia media bagi kita, para apoteker, untuk saling berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi. Ini tidak terlepas dari panggilan hati saya untuk dapat memberikan kontribusi dalam proses “menempatkan” apoteker pada posisi yang semestinya.
Kita tahu, dan tidak perlu malu, bahwa profesi apoteker masih belum tampil optimal di masyarakat. Dari segudang alasan yang melatarbelakanginya, barangkali, hal yang paling mendasar adalah rasa percaya diri yang sangat kurang. Bekal ilmu yang di dapat di bangku kuliah tidak mencukupi untuk mengimbangi dinamika dunia kefarmasian yang bergerak seirama dengan dinamika kehidupan. Apalagi semenjak profesi apoteker mengubah orientasinya dari produk ke pasien, kita dituntut agar mampu memberikan layanan asuhan kefarmasian langsung kepada pasien.
Untuk mengatasinya, kita diwajiban menempuh pendidikan berkelanjutan (continuing education). Proses ini mungkin tidak menjadi masalah yang serius bagi mereka yang bekerja atau mengabdikan profesinya di perusahaan atau institusi yang telah memiliki bagian pengelolaan sumberdaya manusia yang mapan. Melalui bagian tersebut, setiap karyawan biasanya akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai agar kompetensinya terpenuhi sehingga produktifitasnya optimal. Namun tidak demikian dengan apoteker yang mengelola apotek independen. Bagi mereka, kesadaran untuk menempuh pendidikan berkelanjutan harus timbul dari diri sendiri.
Karena populasi apoteker yang mengabdikan profesinya di apotek independen cukup bermakna, saya mencoba menyediakan media untuk berbagi melalui portal ini. Meski masih jauh dari sempurna tapi saya sudah mulai melihat manfaat keberadaan portal ini bagi kita.
Berkaitan dengan judul tulisan diatas, saya ingin menggarisbawahi beberapa komentar dari Ibu Dewie, seorang PSA, disini, disini, dan disini. Sangat mungkin suara Ibu Dewie mewakili suara mayoritas PSA.
Kalau demikian halnya, masihkah kita mencoba mencari kambing hitam ? Rasanya tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali segera bebenah. Tidak ada istilah terlambat.
Sillahkan dicermati dan disikapi dengan bijaksana.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Selamat Tinggal ISFI…
- Perubahan Itu Keniscayaan
- Apoteker Memang Harus Narsis
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Salut utk semangatnya…smua yg kt hadapi,baik buruk,susah senang,adalah utk proses pembelajaran. Belajar menjadi yg lbh baik sesuai dg kompetensi dan kode etik yg saudara punya. Tidak usah menunggu org lain,terlalu lama…mengadop aa Gym..mulailah dari diri sendiri. Agak berat jg perasaan saya kemarin memutuskan utk menutup apotek saya, karena sudah banyak jg konsumennya. Sekarang jg obat2an msh ada smua di apotek bingung mau dikemanakan? karena APA pergi begitu saja dan menjawab “tidak ada ide” waktu saya tanyakan ttg obat2an itu. Sebenarnya bisa saja sy jual atau bk sendiri,krn saya jg org kesehatan,tapi tidak akan saya lakukan karena saya paham betul aturannya. Insya Allah ke depan akan menjadi lebih baik untuk semuanya. Salam.
Setuju dengan om portal n mbak dewi..
kata iklan sih
“sehatkan kembali” disini dapat memiliki arti luas seperti Pelayanan maksimal, dokter menghentikan dispensing sendiri, apoteker berhenti menjual obat resep tanpa resep dsb..
Ayo semua tenaga kesehatan bersatu!
kemarin saya menyaksikan di METRO TV, anak-anak SD atau SMP berhasil memprogram Deteksi penyakit dan gejala-gejalanya, dan mereka juga berhasil mebuat program sekaligus dengan pengobatannya. Program tersebut memenangkan kontes di Luar Negri. Sungguh luar biasa, saya sebagai seorang apoteker, KEKI BERAT, ko bisa anak-anak ingusan begitu berfikir sampai kesana.
saya hanya mau mnegomentari 71mmo, saya bukannya mengajak apoteker menjadi tidak taat aturan, tetapi KALAU CARA BERFIKIR KITA MASIH SEPERTI ITU, SAYA YAKIN APOTEKER AKAN MENJADI KATAK DALAM TEMPURUNG, kita hanya di bawah bayang-bayang dokter (pemilik franchise 24 jam dokter juga).
SAYA MERASA PORTAL INI TIDAK BERGUNA LAGI SAMA SAYA, CARA BERFIKIRNYA SAMA DENGAN PENDAHULU-PENDAHULU, BERKOAR-KOAR TERUS TAK ADA TEROBOSAN, KOLOT…..SEMOGA BERHASIL DENGAN IDEALISMENYA.
APAKAH SALAH SAYA MENGAJAK APOTEKER LEBIH MENGUASAI OBAT, kecuali saya menyuruh apoteker untuk menguasai mesin bubut.
Menjadi penghalang kita berkembang ya..kita juga seperti komentar-komentar diatas.
MASAK APOTEKER KALAH SAMA ANAK INGUSAN, YANG BERANI BUAT PROGRAM DETEKSI PENYAKIT SEKALIAN PENGOBATAN…
Banyak apotek yang tutup, rata-rata punya teman sejawat apoteker, malah apotek yang dimiliki dokter dan bukan apoteker banyak yang berkembang, dokter mendirikan apotek hanya untuk menjadi apotek panel, dan apotek yang didirikan oleh sarjana ekonomi laku keras, mereka mampu belajar tentang manajemen apotek dan belajar menguasai obat, sehingga mampu mengatur penjualan dan pergerakan obat.
Saya kemarin baru mendirikan apotek seorang dokter (saya consultan pendirian apotek) di jakarta, dokter tersebut bertanya kepada saya, bagaimana biar apotek tidak tutup (saya dibayar lho 150 jt jadi saya jawab saja). Saya mengatakan kepada dokternya, kalau boleh apoteker danasisten ataupun siapa yang menjaga apoteknya harus menguasai stok obat dan kegunaannya, kalau tidak niscya apotek tidak akan hidup hanya mengharapkan resep dokter, peran apoteker yang berhadapan langsung dengan konsumen sangat diandalkan.
Hampi 60% omset apotek didapat dari penjualan langsung terhadap pasien, peran apoteker sangat diharapkan.
JADI SEORANG APOTEKER JIKA TIDAK BISA MEMBERIKAN JUGA OBAT LANGSUNG KEPADA PASIEN, HANYA MENUNGGU RESEP, SAYA PIKIR TINGGAL MENUNGGU WAKTU SAJA.
Saya pernah bekerja sebagai PM, terkadang dokter juga harus belajar sama seperti kita harus belajar agar dapat memberikan pengobatan kepada pasien.
SEMOGA PORTAL INI SEMAKIN BERKEMBANG, MAMPU MEREFORMASI, JANGAN HANYA TEORI-TEORI, APLIKASI HARUS DIPERTIMBANGKAN.
[...] yang terlihat dalam tulisan saya bertajuk Sejawat, Dengarlah Suara Stakeholder Kita. Disitu jelas nampak adanya perbedaan pendapat. It’s fine. Untuk sementara tidak perlu kita [...]