Sejawat, tulisan saya kali ini terinspirasi oleh diskusi tentang Masih Perlukah Apoteker di Indonesia? yang termuat di milis ISMAFARSI dan artikel berjudul Manajemen Manusia Unggul di Kompas 23/01/09.

Pada diskusi tersebut dilontarkan fakta bahwa the art of compounding yang merupakan domain apoteker telah tergantikan oleh mesin maupun komputer, sementara program TATAP di apotek sulit diterapkan karena tekendala oleh sistem reward yang tidak sebanding. Sedikit kutipannya sebagai berikut:

…ketika dulu apoteker kita dapat melakukan peracikan bahan obat, tapi sekarang? masih bisa sih, tapi siapa yang mau pake?? Ketika semuanya tergantikan oleh perkembangan teknologi, ketika obat-obat dapat diracik oleh sistem komputerisasi dan ketika obat dapat dijual bebas di supermarket, kedai kedai bahkan di kaki lima, kesemuanya itu dengan mudah dilakukan oleh orang orang diluar tenaga kefarmasian dan profesi apoteker.. “ 

Karenanya tercetus pertanyaaan, masih perlukah apoteker di Indonesia?  Jamaknya suatu diskusi, tanggapan yang masuk ada yang pro dan ada yang kontra. Sayang saya tidak bisa membuat link ke milis tersebut.

Sementara itu Herry Tjahjono, penulis artikel Manajemen Manusia Unggul, menyoroti tentang fenomena kompetisi dalam kehidupan. Menurutnya, ada 2 dimensi kompetisi yaitu kompetisi produktif dan kompetisi kontra produktif. 

Kompetisi produktif adalah sebuah bentuk kompetisi yang melahirkan competitive advantage. Kompetisi produktif semacam ini baik-baik saja dan akan menghasilkan ”pemenang yang terbaik”. Maka, siapa pun yang akan menjadi penikmat hasil kompetisi akan menerima sesuatu yang produktif.

Kompetisi kontraproduktif adalah sebuah bentuk kompetisi yang kelewat batas dan hanya melahirkan berbagai competitive disadvantage. Kompetisi jenis ini didasari oleh mentalitas kekurangan (scarcity mentality), menganggap bahwa dunia, bumi, semesta, negeri, tempat kerja, sekolah, dan seterusnya tak punya sumber yang cukup untuk semua orang. Karena itu, mereka berebut, mengeksploitasi, menyakiti, menyikut, menghancurkan untuk lebih dulu mendapatkan segala sesuatu. 

Dari kedua hal tersebut diatas saya mencoba menghubungkan dan mencari benang merahnya. Meski tidak kentara, tapi terlihat korelasinya.  Secara samar saya melihat bahwa diskusi di milis ISMAFARSI mengemuka akibat adanya kompetisi kontra produktif. 

Kompetisi kontra produktif muncul akibat kelengahan apoteker. Mesin atau komputer di pabrik obat misalnya. Kedua benda ini adalah alat bantu yang mempermudah pekerjaan kita. Benda-benda tersebut tidak akan berfungsi maksimal tanpa adanya operator yang handal. Dan jangan lupa, operatorpun tidak bisa berbuat banyak tanpa otorisasi dari apoteker, karena otoritas apoteker tidak tergantikan.

Memang disayangkan kreasi apoteker di pabrik tidak sepenuhnya terekspos keluar karena tenggelam oleh hiruk pikuknya persaingan tidak etis yang terjadi di pasar. Akibatnya jerih payah apoteker kurang mendapatkan apresiasi. Tapi hal ini bukan alasan yang tepat untuk menyimpulkan bahwa apoteker tidak diperlukan lagi di pabrik, kan ?

Yang terjadi di sektor pelayanan (baca apotek) juga mirip. Karena keengganan kita “melayani” (memberikan asuhan kefarmasian), maka pekerjaan profesional apoteker tergantikan oleh tenaga lain. Apotek bisa beroperasi tanpa kendala walau tidak ada apoteker. Meski keliru dan menyadarinya tapi kita sangat menikmati. Bahkan lebih ekstrim lagi, tanpa sadar, masalah tersebut dieksploitasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah apoteker tidak diperlukan lagi. Coba saja disimak salah satu alasan dokter dispensing. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan jauh lebih baik bagi pasien, daripada membiarkan pasiennya menebus resep di apotek yang apotekernya tidak pernah ada

Jadi, sebenarnya dalam berkompetisi kita tidak mempunyai kompetitor langsung. Kompetitor langsung kita adalah diri kita sendiri. Kita seperti kehilangan orientasi untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai apoteker. Kita merasa kecil dibanding profesi lain. Kita juga cenderung menyalahkan pihak lain dibanding melakukan introspeksi.

Dalam artikelnya, Herry Tjahjono menganjurkan bahwa ada baiknya kita mendengar yang dikatakan Wallace D Wattles, ”Tugas kita bukanlah mencari apa yang telah dimiliki orang lain sebab kita bisa menciptakan apa yang kita inginkan.” Sehingga, muncullah kata ”kreasi” yang mempunyai kualitas lebih tinggi dari kompetisi, bahkan yang produktif sekalipun. Landasannya adalah mentalitas kelimpahan (abundance mentality). Dunia ini punya lebih dari cukup untuk semua orang. Tak perlu berebut, menyakiti, menghancurkan, berkompetisi kontraproduktif untuk menjadi ”pemenang kehidupan terbaik”. 

Selama kita menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi sejatinya kita telah dididik untuk menjadi manusia yang kreatif. Kita dilatih untuk terbiasa membuat analisa. KIta dijari untuk memecahkan masalah. Waktu kita banyak tersita untuk praktikum. Semua itu adalah proses yang kita tempuh agar kreatifitas kita tumbuh.

Sikap kreatif yang kita miliki sebenarnya mendorong kita bukan hanya mampu menjalankan dan memenuhi tuntutan pekerjaan profesional apoteker, tetapi juga melahirkan ”karya-karya” menakjubkan yang tak pernah terpikirkan siapa pun, termasuk oleh kita sendiri. 

Sejawat, harus kita akui bahwa kita memang belum punya role model  yang bisa menjadi panutan bagi kita dalam menjalankan profesi. Memang banyak sejawat-sejawat kita yang berhasil di level makro, tapi mereka tidak bisa merepresentatisikan profesi apoteker secara utuh sehingga belum bisa menjadi referensi apoteker secara umum.

Barangkali kinilah saat yang tepat bagi kita untuk menjadi role model. Tidak usah muluk-muluk. Cukup menjadi role model disekitar kita saja.  Sangat disayangkan apabila bakat kreatif kita dikubur dalam-dalam hanya karena asumsi yang terbentuk oleh keadaan saat ini. Juga sangat disesalkan bila kreatifitas yang kita miliki malah disalurkan ke bidang non farmasi.

Perubahan orientasi dari produk ke pelayanan membuka peluang bagi kita untuk memperluas cakupan kreasi. Saya melihat bahwa asuhan kefarmasian adalah sarana yang sangat efektif untuk menciptakan nilai. Karena asuhan kefarmasian adalah domain kita, maka dengan mudah kita bisa menjadikan persaingan menjadi tidak relevan lagi. Dan jangan lupa bahwa asuhan kefarmasian adalah sarana bagi apoteker untuk menciptakan blue ocean strategy

Jadi saya yakin 1.000 % apoteker masih diperlukan di Indonesia, hanya saja apakah dihargai atau tidak kita sendiri yang bisa menentukan.

Possibly Related Posts: