<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?</title>
	<atom:link href="http://apotekkita.com/2009/01/23/siapa-bilang-apoteker-tidak-diperlukan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apotekkita.com/2009/01/23/siapa-bilang-apoteker-tidak-diperlukan/</link>
	<description>media berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2011 00:39:44 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: dadan97</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/01/23/siapa-bilang-apoteker-tidak-diperlukan/comment-page-1/#comment-289</link>
		<dc:creator>dadan97</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 03:39:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=520#comment-289</guid>
		<description>&quot;Apotek bisa beroperasi tanpa kendala walau tidak ada apoteker. Meski keliru dan menyadarinya tapi kita sangat menikmati. Bahkan lebih ekstrim lagi, tanpa sadar, masalah tersebut dieksploitasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah apoteker tidak diperlukan lagi. Coba saja disimak salah satu alasan dokter dispensing. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan jauh lebih baik bagi pasien, daripada membiarkan pasiennya menebus resep di apotek yang apotekernya tidak pernah ada.&quot;


trus kita mesti gimana? selama kuliah terus terang kita tidak dilatih untuk berkerja di pelayanan (apotek) secara spesifik, yang menjadikan kebanyakan apoteker tidak PD untuk ada di sektor pelayana (apotek), bahkan sering kali dicemooh oleh asisten yang sudah lama bekerja di tempat tersebut, dengan dikatakan apoteker tidak bisa apa-apa.

sistem pendidikan farmasi kita yang membuat kita seperti itu (walaupun sudah ada kurikulum inti yang dibuat oleh APTFI),tidak menciptakan seorang pekerja apotek (asisten).Padahal hal seperti itu sangat diperhatikan dan sering kali dibutuhkan oleh asisten, pasien, maupun dokter yang pada akhirnya kita dinilai tidak mampu dan qualified untuk melayani pasien.

mungkin yang dibutuhkan untuk seorang apoteker di sektor pelayanan (apotek) adalah seorang asisten apoteker yang melanjutkan pendidikan ke tingkat apoteker, sehingga memiliki kemampuan dan ketrampilan teknis maupun managerial, yang dibutuhkan untuk terlihat qualified oleh terutama dokter.


maaf ini hanya sebatas komentar pribadi saja.trims untuk dimuatnya........................</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Apotek bisa beroperasi tanpa kendala walau tidak ada apoteker. Meski keliru dan menyadarinya tapi kita sangat menikmati. Bahkan lebih ekstrim lagi, tanpa sadar, masalah tersebut dieksploitasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah apoteker tidak diperlukan lagi. Coba saja disimak salah satu alasan dokter dispensing. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan jauh lebih baik bagi pasien, daripada membiarkan pasiennya menebus resep di apotek yang apotekernya tidak pernah ada.&#8221;</p>
<p>trus kita mesti gimana? selama kuliah terus terang kita tidak dilatih untuk berkerja di pelayanan (apotek) secara spesifik, yang menjadikan kebanyakan apoteker tidak PD untuk ada di sektor pelayana (apotek), bahkan sering kali dicemooh oleh asisten yang sudah lama bekerja di tempat tersebut, dengan dikatakan apoteker tidak bisa apa-apa.</p>
<p>sistem pendidikan farmasi kita yang membuat kita seperti itu (walaupun sudah ada kurikulum inti yang dibuat oleh APTFI),tidak menciptakan seorang pekerja apotek (asisten).Padahal hal seperti itu sangat diperhatikan dan sering kali dibutuhkan oleh asisten, pasien, maupun dokter yang pada akhirnya kita dinilai tidak mampu dan qualified untuk melayani pasien.</p>
<p>mungkin yang dibutuhkan untuk seorang apoteker di sektor pelayanan (apotek) adalah seorang asisten apoteker yang melanjutkan pendidikan ke tingkat apoteker, sehingga memiliki kemampuan dan ketrampilan teknis maupun managerial, yang dibutuhkan untuk terlihat qualified oleh terutama dokter.</p>
<p>maaf ini hanya sebatas komentar pribadi saja.trims untuk dimuatnya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Farmasis klinik,&#8230; riwayatmu dulu dan eksistensimu sekarang &#171; Zullies Ikawati&#8217;s Weblog</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/01/23/siapa-bilang-apoteker-tidak-diperlukan/comment-page-1/#comment-288</link>
		<dc:creator>Farmasis klinik,&#8230; riwayatmu dulu dan eksistensimu sekarang &#171; Zullies Ikawati&#8217;s Weblog</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 13:53:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=520#comment-288</guid>
		<description>[...] yang berjudul “Clinical Pharmacist make economic sense”, sudah muncul lagi tulisan berjudul “Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?”, yang menurutku saling berkaitan…. (salut deh, Mas… rajin posting. Aku sendiri angin-anginan. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] yang berjudul “Clinical Pharmacist make economic sense”, sudah muncul lagi tulisan berjudul “Siapa Bilang Apoteker Tidak Diperlukan?”, yang menurutku saling berkaitan…. (salut deh, Mas… rajin posting. Aku sendiri angin-anginan. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

