Sebenarnya saya sudah agak lama membaca artikel yang berjudul Menulis Fungsi Obat di blognya CakMoki dan artikel Dokter-Apoteker cs apa vs ? di blognya sejawat Zullies. Semula saya kurang menaruh perhatian terhadap isi kedua artikel. Namun setelah saya membaca tulisan yang mengkritisi buku berjudul Pasien Pintar dan Dokter Bijak yang ditulis oleh sejawat Dika, saya jadi teringat kedua artikel tadi.
Kalau saya boleh menafsirkan dengan bahasa saya, artikel dokter Moki menyoroti tentang pentingnya asuhan kefarmasian kepada pasien. Menurut beliau penjelasan (tertulis) atas fungsi obat sangat perlu diberikan kepada pasien. O, ya kelihatannya dokter Moki tinggal di daerah perifer sehingga beliau juga dispensing. Atas pengalamannya tersebut, dokter Moki berharap sejawat dokter yang juga dispensing dan apotek yang melayani resep dokter juga melakukan hal yang sama.
Sejawat Zullies dalam artikelnya menerangkan bahwa pelayanan farmasi tidak sebatas membuat atau menjual obat saja, tapi juga memastikan bahwa pasien menggunakan obatnya dengan tepat dan benar. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan informasi dan edukasi seluas-luasnya pada pasien dan masyarakat mengenai penggunaan obat yang benar. Informasi dan edukasi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa di apotek, rumah sakit, lewat media massa, atau cara apa saja. Sementara itu, di rumah sakit, mulai tampil apoteker dengan “wajah baru” yaitu sebagai farmasis klinik.
Agar terwujud, apoteker perlu bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain, termasuk dengan dokter. Konsep kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain relatif masih baru bagi apoteker sehingga McDonough dan Doucette (2001) mengusulkan satu model untuk Hubungan Kerja Kolaboratif antara Dokter dan Apoteker (Pharmacist-Phycisian Collaborative Working Relationship). Tahapannya terdiri dari Professional Awareness, Professional Recognition, Exploration and Trial, Professional Relationship Expansion dan Commitement to the Collaborative Working Relationship.
Namun ketika saya membaca ulasan buku Pasien Pintar dan Dokter Bijak, saya jadi terheran heran karena sejawat Dika menemukan kalimat didalam buku tersebut yang berbunyi :
Cara minum obat selalu dituliskan pada setiap resep. Sejatinya pasien harus mengikuti cara minum obat yang tertulis pada label obat.
Sebaiknya tidak mengajukan pertanyaan kepada apoteker mengenai kegunaan obat tertentu. Seringkali apoteker memberikan penjelasan yang keliru yang justru membuat pasien menjadi panik. Hal ini termasuk pelanggaran wewenang apoteker…
Terus terang saya belum sempat melihat apalagi membaca buku tersebut. Saya baru mencoba menelusuri lewat google dan menemukan penulisnya disini.
Tapi sungguh sangat disayangkan, mengapa begitu gampang menilai profesi apoteker dan menyimpulkannya? Bukankah masing masing profesi memiliki kompetensi khas yang harus di apresiasi oleh profesi yang lain?
Meragukan apalagi meremehkan profesi apoteker semestinya tidak dilakukan oleh dokter bijak.
Bukan begitu sejawat ?
Possibly Related Posts:
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
- Industrialisasi Apotek Makin Nyata
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Salam sejawat,
Dari pengalaman saya, yang mendirikan apotek di daerah perifer. Memang dispensing juga menjadi ladang dari apotek, tetapi hal ini sangatlah riskan, karena harga obat-obatan dispensing juga dipengaruhi oleh kuantitas membeli barang. Maka banting-bantingan harga bisa terjadi. Ketika saya ingin menjalankan pharmaceutical care, ya minimal ada konsultasi obat dengan pasien secara interaktif, terkadang memang ada tanggapan miring dari rekan kesehatan lain, misal dokter, bidan, dan mantri yang berdispensing. Karena ketika pasien self medicated, dia akan tahu harga obat yang sebenarnya, dan relatif murah, dan memang ketika pasien teredukasi, dia lebih memilih konsul dahulu sehingga mendapat obat yang lebih murah karena jasa apoteker masih gratis (hiks hiks).
Perlu rekan sejawat ketahui, bahwa di daerah perifer, dokter, bidan atau pun mantri, memberi obat pada pasen dengan kondisi yang sudah tidak utuh labelnya (misal etiket pada sirup obat sudah dicopot atau obat stripan yang dikeluarkan dari bungkusnya sehingga seperti obat lossan). Sehingga saya beranggapan bahwa pasien dibiarkan dan dikondisikan tetap bodoh, sehingga obat yang harganya irrasional tetap terkondisikan demi keuntungan yang sebanyak-banyaknya.
Saya sangat berterimakasih pada portal ini yang sangat bermanfaat dan informatif. Juga bisa memberikan semangat pada apoteker untuk menjalankan profesinya dengan baik
Terima kasih