Saya pernah membaca sebuah tulisan menarik mengenai presepsi. Diceritakan oleh penulis bahwa pada suatu saat dia pernah berkomunikasi dengan seorang pengemis tua di pinggir jalan yang tiap hari dilewatinya. Penulis menanyakan seluk beluk si pengemis mulai darimana asalnya, dimana tempat tinggalnya, berapa pendapatannya per hari sampai berapa jumlah anaknya dan dimana mereka sekarang.
Singkat cerita, si penulis merasa kagum sewaktu mendengar informasi bahwa pendapatan perhari rata-rata Rp 20.000 dan informasi tentang ketiga anaknya yang ada di UI, Trisakti dan Pemda Depok. Si penulis kagum dan respek terhadap si pengemis. Dengan pendapatan yang sangat minim ternyata dia bisa mengantarkan anak-anaknya sampai ke jenjang pendidikan tinggi.
Namun rasa kagum dan respeknya hilang seketika manakala si penulis mendengar jawaban saat dia menayakan di fakultas apa anak-anak si pengemis kuliah. Dengan santainya si pengemis berkata : ” Lho.., kata siapa anak saya kuliah di UI dan Trisakti Pak..? “, kemudian dia melanjutkan ” Anak saya itu tidak kuliah Pak.., mereka juga mengemis di UI, Trisakti dan Pemda Depok…”
Sejawat.., itulah presepsi. Ketika kita menerima informasi, spontan otak kita akan mengolahnya dan kita persepsikan menurut sudut pandang kita, kemudian outputnya adalah sesuatu yang secara subjektif kita harapkan. Presepsi bisa berbeda bila kita menerima informasi cuma sepotong-sepotong. Dalam cerita diatas bayangkan apabila si penulis berhenti bertanya tatkala mendengar jawaban anak-anak si pengemis ada di UI, Trisakti dan Pemda Depok. Rasa kagum dan respek si penulis pasti akan melekat terus dibenaknya.
Dalam keseharian kita sering menjumpai adanya beda atau bahkan salah presepsi. Seperti cerita diatas penyebabnya tidak lain karena adanya perbedaan informasi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dan subjektifitas kita sebagai individu. Perbedaan presepsi adalah penghambat terbesar dalam proses mewujudkan harapan atau cita-cita.
Sehubungan dengan dicanangkannya program TATAP di setiap apotek, saya melihat masih adanya prokon disana sini. Dan kalau boleh saya simpulkan, penyebab utamanya adalah perbedaan presepsi. Secara umum pihak yang mendukung adalah mereka yang memiliki sarana apotek sendiri dan para pengambil kebijakan yang belum tentu berpraktek di apotek. Sedangkan yang menentang adalah mereka yang bepraktek di apotek milik investor dan jarang datang ke apotek.
Upaya untuk menyamakan presepsi terlihat masih kurang intensif. Para pengambil kebijakan tidak pernah memberikan solusi atas keberatan para penentang, terutama menyangkut jasa profesional. Dilain pihak para penentang kebijakan tidak tuntas mencerna makna program TATAP, yang selain karena deseminasi informasinya belum optimal juga karena rasa apriori akibat tidak adanya gambaran yang lebih menjanjikan yang ditimbulkan oleh pelaksanaan program TATAP.
Sejawat, analisa tersebut belum tentu akurat. Namun saya yakin prokon yang timbul karena adanya perbedaan presepsi. Program TATAP adalah pertaruhan terbesar bagi kita dalam rangka mengangkat martabat dan eksistensi apoteker di masyarakat. Jadi, bagaimana program TATAP bisa terlaksana bila presepsinya tidak disamakan terlebih dahulu ?
Apakah sejawat tidak tergerak untuk memberikan sumbangsaran ?
Possibly Related Posts:
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
- Industrialisasi Apotek Makin Nyata
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Leave a comment