Sebuah artikel menarik dan provokatif tentang apotek saya temukan di blog ini. Artikel tersebut diberi judul Apotek; Bisnis Basah di Samudra Biru. Ibarat makanan, judul yang digunakan penulis benar benar menggugah selera, meski baru dari aroma yang tercium. Artikel itu terbit 21 bulan yang lalu, tepatnya 11 April 2007. 

Setelah membacanya sekitar setahun yang lalu, meski tidak rutin, saya mencoba mengikuti perkembangan komentar yang ada. Sampai saya menulis artikel ini jumlah komentar yang masuk sudah lebih dari 100 buah. Komentar-komentar tersebut masuk setiap bulan mulai  Mei 2007 sampai dengan Desember 2008. Dengan demikian artikel tersebut memang masih tetap menarik minat untuk dibaca dan tidak lekang karena waktu.

Komentar yang masuk rata-rata berasal dari para investor (?) dan para apoteker muda yang berminat untuk mendirikan apotek, baik karena sudah berminat sebelum membaca artikel tersebut atau menjadi berminat setelah membacanya. Tapi ada juga satu dua yang mengingatkan bahwa mengelola apotek tidak semudah teorinya. Jadi bisa dikatakan lebih banyak yang tertarik dibanding yang tidak.

Kalau dari prespektif bisnis, saya lebih cenderung menggolongkan apotek sebagai bisnis di samudra merah. Persaingan didalamnya demikian ketat. Bahkan saking kerasnya tidak jarang terjadi situasi killing for survival. Sehingga tantangannya adalah bagaimana keluar dari samudra merah menuju ke samudra biru agar persaingan menjadi tidak relevan lagi.

Dalam hal demikian saya melihat konsep yang diusung oleh apotek jaringan adalah upaya untuk keluar dari samudra merah menuju samudra biru. Mereka melakukan berbagai upaya untuk membangun keunggulan bersaing. Diantaranya sentralisasi pengadaan untuk menekan harga beli, mutasi persediaan antar outlet agar mempercepat perputaran, standarisasi tata letak outlet, standarisasi sistem pelayanan dan sebagainya. Bahkan ada yang sampai harus buka 24 jam demi menciptakan deferensiasi. Tapi ada lho.., apotek jaringan yang tidak menerapkan sistem sentralisasi pengadaan, sehingga sejatinya sama dengan mengabaikan kekuatan yang dimilikinya bukan?

Dengan sistem yang dikembangkannya mereka berusaha melakukan ekspansi untuk mengejar skala ekonomis. Besaran angka skala ekonomis tidak bisa hanya diterapkan secara nasional karena mereka harus mempertimbangkan biaya pengiriman barang ke dan antar outlet. Oleh karena itu tidak heran mengapa apotek jaringan semakin cepat berkembang di kota-kota besar tapi sangat lambat masuk ke kota-kota kecil.

Untuk keluar dari samudra merah tidak gampang bagi apotek independen. Dari segi biaya pengadaan dan upaya meminimalkan dead stock  tidak mudah mereka lakukan. Kecuali kalau mau mengabaikan aturan seperti membeli dari sumber tidak resmi dan sebagainya. Oleh karenanya ada inisiatif dari beberapa apotek independen yang kemudian bergabung dan menerapkan sistem pembelian secara horisontal.

Salah satu jalan yang sangat efektif bagi apotek independen untuk menciptakan samudra biru adalah menggunakan asuhan kefarmasian. Setiap konsumen yang datang ke apotek (beli atau tidak beli obat) mesti mendapatkan asuhan kefarmasian. Dengan perlakuan demikian, konsumen akan merasakan sensasi yang berbeda. Mereka, para konsumen, akan merasa terpecahkan masalahnya. Jadi konsumen datang bukan semata-mata untuk membeli obat tapi lebih untuk berkonsultasi tentang obat kepada ahlinya. 

Pemberian asuhan kefarmasian kepada konsumen adalah bentuk penciptaan nilai dan ini sangat erat kaitannya dengan esensi bisnis yang paling mendasar, yaitu value creation. Konsumen akan menghargai barang atau jasa yang mereka dapatkan dari seberapa besar nilai yang mereka peroleh. Contoh sederhananya, bukankah konsumen rela membayar secangkir kopi seharga Rp. 25.000 di Starbuck Coffee 

Pemberian asuhan kefarmasian adalah kompetensi khas seorang apoteker. Pekerjaan ini tidak bisa didelegasikan kepada siapapun kecuali kepada sesama apoteker. Dengan begitu maka no pharmacist no service  adalah suatu hal yang mutlak. Dari prespektif persaingan, hal tersebut merupakan value driven strategy

Saya berharap dengan tambahan uraian diatas kita, atau para stakeholder apoteker, semakin mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai apotek. Tanpa keterlibatan dan campurtangan langsung dari apoteker akan sulit bagi apotek untuk berkembang.

Bagi apoteker yang akan bekerjasama dengan pemilik modal untuk mendirikan apotek hendaknya sadar betul tentang peran dan posisinya. Janganlah menjadi apoteker tekab. Sadarlah akan tugas dan kewajibannya. Janganlah rendahnya kompensasi menjadi alasan. Kalau konsekuen, mintalah kompensasi yang anda anggap sepadan.

Bagi para investor yang tertarik, bekerjasamalah dengan apoteker yang memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Sadarilah bahwa apotek tidak sama dengan bisnis ritel. Diperlukan kesabaran dan nafas yang panjang untuk berhasil. Janganlah hanya tergoda pada aspek ekonomisnya saja.

Jadi, saran saya kepada para pemilik modal, siapapun anda -apoteker atau bukan- pertimbangkanlah masak masak sebelum memutuskan untuk membuka apotek..

Possibly Related Posts: