Sejawat apoteker yang budiman, apa tanggapan spontan sejawat atas pernyataan yang saya jadikan judul artikel ini diatas ? 

(a)  Setuju    (b)  Tidak Setuju    (c)   Tidak Tahu    

Kalau sejawat ingin membaca isi dari judul tulisan tersebut, silahkan klik blog ini. Maaf, saya tidak terafiliasi atau berkepentingan dengan blog tersebut. Saya hanya berpikir begitu tingginya daya jual profesi apoteker sehingga sebuah blog yang mengkhususkan tentang peluang bisnis sampai berani menyimpulkan bahwa sekolah di farmasi menjanjikan karir yang sangat menguntungkan.

Ok, itu kan di luar negeri, bagaimana dengan di Indonesia ? Menurut informasi jumlah perguruan tinggi penyelenggara program studi farmasi dan fakultas farmasi pada saat ini sudah berjumlah lebih dari 60 institusi. Lazimnya prinsip ekonomi, banyaknya jumlah penyelenggara pasti ada kaitannya dengan besarnya peminat. Bahkan di beberapa universitas, katanya, fakultas farmasi merupakan cashcow  yang mampu memberikan subsidi silang kepada fakultas lain.

Pertanyaan berikutnya, apakah para peminat tertarik karena alasan seperti judul diatas ? Belum ada penelitian khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, beberapa kalangan mengatakan bahwa kuliah di farmasi memiliki daya tarik karena kemudahan mencari pekerjaan bagi lulusannya. Barangkali hal inilah yang memotivasi mereka.

Lantas bagaimana dengan jawaban sejawat ? Kalau saya boleh menyimpulkan, mayoritas sejawat (muda) mungkin akan menjawab tidak setuju. Mengapa ?  Pertama, silahkan baca kembali artikel Gerakan Jangan Masuk Farmasi. Kedua, sejawat yang mengabdikan profesinya di apotek banyak yang belum diapresiasi secara wajar secara finansial (terlepas bahwa tingkat kehadirannya juga masih rendah). Ketiga, sejawat yang mengabdi di rumah sakit juga masih terus berjuang agar diakui keberadaannya.

Kemudian mari kita tengok pada skala yang lebih luas. Kepala BPOM saat ini bukanlah seorang apoteker. Tidak ada satupun BUMN Farmasi yang dipimpin oleh apoteker. Industri farmasi swasta yang dipimpin oleh apoteker juga bisa dihitung jumlahnya dengan jari. Jangan jangan ketua ISFI nantinya juga bukanlah seorang apoteker (he..he.. becanda lho..).

Dengan beberapa argumentasi tersebut kiranya tidak berlebihan kalau saya menyimpulkan banyak sejawat yang menjawab tidak setuju, bukan? Nah sejawat, itulah sekilas potret buram profesi kita. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi kita, seluruh apoteker, dimanapun kita berkarya.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Menurut saya hal penting yang harus kita perhatikan adalah meningkatkan sense of belonging kita terhadap profesi. Banyak diantara kita yang mengabdikan diri sebagai apoteker tapi kurang peduli terhadap profesi kita. Seringkali kita menganggap bahwa urusan profesi adalah urusan ISFI.

Saya menangkap ada kesan, seolah olah, profesi apoteker hanya milik mereka yang mengabdikan keahliannya di apotek. Celakanya, karena dari sisi finansial apotek belum bisa memberikan kompensasi yang memadai, maka merekapun mendiskon habis jam kerjanya sehingga tidak nampak keberadaannya. 

Mereka yang mengabdikan keahliannya di industri tenggelam dengan rutinitas pekerjaannya. Inovasi yang mereka lakukan nyaris tidak terdengar di tengah hiruk pikuknya persaingan bisnis yang lebih mengedepankan persaingan tidak ilmiah.

Mereka yang ada di perguruan tinggi cenderung lebih menonjolkan profesinya sebagai dosen, karena faktanya memang demikian, dan tidak ingat akan masalah masalah aktual di lapangan yang dialami oleh mantan mahasiswanya. Kalau mau jujur apoteker yang baru lulus sebenarnya belum siap untuk bekerja. Apalagi di apotek.

Mereka yang menjadi birokrat terlalu terpaku pada aturan yang kadang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Hal ini tidak salah tapi juga tidak tepat. Bayangkan karena alasan non farmasi, bisnis farmasi menjadi semrawut seperti tidak ada aturan. Distribusi obat hanya baik diatas kertas, tapi di lapangan kondisinya sangat bertolak belakang. Dan sebagaimana lazimnya yang terjadi dibidang lain, semakin tinggi kedudukan semakin tinggi muatan politisnya sehingga kepentingan teknis dikorbankan.

Kalau mau diinventarisasi lebih lanjut masih banyak lagi hal yang bisa kita urai sumber kekusutan profesi kita. Semua bermuara pada minimnya rasa memiliki. Dan karena menyangkut rasa maka tidak ada cara lain kalau partisipasi seluruh sejawat sangat diperlukan untuk mengatasinya.

Semoga dengan sedikit masukan dari saya ini, sensitifitas sejawat sedikit terusik sehingga timbul gairah untuk sama sama membenahi profesi kita. Kalau diluar negeri profesi kita memiliki daya tarik cukup besar masa iya di Indonesia nggak bisa ?

Mohon diingat bahwa pasokan apoteker dari perguruan tinggi per tahun bisa mencapai lebih dari 3000 orang. Mereka akan segera bergabung bersama kita. Saat ini saja jumlah apoteker di Indonesia sudah lebih dari 27.000 orang. Akan menjadi seperti apa dunia perapotekeran Indonesia 5 atau 10 tahun mendatang kalau kita tidak bebenah.

Dan kalau bukan kita yang membenahi, siapa lagi ?

Possibly Related Posts: