Akhirnya polemik tentang puyer mulai menuai kesimpulan. Setelah kemarin pemerintah cq Menteri Kesehatan menyatakan bahwa puyer masih merupakan bentuk sediaan yang masih dibutuhkan di Indonesia, hari ini pemberitaan tentang polemik puyer menegaskan pentingnya keberadaan apoteker untuk menjamin kualitas dan rasionalitas puyer.
Saya rasa tidak ada polemik untuk ini. Didalam pedoman good pharmacy practise salah satunya memang menuntut keberadaan apoteker di apotek untuk melakukan screening terhadap setiap resep yang masuk, menyiapakannya sesuai permintaan dokter dan menyerahkannya kepada pasien secara langsung disertai penjelasan yang memadai.
Dalam format yang lebih besar good pharmacy practise adalah kumpulan prosedur yang berisi tatacara menjalankan apotek, pharmaceutical care adalah ‘landasan idiil’ bagi apoteker dalam memraktekkan profesinya dan no pharmacist no service adalah konsekuensi logisnya.
Agar pelaksanaan no pharmacist no service bisa diterapkan secara efektif maka seyogyanya Pemerintah segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian sebagai payung hukum bagi para apoteker dalam melaksanakan tugas profesinya.
Oleh karena itu mari kita wujudkan peran kita sebagai pelindung konsumen obat secara kongkrit agar masyarakat luas terlindungi dari penggunaan obat yang salah maupun penyalahgunaan obat.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Selamat Tinggal ISFI…
- Perubahan Itu Keniscayaan
- Apoteker Memang Harus Narsis
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
saya sebelumnya minta maaf kalau komentar saya agak berbeda dengan teman-teman sejawat, menurut saya TATAP itu tidak begitu perlu, kenapa saya mengatakan hal ini :
Jika TATAP dilakukan apotek juga tidak berjalan efektif, akan mematikan apotek itu sendiri, kesan terhadap apotek buka-tutup akan menjadi konotasi yang jelek bagi masyarakat, padahal ada saatnya hanya membeli 1 strip paramex atau panadol apa harus menunggu seorang apoteker, malah masyarakat akan membeli ke kios-kios saja yang tidak kompeten. Ada resep2 tertentu yang tidak membutuhkan analisa seorang apoteker, apalagi zaman sekarang komunikasi dengan HP sudah begitu maju. Apoteker juga manusia, ada saat2 tertentu apoteker tidak bisa hadir sesuai jadwal.
Solusinya :
1.Apotek tanpa apoteker bisa buka tetapi dengan syarat, ada asisten apoteker, tidak menerima resep racikan, kewajiban setiap apoteker untuk memberikan arahan kepada asisten apoteker jika ada resep harus berkonsultasi dahulu dengan apoteker (komunikasi dengan HP sudah lancar), dan melalui persetujuan apoteker.
2.Permohonan Izin Apotek hanya bisa diberikan kepada APOTEKER, jadi APA dan PSA adalah seorang apoteker.
Kita juga harus berfikir apotek harus buka terus, malah apotek tren dengan 24 jam, kenapa harus buka-tutup.
Jika apoteker tidak pernah hadir di apotek, saya yakin apoteknya pasti sulit bersaing.
bagi saya TATAP memang harus ditegakkan, jika ingin profesi apoteker selamat di masa mendatang. sebagai apoteker baru saya yakin peran apoteker bisa lebih baik terutama di apotek jika apoteker mau menjalankan etika profesi secara profesional.
[...] no pharmacist no service menjadi sangat mendesak untuk diimplementasikan, meski kemudian sejawat Ferdi berbeda pendapat. Saya tidak bermaksud membuka polemik baru. Saya hanya ingin mengajak sejawat [...]
TATAP why not… Jelas ini harus, kalo ini kita ingin tetap eksis dan tidak dipandang sebelah mata. Melalui program TATAP ini saat kita tunjukan diri pada masyarakat bahwa apoteker itu ada!!! Kalau ada sejawat yg ga sanggup krn harus 12 jam ditempat knp ga nyari apoteker pendamping. Kasian tuh masi byk sejawat kita yg blum dpt kerja. Apalagi sejawat yg da PNS kasihlah kesempat pd yg laen.
saya setuju dengan TATAP, tapi disesuaikan dengan sikon, seperti kata pa ferdibabd_psrb.kita semua kan tahu bahwa obat sudah ada kategorinya….jangan sampai kita menyama-ratakan kategori obat. betul kata pa ferdi, kalo hanya sekedar untuk pelayanan obat OTC, ga perlu nunggu apoteker.tapi kalo sudah berbicara resep (permintaan tertulis dokter kpd apoteker) > (walaupun dlm resep itu semua obatnya kategori OTC), maka seorang apotekerlah yang harus melayani.
dan saya juga sependapat dengan solusi yang dikemukakan pa ferdi mengenai solusinya….
ayo kita jadikan apotek sebagai tempatnya apoteker mengabdi, bukan sebagai sumber penghasilan tanpa harus berkeringat.
Idealnya memang No Pharmacist No Servise (NPNS), itu lah konsekuensi dari sebuah profesi. Farmasi termasuk profesi, sesuatu pekerjaan profesi tidak akan berjalan bila tidak ada ahlinya (apoteker). Sebuah apotek yang menjadi ujung tombak dan penanggungjawab adalah apoteker, sehingga konsep NPNS di sebuah apotek adalah suatu keharusan.
Membeli obat di warung dengan di apotek mestinya harus dibedakan. Ini mestinya khusus untuk obat bebas. Apabila masyarakat merasakan peran apoteker sebagai sumber pelayananan informasi obat, mestinya ke depan masyarakat akan menyadari untuk membeli obat ke apotek dibandingkan di warung.
menurut aku, puyer sah – sah aja kalau dibuat langsung sama orang tuanya, misalnya, dari apotik menyerahkan obat sesuai bentuknya dan memberikan arahan petunjuk berapa kali dan dosis untuk diminum. keluarga pasien yang menginginkan obat di racik, ambil obat sesuai dosis sekali minum, lalu tumbuk sendiri, atau larutkan langsung di sendok yang sudah diberi air.
alasan aku, kenapa harus numbuk sendiri, satu persatu, persekali minum, well, bisa dilihat dong, pembuatannya aja udah cpob (gak tau deh apa), terus saat obat dibuka dari bungkusnya, lalu di racik, lalu disimpan dalam kertas roti??? eh bukan kertas roti ya??? apa ngga sesuai standar keamanan tuh??? setahu aku, kalau bumbu di aduk jadi satu, trus dipisah2 dengan sendok, pasti takarannya gak sama jumlah biji cabenya, memang tidak ada alasan kalau ditumbuk satu per satu, rasa cabenya jadi seragam, tetapi, kalau memang harus puyer… kenapa pemerintah atau farmasi, menciptakan obat puyer yg memang di produksi masal, dimasukkan dalam kapsul, lalu kalau pasien mau tinggal dibuka tuh kapsul… kan jadi gak ada pengelolaan di luar arena keamanan cpob… itu sih setahu aku yah…
cos dulu, aku juga pernah minum obat puyer, tapi ibu aku, tidak meminta diracik di apotik, tetapi begitu aku harus minum obat, beliau langsung memasukkan dalam sendok yang sudah diberi air kemudian mengaduknya dengan sendok lain, lalu langsung aku minum…
gitu loh…..