Sekitar sepuluh tahun yang lalu, sewaktu saya mulai pakai handphone (hape), pilihan para pemakai pemula – tidak terkecuali saya – adalah hape merek Nokia type N5110. Hape tersebut sangat terkenal sehingga sempat dijuluki hape sejuta umat. Selain harganya terjangkau, sekitar Rp. 1,5 juta, fiturnya cukup lengkap dan user friendly. Boleh dibilang hape Nokia N 5110 layak disebut hape of choice, pilihan utama mayoritas pengguna hape.
Pada saat ini kita lihat hampir tiap bulan ada saja hape type baru masuk ke pasar. Selain modelnya yang berubah, fiturnya juga mengalami penyempurnaan. Inovasi dan pengembangan teknologi hape memang sangat dinamis. Dan yang menguntungkan bagi konsumen, begitu keluar type baru tidak berapa lama kemudian type yang lama akan mengalami penurunan harga yang signifikan.
Fenomena diatas sungguh sangat unik. Kemajuan pesat dalam bidang teknologi hape ternyata telah membawa keberkahan bagi konsumen. Setiap temuan baru yang inovatif selalu diikuti dengan temuan lain yang tak kalah inovatifnya. Efeknya, terjadi lompatan efisiensi yang pada akhirnya berujung pada penawaran harga yang sangat terjangkau.
Pada saat ini hape Nokia N5110 memang sudah tidak diproduksi lagi. Tapi hape dengan fitur yang mirip banyak beredar, baik merek Nokia maupun lainnya. Dan karena adanya fenomena diatas lantas terjadi price downward effect, hape dengan fitur yang sama dengan Nokia N5110 sekarang harganya tidak lebih dari Rp. 500 ribu.
Apakah fenomena price downward effect juga terjadi pada produk obat ? Mari kita lihat bersama.
Selama produk obat dilindungi hak paten harga jualnya bisa dipastikan akan mahal. Dengan logika sederhana hal itu mudah dijelaskan. Penemu paten menghendaki dan memang diperbolehkan untuk mengambil keuntungan yang besar agar investasinya kembali. Besarnya keuntungan yang tercermin dari harga jual berbanding lurus dengan variabel biaya investasi dan masa berlakunya paten.
Segera setelah masa paten habis biasanya akan muncul pabrikan bahan baku lain untuk ikut memproduksinya. Sudah barang tentu harga jualnya lebih rendah dibanding originator, dan harga akan terus mengalami menurunan bila ada penambahan jumlah produsen. Sebagai contoh siprofloksasin. Harga bahan baku siprofloksasin yang dibuat oleh produsen bukan pemegang paten, pada pertengahan tahun 90 an masih diatas $ 400 per kg. Saat ini harga per kg siprofloksasin tidak lebih dari 10% nya.
Apakah harga finished product siprofloksasin juga mengalami penurunan ? Ya, untuk siproloksasin generik yang harganya ditetapkan oleh pemerintah. Namun tidak demikian dengan siprofloksasin bermerek. Alih alih turun, yang ada adalah kenaikan. Dan rutin lagi.
Harga netto apotek untuk siprofloksasin bermerek (apapun) naik dari tahun ke tahun mengikuti irama inflasi dan nilai tukar. Dan itu bisa saja terjadi pada produsen yang sama. Maksudnya pabrik farmasi yang memproduksi baik siprofloksasin generik maupun bermerek. Harga siprofloksasin generik ikut harga yang ditetapkan oleh pemerintah tetapi siprofloksasin bermerek suka suka mereka dan dikoreksi naik hampir tiap tahun.
Lalu apa bedanya siprofloksasin generik dan siprofloksasin bermerek yang diproduksi oleh pabrik obat yang sama ? Hanya harga dan kemasannya. Kalau efikasi dikatakan berbeda, katakanlah yang bermerek lebih efektif dibanding yang generik berarti yang generik substandar dan sudah pasti dilarang beredar. Disparitas harga yang ada adalah pencerminan dari ketidakrasionalan.
Fenomena (harga) obat yang tidak rasional juga terlihat pada program diskon atau bonus yang digelar pabrikan. Mereka terpaksa melakukan hal itu agar volume penjualannya bisa meningkat. Dan mereka bisa melakukannya karena margin keuntungan kotornya besar. Jadi, bisa saja kalau kita mau menyimpulkan bahwa harganya terlalu mahal dan tidak rasional.
Cara mudah untuk mengetahui harga obat yang rasional adalah di sentra sentra perdagangan obat, seperti di Pasar Pramuka. Atau lihatlah di Daftar Plafon Harga Obat yang dikeluarkan perusahaan asuransi kesehatan. Disanalah kita bisa mengetahui berapa sebenarnya harga alamiah yang terbentuk karena hukum permintaan dan penawaran. Tidak semua jenis obat memang. Dan tidak perlu heran kalau ada obat bermerek tertentu yang harganya kurang dari 1/4 HNA resmi.
Jadi obat bermerek cenderung termasuk obat yang tidak rasional dong? Betul untuk obat bermerek yang harganya terpaut jauh dari generiknya.
Tapi mengapa kebanyakan dokter lebih suka menulis obat bermerek dibanding obat generik, dan mengapa apotek(er) dilarang menggantinya tanpa seijin dokter?
Lalu, bagaimana pasien bisa mendapatkan (harga) obat yang rasional?
Possibly Related Posts:
- Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep
- Produk Baru, Manfaat atau Masalah Baru ?
- GPP dan Penanggulangan Obat Palsu
- Polemik Puyer Menegaskan Pentingnya No Pharmacist No Service
- Siapa Menikmati Polemik Puyer?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya peran apoteker sangatlah penting, yang menentukan laju pergerakan obat di apotek adalah apoteker, walaupun dokter menulis resep tertentu apa daya jika apoteker dan pasien setuju diganti dengan obat yang lebih murah saya rasa etikanya dokter tidak berhak melarang hal tersebut. Karena seperti dikatakan di atas generik tidak dibawah paten.
Sebenarnya apoteker bisa mengganti langsung resep dokter, tetapi dengan melalui pertimbangan yaitu :
paten ke generik dengan persetujuan pasien tentunya.
Sama seperti kita baca di kotak rokok ‘merokok menyebabkan empotensi’, tetapi siapa peduli, demikian juga halnya dengan ‘resep tidak dapat diganti tanpa sepengetahuan dokter’.
Sebenarnya kata-kata itu bisa diartikan dengan “RESEP TIDAK DAPAT DIGANTI DENGAN OBAT YANG TIDAK SAMA KANDUNGAN ZAT AKTIFNYA’. Jika dokter melarang mengganti dengan obat yang sama dengan zat aktifnya, berarti ada apa ini?????? Kita sebagai apoteker mempunya peran penting disini, janganlah kita mau melanjutkan kebodohan-kebodohan seperti yang dilakukan oleh yang lain.
Saya mengusulkan agar depkes membuat UU yang mengatur kata-kata dalam resep dokter ‘RESEP TIDAK DAPAT DIGANTI TANPA SEPENGETAUAN DOKTER’
sehingga artinya menjadi jelas.
Karena kata-kata itu bisa mengandung arti:
1.Resep tidak dapat diganti dengan obat yang lain yang isi zat aktifnya berbeda walaupun fungsinya sama
2.Resep tidak dapat diganti dengan obat apapun termasuk yang sejenis (zat aktifnya sama ).
Sebagai seorang apoteker point 1 diatas memang tidak etis dilakukan karena walaupun sama-sama antibiotik ada hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan untuk mensubstitusi obat golongan satu dengan yang lain.
Sebagai contoh jika didalam resep dokter tertulis obat golongan A, sementara kita tidak punya dan di apotek lain juga tidak punya, kita harus konsultasi dengan dokter untuk mengganti resep tersebut.
Terkadang ada kasus alamat dokter tidak jelas, nomor telepon dokter tidak jelas, atau praktek dokter di luar kota,sementara pasien butuh obat secepatnya, Kita sebagai apoteker harus mampu menganalisis kasus-kasus tersebut. Disinilah peran apoteker sangat diandalkan, SEORANG ASISTEN APOTEKER TIDAK AKAN MAMPU MENGANALISIS HAL INI.
Untuk point nomor 2, saya rasa dokter tidak berhak melarang apoteker mengganti resep dengan obat yang sama zat aktifnya, dan saya rasa apoteker tidak perlu meminta nasihat dokter, apa ada yang salah jika ciprofloxacin diganti dengan ciprofloxacin?
HAL INI YANG PERLU SAYA GARIS BAWAHI, PERLU ADANYA PERATURAN DARI PEMERINTAH UNTUK MENDEFINISIKAN KATA-KATA DIDALAM RESEP DOKTER TERSEBUT.
Disini saya memberikan sedikit pendapat saya masalah obat generik dan paten.
Jika mengganti obat yang sejenis (zat aktifnya sama) kita sebagai apoteker harus bertanya kepada pasien, obatnya dipergunakan untuk apa??
Sbgi contoh, diresep tertulis CIPROXIN 500, atau BAQUINOR FORTE.
1.Jika obat untuk pengobatan infeksi pasca operasi besar, sangat riskan jika kita mengganti dengan generik, karena pasca operasi butuh obat yang betul-betul punya KTH yang tinggi agar pasien tidak merasakan sakit akibat infeksi yang lama.
2.Jika obat hanya untuk infeksi saluran pernafasan biasa, bisa kita pertimbangkan untuk menganti dengan generik, itupun jika pasien meminta karena obat paten kemahalan.
Saya bukannya meremehkan obat generik, tetapi begitulah kenyataan yang harus kita terima, Obat paten punya KTH yang tinggi, kadang-kadang jika radang tenggorokan dengan amoxillin generik tidak mempan sedangkan dengan amoxan 500 2 capsul saja sudah terasa. Jadi disini kita sebagai apoteker harus mampu menganalisis hal ini. Saya tidak mau munafik mengatakan generik sama dengan paten, itu jelas beda. Dari struktur kimiawi obat generik dan paten bisa mempengaruhi kerja obat. Hal inilah tantangan seorang apoteker, bagaimana bisa membuat itu menjadi sama.
JADI peran apoteker sangatlah penting, kita yang bisa memikirkan semuanya itu, kita yang mampu membuat keputusan-keputusan itu di rumah kita yaitu APOTEK
saya paling tidak suka jika melihat ada resep yang bertuliskan “dilarang mengganti obat tanpa seijin dokter”
memang udah menjadi otoritas dokter untuk menetapkan diagnosa, tapi masalah pemilihan obat yang “RASIONAL”
itulah tugas dan fungsi apoteker
sebagai contoh, mengutip kata2 sejawat ferdi diatas memang benar deferensiasi antara obat generik dan obat paten sangat jauh dari segi harga
misal BAQUINOR FORTE HNA nya sekitar 10.xxx,- keatas
sedang CIPROFLOXACIN pabrikan sanbe juga HNA nya sekitar 3xx,-
nah bila pasien mendapatkan terapi karena suatu kasus tertentu Baquinor F sejumlah 15 tablet dengan aturan pakai 2×1, sebagian pasien karena faktor finansial terpaksa menebus resep itu cuman 4 tablet, dan sebagian besar gak menebusnya kembali.
apakah ini rasional…? yang mana terapi musti 7 hari cuma 2 hari aja,
salahkan jika saya mengganti obat baquinor F dengan ciprofloxacin generik, atau cipro “paten” pabrikan lain yang harganya lebih rasional agar supaya pengobatannya jadi rasional, atau cure pengobatan terjadi, untuk menghindari resistensi
DAN SAYA LAKUKAN ITU
PASIEN ORIENTED, NOT ONLY PRODUCT ORIENTED
because i’m pharmacist
dan saya tidak terlalu fanatic dengan merk dagang, yang penting bagi saya, generik dan paten sama saja, toh generik udah menetapkan cpob sebagai patokannya,
banyak studi mengatakan perbedaanya cuma masalah onset, bioavailabilitasnya juga equivalen
so what…….?
analoginya kalau BAQUINOR F onsetnya pada menit ke 15, sedang CIPROFLOXACIN pada menit ke 20, mengapa harus menbayar mahal untuk mendapatkan efek farmakologi dari sebuah ciprofloxacin
Rp 300,- dengan Rp 10.000,- / tablet
berapa kalinya coba….
karena saya memandang, keberhasilan pengobatan gak hanya terpaku pada penetapan terapi obat, masih banyak hal yang bisa kita lakukan
BRAVO APOTEKER INDONESIA
BE THE LEADER
Sebenarnya bahan baku generik tidak semuanya jelek, saya sudah banyak memperhatikan obat generik dipasaran dan memperhatikan secara organoleptis.
Kita harus mampu memilih obat generik yang baik, tidak semua obat generik sama asal-usulnya, ada yang dari CINA,INDIA bahkan sudah ada juga yang dibuat di INDONESIA.
Saya pernah memperhatikan Thiamphenicol buatan Pabrik A dan Thiamphenicol Pabrik B sangat berbeda, ada yang berbentuk kristal , sedangkan buatan pabrik lain seperti tepung. Dan saya pernah coba berikan kepada pasien, yang OGB bentuk kristal hasilnya lumayan bagus, sedangkan yang buatan lain hasilnya jelek, malah pasien tidak sembuh.
Saya juga menemukan perbedaan pada serbuk Cefadroxil tiap-tiap pabrik, ada yang kasar tidak beraturan dan halus , yang halus lebih bagus (dexa dan sanbe).
Jadi pemilihan Obat Generik harus hati-hati juga, banyak yang tidak bermutu, saya tidak tau kejadian ini berlangsung setelah dipasaran (berbeda dengan standard dari POM). Mungkin kejadian obat kuat seperti memasukkan sidenofil terjadi juga di obat generik, setelah dipasaran hasilnya jadi berbeda dengan yang di cantumkan.
TIPS MEMILIH OBAT GENERIK
1. Buka salah satu capsulnya atau tablet, coba perhatikan secara fisik, atau raba, akan kelihatan yang bagus yang sesuai dengan persyaratan sediaan zat aktifnya.
2.Pilihlah OGB dari perusahaan yang sudah dipercaya dan sudah punya standar ISO (kalau CPOB pabrik kacangan juga sudah mengklaim)
3.Jangan terkecoh dengan harga yang murah
4.Diperoleh dari distributor resmi
terima kasih masukannya sejawat ferdi
pemikiran bapak sangat membantu saya dan memberi pencerahan bagi saya untuk semakin paham
inilah fungsi dari diskusi ini
kita saling mencerahkan, inilah yang saya sebut long life education.
salam kenal buat sejawat ferdi
saya ingin sekali berdiskusi dengan sejawat,
kalao diperkenankan bolehkan saya meminta e-mail sejawat
kirimkan alamat email saya di
apotekbulung@gmail.com
atau ke
agunghendroprabowo@yahoo.com
atas atensinya saya mengucapkan terimakasih
Dari pengalaman, beberapa obat untuk analgetik dan anestesi memang berbeda efeknya (antara generik dan orisinal), btw ‘tips memilih obat generik ‘ memang sangat bermanfaat untuk seleksi ogb terutama di RS (institusi pemerintah sesuai permenkes 085).
banyak produk branded yang lebih murah ketimbang generiknya.
wassalam, maaf kalau kurang bermanfaat
[...] para sejawat pada tulisan saya yang berjudul (Harga) Obat yang Rasional menyiratkan sebuah kesimpulan bahwa harga obat generik bisa dijadikan patokan harga obat yang [...]
Buat temen-temen yang bergerak dibidang apotek, kami ingin mengenalkan satu program aplikasi komputer untuk apotek ” apotek PS3″. Lihat penjelasan singkatnya di http://www.apotekps3.blogspot.com atau kontak kami :
Techno sarana sentosa
08121538993
technosarana@gmailcom
terimakasih
Need Help..
saya mencari padanan Obat Pentoxyfylline di DPHO (Daftar Plafon Harga Obat). dikarenakan obat tersebut tidak dicover ASKES, dan bagi keluarga kami sangat memberatkan..
Mohon bantuannya.
bisa sms saya di 081332104829/08885346440
Terima kasih.
Tino
ada banyak pak : Pentoxyfillin (nama generik), sudah banyak dipasaran, original (trental), mitu ( trentox, reotal dll), sebenarnya generiknya sudah ada..tinggal cari diapotek terdekat, di apotek saya sih sudah ada pentoxyfillin, bapak daerah mana nih
plese send me about pentoxifilin.
its drug that my doctor gave to me.
after i use it about a week, i have stomach.
so, finally i stop to use it.and now istill left it about 4 pil
Sedang bingung butuh bantuan, saya mencari padanan obat tapros injecsi “kalau tidak salah ketik” untuk pengobatan terapi kista istri saya sebab di pasaran atau di apotek surabaya harganya mencapai 1 juta lebih dan obat ini tidak dicover oleh jamsostek dan bagi saya ini sangat memberatkan, mohon bantuannya.
Info balasan bisa ke is_fe@yahoo.com atau ke 081357914757 sms aja.
Terima kasih sebelumnya.