<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Polemik Puyer Menegaskan Pentingnya No Pharmacist No Service</title>
	<atom:link href="http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/</link>
	<description>media berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2011 00:39:44 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: analis</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/comment-page-1/#comment-4514</link>
		<dc:creator>analis</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 11:22:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=594#comment-4514</guid>
		<description>menurut aku, puyer sah - sah aja kalau dibuat langsung sama orang tuanya, misalnya, dari apotik menyerahkan obat sesuai bentuknya dan memberikan arahan petunjuk berapa kali dan dosis untuk diminum. keluarga pasien yang menginginkan obat di racik, ambil obat sesuai dosis sekali minum, lalu tumbuk sendiri, atau larutkan langsung di sendok yang sudah diberi air.

alasan aku, kenapa harus numbuk sendiri, satu persatu, persekali minum, well, bisa dilihat dong, pembuatannya aja udah cpob (gak tau deh apa), terus saat obat dibuka dari bungkusnya, lalu di racik, lalu disimpan dalam kertas roti??? eh bukan kertas roti ya??? apa ngga sesuai standar keamanan tuh??? setahu aku, kalau bumbu di aduk jadi satu, trus dipisah2 dengan sendok, pasti takarannya gak sama jumlah biji cabenya, memang tidak ada alasan kalau ditumbuk satu per satu, rasa cabenya jadi seragam, tetapi, kalau memang harus puyer... kenapa pemerintah atau farmasi, menciptakan obat puyer yg memang di produksi masal, dimasukkan dalam kapsul, lalu kalau pasien mau tinggal dibuka tuh kapsul... kan jadi gak ada pengelolaan di luar arena keamanan cpob... itu sih setahu aku yah...

cos dulu, aku juga pernah minum obat puyer, tapi ibu aku, tidak meminta diracik di apotik, tetapi begitu aku harus minum obat, beliau langsung memasukkan dalam sendok yang sudah diberi air kemudian mengaduknya dengan sendok lain, lalu langsung aku minum...

gitu loh.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut aku, puyer sah &#8211; sah aja kalau dibuat langsung sama orang tuanya, misalnya, dari apotik menyerahkan obat sesuai bentuknya dan memberikan arahan petunjuk berapa kali dan dosis untuk diminum. keluarga pasien yang menginginkan obat di racik, ambil obat sesuai dosis sekali minum, lalu tumbuk sendiri, atau larutkan langsung di sendok yang sudah diberi air.</p>
<p>alasan aku, kenapa harus numbuk sendiri, satu persatu, persekali minum, well, bisa dilihat dong, pembuatannya aja udah cpob (gak tau deh apa), terus saat obat dibuka dari bungkusnya, lalu di racik, lalu disimpan dalam kertas roti??? eh bukan kertas roti ya??? apa ngga sesuai standar keamanan tuh??? setahu aku, kalau bumbu di aduk jadi satu, trus dipisah2 dengan sendok, pasti takarannya gak sama jumlah biji cabenya, memang tidak ada alasan kalau ditumbuk satu per satu, rasa cabenya jadi seragam, tetapi, kalau memang harus puyer&#8230; kenapa pemerintah atau farmasi, menciptakan obat puyer yg memang di produksi masal, dimasukkan dalam kapsul, lalu kalau pasien mau tinggal dibuka tuh kapsul&#8230; kan jadi gak ada pengelolaan di luar arena keamanan cpob&#8230; itu sih setahu aku yah&#8230;</p>
<p>cos dulu, aku juga pernah minum obat puyer, tapi ibu aku, tidak meminta diracik di apotik, tetapi begitu aku harus minum obat, beliau langsung memasukkan dalam sendok yang sudah diberi air kemudian mengaduknya dengan sendok lain, lalu langsung aku minum&#8230;</p>
<p>gitu loh&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agungehime</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/comment-page-1/#comment-314</link>
		<dc:creator>agungehime</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 11:24:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=594#comment-314</guid>
		<description>Idealnya memang No Pharmacist No Servise (NPNS), itu lah konsekuensi dari sebuah profesi. Farmasi termasuk profesi, sesuatu pekerjaan profesi tidak akan berjalan bila tidak ada ahlinya (apoteker). Sebuah apotek yang menjadi ujung tombak dan penanggungjawab adalah apoteker, sehingga konsep NPNS di sebuah apotek adalah suatu keharusan.

Membeli obat di warung dengan di apotek mestinya harus dibedakan. Ini mestinya khusus untuk obat bebas. Apabila masyarakat merasakan peran apoteker sebagai sumber pelayananan informasi obat, mestinya ke depan masyarakat akan menyadari untuk membeli obat ke apotek dibandingkan di warung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Idealnya memang No Pharmacist No Servise (NPNS), itu lah konsekuensi dari sebuah profesi. Farmasi termasuk profesi, sesuatu pekerjaan profesi tidak akan berjalan bila tidak ada ahlinya (apoteker). Sebuah apotek yang menjadi ujung tombak dan penanggungjawab adalah apoteker, sehingga konsep NPNS di sebuah apotek adalah suatu keharusan.</p>
<p>Membeli obat di warung dengan di apotek mestinya harus dibedakan. Ini mestinya khusus untuk obat bebas. Apabila masyarakat merasakan peran apoteker sebagai sumber pelayananan informasi obat, mestinya ke depan masyarakat akan menyadari untuk membeli obat ke apotek dibandingkan di warung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadan97</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/comment-page-1/#comment-313</link>
		<dc:creator>dadan97</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 03:09:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=594#comment-313</guid>
		<description>saya setuju dengan TATAP, tapi disesuaikan dengan sikon, seperti kata pa ferdibabd_psrb.kita semua kan tahu bahwa obat sudah ada kategorinya....jangan sampai kita menyama-ratakan kategori obat. betul kata pa ferdi, kalo hanya sekedar untuk pelayanan obat OTC, ga perlu nunggu apoteker.tapi kalo sudah berbicara resep (permintaan tertulis dokter kpd apoteker) &gt; (walaupun dlm resep itu semua obatnya kategori OTC), maka seorang apotekerlah yang harus melayani.

dan saya juga sependapat dengan solusi yang dikemukakan pa ferdi mengenai solusinya....

ayo kita jadikan apotek sebagai tempatnya apoteker mengabdi, bukan sebagai sumber penghasilan tanpa harus berkeringat. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan TATAP, tapi disesuaikan dengan sikon, seperti kata pa ferdibabd_psrb.kita semua kan tahu bahwa obat sudah ada kategorinya&#8230;.jangan sampai kita menyama-ratakan kategori obat. betul kata pa ferdi, kalo hanya sekedar untuk pelayanan obat OTC, ga perlu nunggu apoteker.tapi kalo sudah berbicara resep (permintaan tertulis dokter kpd apoteker) &gt; (walaupun dlm resep itu semua obatnya kategori OTC), maka seorang apotekerlah yang harus melayani.</p>
<p>dan saya juga sependapat dengan solusi yang dikemukakan pa ferdi mengenai solusinya&#8230;.</p>
<p>ayo kita jadikan apotek sebagai tempatnya apoteker mengabdi, bukan sebagai sumber penghasilan tanpa harus berkeringat. <img src='http://apotekkita.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Meli81</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/comment-page-1/#comment-312</link>
		<dc:creator>Meli81</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 13:07:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=594#comment-312</guid>
		<description>TATAP why not... Jelas ini harus, kalo ini kita ingin tetap eksis dan tidak dipandang sebelah mata. Melalui program TATAP ini saat kita tunjukan diri pada masyarakat bahwa apoteker itu ada!!! Kalau ada sejawat yg ga sanggup krn harus 12 jam ditempat knp ga nyari apoteker pendamping. Kasian tuh masi byk sejawat kita yg blum dpt kerja. Apalagi sejawat yg da PNS kasihlah kesempat pd yg laen.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TATAP why not&#8230; Jelas ini harus, kalo ini kita ingin tetap eksis dan tidak dipandang sebelah mata. Melalui program TATAP ini saat kita tunjukan diri pada masyarakat bahwa apoteker itu ada!!! Kalau ada sejawat yg ga sanggup krn harus 12 jam ditempat knp ga nyari apoteker pendamping. Kasian tuh masi byk sejawat kita yg blum dpt kerja. Apalagi sejawat yg da PNS kasihlah kesempat pd yg laen.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: All You Need is Love &#124; PORTAL APOTEKER &#124; indonesia</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/02/23/polemik-puyer-menegaskan-pentingnya-no-pharmacist-no-service/comment-page-1/#comment-311</link>
		<dc:creator>All You Need is Love &#124; PORTAL APOTEKER &#124; indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 01:59:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=594#comment-311</guid>
		<description>[...] no pharmacist no service menjadi sangat mendesak untuk diimplementasikan, meski kemudian sejawat Ferdi berbeda pendapat. Saya tidak bermaksud membuka polemik baru. Saya hanya ingin mengajak sejawat [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] no pharmacist no service menjadi sangat mendesak untuk diimplementasikan, meski kemudian sejawat Ferdi berbeda pendapat. Saya tidak bermaksud membuka polemik baru. Saya hanya ingin mengajak sejawat [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

