Pagi ini saya membaca berita dari www.nz.doctor.co.nz yang mengutip media rilis dari Pharmacy Gulid yang selengkapnya saya kutip dibawah ini :
Study confirms you can trust the advice of your community pharmacist
Media release from the Pharmacy Guild
A recent study comparing community pharmacies to “health stores” has shown community pharmacies to be a far superior source of reliable health advice.
Pharmacy Guild of New Zealand Chief Executive Annabel Young says that the results of the study are common sense.
“Community pharmacists are highly trained health professionals. They complete a four year university degree and a year of practical training before they are able to seek professional registration.”
“Pharmacists are the shop-front for the health system and you can trust their professional advice. This is especially important over the holidays when people are away from their regular health providers but they know that they can walk in off the street and get good advice from a community pharmacist.”
“Pharmacists are not only medicines experts but they are skilled in recognising and treating minor health conditions and assessing whether a patient needs to see a doctor for a more serious health matter.”
The study was conducted by sending a customer with symptoms of uncontrolled asthma to 25 pharmacies and 25 “health stores” seeking advice.
The pharmacies consistently provided the correct advice, in this case referral to a doctor, whereas “health stores” did not and in some cases gave advice that could cause serious harm to the customer.
The researcher who led the study, Dr Shaun Holt, told TV One Breakfast that people should “definitely go to the pharmacy for medical advice”.
Tidak ada yang baru memang. Dan sudah selazimnya begitu. Apotek adalah pusat asuhan kefarmasian. Jadi apa dong moral story dari postingan ini ?
Sejawat, saya hanya sekedar mengingatkan kembali bahwa apotek adalah rumah kita. Konsumen atau pasien adalah tamu kita. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai tuan rumah untuk menyambut dan memperlakukan setiap tamu yang datang dengan pelayanan yang sebaik mungkin. Mereka datang karena mereka membutuhkan kompetensi kita sebagai konsultan bagi masalah masalah obat dan yang berhubungan dengannya.
Kalau begitu, bukankah potensi apoteker dan apoteknya sama saja dengan hamparan sawah nan luas lagi subur yang belum tergarap dengan optimal ? Populasi penduduk Indonesia merupakan pasar potensial yang siap mengonsumsi jasa apoteker.
Jadi jangan heran bila kelompok apotek jaringan yang ada sedang berlomba lomba menambah outletnya dengan mengajak investor untuk bergabung dengan mereka melalui program waralaba. Kalau kita tidak garap sendiri sawah ladang kita, orang lain yang akan menggarapanya. Kalau sudah begitu, posisi kita tidak lebih dari buruh tani yang hanya menerima upah harian atau mingguan. Padahal kita adalah penggerak utama.
Jadi, maukah kita berpanas-panas seharian untuk membayar listrik yang menghidupkan AC di rumah juragan kita ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Betul…betul…betul… apoteker harus bangkit,jangan hanya ada di bawah bayang-bayang dokter or pengusaha. Pertama,kita harus tingkatkan kemampuan kita dalam hal obat/alkes dan strategi bisnis tentunya. Sebaiknya kita juga menjaga citra apt diantaranya tidak menerima gaji buta. Hidup apoteker indonesia…..