<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kita Bukanlah Penonton, Bukan Pula Pemain</title>
	<atom:link href="http://apotekkita.com/2009/01/26/kita-bukanlah-penonton-bukan-pula-pemain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apotekkita.com/2009/01/26/kita-bukanlah-penonton-bukan-pula-pemain/</link>
	<description>media berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 15:50:22 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/01/26/kita-bukanlah-penonton-bukan-pula-pemain/comment-page-1/#comment-292</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 09:16:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=536#comment-292</guid>
		<description>Posisi kita adalah sebagai pelindung pasien melalui asuhan kefarmasian yang kita berikan. Pasien wajib kita lindungi dari terjadinya pengobatan tidak rasional. Bila apoteker menempatkan diri pada posisi yang benar dan konsisten tidak ikut terlibat dalam permainan, insya Allah pasien terlindungi dan tidak perlu ada MOU segala.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Posisi kita adalah sebagai pelindung pasien melalui asuhan kefarmasian yang kita berikan. Pasien wajib kita lindungi dari terjadinya pengobatan tidak rasional. Bila apoteker menempatkan diri pada posisi yang benar dan konsisten tidak ikut terlibat dalam permainan, insya Allah pasien terlindungi dan tidak perlu ada MOU segala.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadan97</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/01/26/kita-bukanlah-penonton-bukan-pula-pemain/comment-page-1/#comment-291</link>
		<dc:creator>dadan97</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 06:10:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=536#comment-291</guid>
		<description>Kalo kita bukan penonton, bukan pula pemain, lalu kita ini posisinya dimana? kalo dalam sepakbola kita lebih tepatnya sebagai bolanya, yang digiring kesana-kesini oleh berbagai kepentingan. betul kata agung hendro, kita tidak bisa meyakinkan masyarakat bahwa kita ini yang lebih mengerti ttg obat. sampai-sampai konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…dan kita tidak bisa meyakinkan konsumen.(terlebih karena kita tidak ada di apotek untuk memberikan informasi dan meyakinkan konsumen)........

haruskah kita tetap jadi bolanya?
atau kah kita memang tidak memiliki peran dalam pelayanan distribusi obat..........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo kita bukan penonton, bukan pula pemain, lalu kita ini posisinya dimana? kalo dalam sepakbola kita lebih tepatnya sebagai bolanya, yang digiring kesana-kesini oleh berbagai kepentingan. betul kata agung hendro, kita tidak bisa meyakinkan masyarakat bahwa kita ini yang lebih mengerti ttg obat. sampai-sampai konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…dan kita tidak bisa meyakinkan konsumen.(terlebih karena kita tidak ada di apotek untuk memberikan informasi dan meyakinkan konsumen)&#8230;&#8230;..</p>
<p>haruskah kita tetap jadi bolanya?<br />
atau kah kita memang tidak memiliki peran dalam pelayanan distribusi obat&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agung hendro ssi apt</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/01/26/kita-bukanlah-penonton-bukan-pula-pemain/comment-page-1/#comment-290</link>
		<dc:creator>agung hendro ssi apt</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 17:11:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=536#comment-290</guid>
		<description>Sejauh pengamatan saya memang sampai saat ini sistem distribusi obat di indonesia masih terkesan semrawut, meskipun sudah ada alur yang disepakati. Tetapi karena kepentingan pihak pihak tertentu yang berusaha meraup keuntungan secara simbiosis mutualisme sehingga kadang memangkas pola distribusi.

selain itu demi kepentingan marketing suatu product, karena selama ini diyakini atau tidak peran dokter sebagai penulis resep dalam masalah penentuan obat yang digunakan dalam terapi masih memegang peran yang paling dominan, di satu sisi respon, sikap dan tingkat pamahaman masyarakat kita mengenai obat masih sangat belun berkembang.

Masih banyak masyarakat pengguna obat yang menggunakan obat berdasarkan sugesti dari info-info yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang mau mengkonsumsi obat dengan kemasan tertentu, beda kemasan tidak mau, padahal isi obatnya sama dan reputasi pabrik pembuatnya tidak jauh berbeda.

Sering kejadian di apotek, konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…

hal hal seperti diatas kadang dimanfaatkan oleh pihak pihak tertentu untuk diambil keuntungannya, sampai sampai dalam lembar resep sering kita jumpai terdapat tulisan &#039;DILARANG MENGGANTI OBAT TANPA SEPENGETAHUAN DOKTER

Hal inilah yang sering menyebabkan pengobatan jadi tidak rasional dan membatasi peran apoteker dalam masalah pemilihan obat. Karena ada &quot;ORDER&quot; dari pihak marketing sehingga sebagai imbasnya ada kewajiban untuk menuliskan brand tertentu.

tapi itulah yang terjadi di masyarakat kita, apakah dengan keadaan itu, kita masih tinggal diam saja...
ayo apoteker indonesia....,
mari kita bereksistensi
dimulai dengan kita menyediakan waktu semakin banyak, kita ke front office, face to face dengan pasien
berikan asuhan kefarmasian...
saya yakin dan percaya, lambat laun itu akan merubah keadaan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sejauh pengamatan saya memang sampai saat ini sistem distribusi obat di indonesia masih terkesan semrawut, meskipun sudah ada alur yang disepakati. Tetapi karena kepentingan pihak pihak tertentu yang berusaha meraup keuntungan secara simbiosis mutualisme sehingga kadang memangkas pola distribusi.</p>
<p>selain itu demi kepentingan marketing suatu product, karena selama ini diyakini atau tidak peran dokter sebagai penulis resep dalam masalah penentuan obat yang digunakan dalam terapi masih memegang peran yang paling dominan, di satu sisi respon, sikap dan tingkat pamahaman masyarakat kita mengenai obat masih sangat belun berkembang.</p>
<p>Masih banyak masyarakat pengguna obat yang menggunakan obat berdasarkan sugesti dari info-info yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang mau mengkonsumsi obat dengan kemasan tertentu, beda kemasan tidak mau, padahal isi obatnya sama dan reputasi pabrik pembuatnya tidak jauh berbeda.</p>
<p>Sering kejadian di apotek, konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…</p>
<p>hal hal seperti diatas kadang dimanfaatkan oleh pihak pihak tertentu untuk diambil keuntungannya, sampai sampai dalam lembar resep sering kita jumpai terdapat tulisan &#8216;DILARANG MENGGANTI OBAT TANPA SEPENGETAHUAN DOKTER</p>
<p>Hal inilah yang sering menyebabkan pengobatan jadi tidak rasional dan membatasi peran apoteker dalam masalah pemilihan obat. Karena ada &#8220;ORDER&#8221; dari pihak marketing sehingga sebagai imbasnya ada kewajiban untuk menuliskan brand tertentu.</p>
<p>tapi itulah yang terjadi di masyarakat kita, apakah dengan keadaan itu, kita masih tinggal diam saja&#8230;<br />
ayo apoteker indonesia&#8230;.,<br />
mari kita bereksistensi<br />
dimulai dengan kita menyediakan waktu semakin banyak, kita ke front office, face to face dengan pasien<br />
berikan asuhan kefarmasian&#8230;<br />
saya yakin dan percaya, lambat laun itu akan merubah keadaan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
