Sejawat pengunjung dan pembaca Portal Apoteker…
Revolusi yang terjadi di dunia teknologi informasi adalah sebuah karunia yang besar bagi umat manusia. Fasilitas untuk berinteraksi tersedia secara melimpah dan semakin mudah dijangkau. Pertukaran informasi menjadi sangat gampang dan cepat. Terimakasih selayaknya kita berikan kepada para pengembang teknologi ini.
Portal ini adalah salah satu wujud dari revolusi tersebut. Karena mudah dan murah maka setiap orang, asal berkehendak, mampu menyalurkan pendapat, ide atau pemikirannya melalui dunia maya kepada siapapun. Antara pelempar dan penerima gagasan bisa saling berinteraksi. Dan bukan tidak mungkin interaksi yang terjadi acapkali melahirkan perbedaan sudut pandang yang punya potensi menggiring kita ke arena konflik.
Itulah yang terlihat dalam tulisan saya bertajuk Sejawat, Dengarlah Suara Stakeholder Kita. Disitu jelas nampak adanya perbedaan pendapat. It’s fine. Untuk sementara tidak perlu kita membuat kesimpulan siapa benar dan siapa salah. Biarlah diskusinya mengalir dahulu.
Sesuai dengan misinya, portal ini dimaksudkan sebagai media untuk berbagi informasi bagi para apoteker untuk mengembangkan kompetensinya. Portal ini memang bukan yang pertama. Ada beberapa media sejenis yang lebih dulu muncul. Dan yang menggembirakan, saat ini telah banyak bermunculan blog atau sejenisnya yang meramaikan dunia kefarmasian. Inilah makna berbagi.
Pembicaraan mengenai apoteker dan apotek memang senantiasa menarik untuk disimak. Disana ada fenomena ayam atau telur. Sejak profesi apoteker berorientasi kepada pasien maka keberadaan apoteker di apotek adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sementara, diakui atau tidak, perubahan tersebut sungguh menganggu kenyamanan mereka yang jarang ke apotek.
Mereka yang sudah terlanjur menikmati comfort zone , berargumentasi bahwa hampir seluruh aktivitas apotek bisa dijalankan tanpa kehadirannya sehingga buat apa mesti tiap hari ke apotek. Sebaliknya bagi mereka yang berhasil menunjukkan keberadaanya di apotek berupaya memotivasi dan mengajak yang lain untuk rajin ke apotek dengan bekal pengalaman yang mereka miliki. Di titik inilah perbedaan pendapat berawal.
Saya hanya menghimbau, marilah kita sama sama melihat perbedaan itu dengan pikiran yang jernih, hati yang lapang dan nurani yang sehat. Profesi adalah pilihan kita dalam berkarya. Karya akan bermanfaat optimal kalau kita menjalankannya dengan cinta. Karena kita berprofesi sebagai apoteker maka sudah selayaknya kalau apoteker kita jadikan gaya hidup kita…
Possibly Related Posts:
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
- Industrialisasi Apotek Makin Nyata
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Leave a comment