Saya mendapat kiriman sebuah tautan berita tentang puyer dari sejawat Dadan. Dalam tautan tersebut diulas mengenai puyer dari prespektif peracikan dan tanggapan konsumen tentang manfaatnya.
Di portal ini, saya pernah pula menuliskan topik tentang puyer dengan judul Resep Racikan Apakah Sesuai CPOB ? Jadi, tautan tersebut seolah merupakan visualisasi dari tulisan saya.
Sayang saya tidak menonton secara langsung, sehingga tidak tahu apakah dalam berita tersebut diulas tentang kerasionalan kombinasi obatnya atau tidak.
Tahun lalu, melalui koneksi internet, permasalahan tentang puyer juga sempat menghiasi layar monitor kumputer kita. Bahkan sempat diseminarkan pula. Topik yang dibahas cukup komprehensif, baik tentang masalah ketidakrasionalan penggunaan obat maupun masalah interaksi obat yang berpotensi mempengaruhi efikasi maupun stabilitasnya. Salah satu ulasannya bisa dibaca disini.
Selagi saya membuat tulisan ini, tiba-tiba saya mendapat email dari facebook tentang permintaan berteman dari sejawat Ully Wirawan. Sewaktu saya menengok halaman facebook beliau, ternyata sejawat Ully juga melontarkan masalah puyer sebagai bahan diskusi (saya ndak tahu apakah bagi sejawat yang belum berteman dengan sejawat Ully bisa mengaksesnya atau tidak). Diskusinya cukup hidup dan menarik untuk kita simak.
Sejawat, seperti kita ketahui, pada dasarnya pemilihan bentuk sediaan puyer tidak terlepas dari upaya untuk membantu memudahkan pasien dalam mengonsumsi obat yang diperlukan. Sediaan ini bersifat customized sehingga harus diracik terlebih dahulu sebelum siap dikonsumsi. Maka dari itu tidak heran bila sangat jarang ditemukan bentuk sediaan puyer yang dibuat oleh pabrik obat.
Dalam perjalanannya puyer ternyata tidak hanya dipilih karena alasan memudahkan mengonsumsi saja tetapi juga dipakai sebagai sarana oleh dokter untuk mengombinasikan beberapa obat dengan tujuan mendapatkan efek terapi yang optimal. Disinilah permasalahan muncul.
Kombinasi beberapa obat berpotensi menimbulkan beragam masalah. Selain masalah ketidakrasionalan, kombinasi obat bisa menimbulkan interaksi baik fisika maupun kimia yang bisa jadi malah menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi. Dari sini pula kita bisa mengetahui bahwa sejawat dokter memang bukan ahli dalam segala hal. Dan disinilah seharusnya apoteker menampilkan perannya sebagai pelindung pasien.
Sayang karena minimnya asuhan kefarmasian akibat ketidakaktifan apoteker di apotek, puyer malah dituduh sebagai biang ketidakrasionalan penggunaan obat dan bahkan dianjurkan untuk dihapus dari daftar bentuk sediaan. Padahal tidak semua obat yang diproduksi memiliki bentuk sediaan yang cocok bagi semua pasien.
Bila ditilik dari filosofinya, puyer sesungguhnya merupakan sediaan yang bersifat darurat. Artinya bentuk sediaan ini hanya stabil untuk masa yang pendek. Sifat kimia fisika yang melekat pada bahan obat, atau minimnya pengendalian variabel yang berpengaruh terhadap stabilitas pada proses peracikannya merupakan contoh yang bisa mempengaruhi stabilitas puyer.
Tetapi jangan lupa bahwa apoteker dengan pertimbangan dan kewenangan profesionalnya memiliki hak untuk untuk mengeluarkan jaminan terhadap kerasionalan formulasi dan stabilitas puyer untuk waktu tertentu. Sehingga, dengan adanya jaminan tersebut puyer tetap dapat dikonsumsi secara aman dan efektif.
Dengan demikian puyer sebenarnya masih tetap bisa dipertahankan keberadaannya sepanjang apoteker mampu menerapkan good pharmacy practise secara memadai dalam praktek sehari-harinya di apotek. Dan sesungguhnya inilah salah satu wujud pharmaceutical care yang sangat dirasakan manfaatnya oleh pasien dari seorang apoteker.
Jadi, apabila terjadi penyimpangan dalam pembuatan atau pemanfaatan puyer solusinya bukan dengan melarang pemakaian puyer. Apoteker yang harus turun tangan mengatasinya. Dan ini bisa terlaksana dengan baik bila PP tentang Pekerjaan Kefarmasian sudah terbit.
Saya berpendapat bahwa melarang pemakaian puyer secara umum sama dengan pengkebirian kewenangan apoteker.
Apakah sejawat sependapat ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Selamat Tinggal ISFI…
- Perubahan Itu Keniscayaan
- Apoteker Memang Harus Narsis
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
trima kasih buat admin yg telah menanggapi pesan saya, walupun setelah saya cek, ternyata permasalahan puyer ini pernah dibahas di forum ini, tetapi yang menjadikan hal ini lebih menarik adalah dengan adanya semacam “investigasi” oleh media, yang seakan-akan kembali memojokkan profesi kita.
betul td dikatakan bahwa ketidakaktifan apoteker di apotek lah, puyer dituduh sebagai biang ketidakrasionalan penggunaan obat dan bahkan dianjurkan untuk dihapus dari daftar bentuk sediaan. padahal dengan adanya apoteker yang aktif di apotek, perihal ketidakrasionalan puyer dapat dicegah, kan bukan apoteker yang harus menggerus puyer itu, tetapi apoteker lah yang harusnya menelaah apakah kombinasi dalam racikan puyer tersebut ada hal yang merugikan pasien. itu tugas apoteker sesungguhnya.
berkenaan dengan diskusi yang terjadi di facebook, yang menurut admin cukup hidup dan menarik, lebih dikarenakan kedekatan kami, sehingga bisa lebih terbuka dan leluasa berkomentar. mungkin jika semua anggota forum ini lebih saling mengenal secara individu, akan bisa lebih menghidupkan forum ini.
terakhir, saya sependapat, dengan pernyataan terakhir bahwa melarang pemakaian puyer secara umum sama dengan pengkebirian kewenangan apoteker. mungkin saya lebih cenderung kalo puyer dilarang sepenuhnya, menjadikan profesi apoteker semakin tidak ada artinya…(semakin tidak memiliki taring).sehingga tidak ada bedanya antara apoteker dengan asist. Apoteker atau tukang obat, jika puyer dilarang sepenuhnya.
trims
Saya heran sekali kenapa pencari berita mencari informasi obat koq sama dokter sc???
Bukannya mereka tidak memiliki kompetensi masalah informasi obat (walaupun dari mereka ada diantaranya yang berlatarbelakang farmakologi)
informasi obat, cara pembuatan obat yang baik, teknis kerja di lapangan pastinya merupakan kompetensi apoteker!!!!!!!!!!!!!!!!
Apoteker diharapkan memberikan statement untuk memberikan kejelasan atas simpang siur berita ini!!
jangan sampai terbangun mindset klo puyer itu tidak bagus, apa jadinya bila dosis yang digunakan lebih kecil dari pada sediaan (adjusment doses)…
Incomplain bakal jadi permaslahan lagi bagi tenaga kesehatan..
maka peran serta apoteker dalam menciptakan POR (Penggunaan Obat Rasional) sangat diharapkan!!!!!!!!!!!
Ayo para apoteker berikan statement mu kepada publik!!
Agar publik mengerti tentang dilema yang terjadi.
eksistensi apoteker dapat terbangun lewat cara ini!
Puyer merupakan salah satu dari bentuk sediaan obat, dan telah lama sekali digunakan, penggunaannya saya pikir sah-sah saja selama Resep Puyer tersebut Rasional dan di buat secara profesional.
Dalam hal ini saya berharap Peran Apoteker dapat sebagai filtrasi dari resep Dr. karena tidak dapat kita pungkiri hingga saat ini masih terdapat dokter yang tidak rasional dalam memberikan obat kepada pasien. entah karena suatu kepentingan atau karena hal lain seperti salah mendiagnosa, saya harap semua pihak baik Apoteker maupun Dr. dapat bekerja sama demi kepentingan dan kebaikan pasien. jadikan kepentingan pasien diatas kepentingan pribadi.